Bagaimana Islam Mengatur Hidup Bersosialisasi?

Hasil diskusi (gosip atau rumpi kayaknya ini) selama tiga jam jarak jauh (antara kota dan kabupaten :D ) membuatku tergelitik menulis sesuatu di sini.

Jadi gini,

Siapalah aku ini yang berani menulis artikel dengan mencantumkan ayat Quran? Sok benar? Sok pintar? Sok jadi perempuan shalihat? Sama sekali gak. Ini justru menjadi pengingat secara pribadi bahwa kita sebagai manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Diberi akal pikiran, perasaan, sekaligus insting. Sempurna. Melebihi hewan dan malaikat. Meski pada kenyataannya, malaikat pernah bertanya, mengapa Allah menciptakan manusia yang selalu berbuat kerusakan? Allah berfirman bahwa Dia lah yang paling mengetahui segalanya. Kurang lebih begitu ya?

Aku gak akan membahas per ayat atau per kata apalagi asbabun nuzul ayat ini turun. Tapi mencoba menarik benang merahnya dengan apa yang sedang terjadi. Setidaknya, yang kualami bersama sahabatku tersayang.

Kita buka dengan 4 ayat Quran, surah al-Hujurat: 9 – 13.

Baca lebih lanjut

Bila Sang Istri Cerewet ~ Sebuah Renungan Untuk Para Suami

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya. WallahuAlam.

Sumber : bisotisme.com


Semoga bermanfaat :)

Hukum Punya Utang Puasa Ramadhan Beberapa Tahun Belum Diqadha

Semoga bermanfaat:


Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Baca lebih lanjut

Keistimewaan Sya’ban ~ Ustadz Salim A. Fillah

‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ ‘ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab & Ramadhan.

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ ‘ban adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. (HR. Ahmad dan Nasa’i, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no 1898) ‘ban

Baca lebih lanjut

Memahami Nasionalisme ~ Akmal Sjafril

Sore ini mau ngobrol sedikit tentang .

Sudah banyak perdebatan soal , dari yang serius sampai yang konyol.

Sayangnya, belakangan ini di tanah air lebih sering dipahami secara naif.

Semasa kecil dahulu, banyak film-film perjuangan yang sering diputar di TV. Semua paham apa itu .

Jika Indonesia diserang, maka kita akan membelanya dengan harta dan jiwa. Itulah .

Ingin tahu ? Dengarkan dari ahlinya! >>

Dibuka dengan Basmalah, kemudian teriakan “Merdeka!”. Itulah .

Diawali dengan Basmalah, diakhiri dengan takbir. Kita, umat Muslim, paham apa itu .

Para ulama menyerukan ‘Resolusi Jihad’ utk mengawal kemerdekaan. Kita paham betul apa itu  -> http://inpasonline.com/new/resolusi-jihad-mengawal-kemerdekaan/

Sayangnya, sekarang film-film perjuangan sudah teramat jarang diputar.

Pidato Bung Tomo jarang ada yang mendengar. Pernah diputar, tapi takbirnya dihilangkan.

Sekarang, banyak orang tak paham lagi apa itu . Atau memahami dengan cara yang keliru.

, misalnya, dipahami melalui atribut semata, itu pun secara inkonsisten.

Misalnya, ada yang begitu bencinya dengan sorban dan jubah. Katanya, itu pakaian Arab, bukan Indonesia.

Pakaian Arab? Betulkah?

Pangeran Diponegoro

Sampai sekarang yang berhijab pun masih disindir-sindir juga. Lagi-lagi, isunya adalah Arabisasi. #Nasionalisme

Ini foto Buya Hamka dan istrinya, sekitar 90 tahun yang lalu. #Nasionalisme

Buya Hamka dan istri.

Ini foto Rahmah El-Yunusiyah, usianya sedikit lebih tua daripada Buya Hamka.  

Apakah para pembenci hijab ini lebih paham ketimbang yang berhijab?

Apakah dengan membenci hijab maka ia lebih paham ?

Orang seenaknya saja mengatakan sorban sebagai Arabisasi, tapi jas ala Barat tidak dianggap Westernisasi.

Bandingkan dengan negara-negara jiran yang dengan bangga mengenakan pakaian Melayu. Kita?

Sering diceritakan kisah tentang kontes kecantikan dunia. Peserta dari tanah air, konon, telah mengharumkan nama bangsa.

Apa iya? Bagaimana keikutsertaan dalam sebuah kontes kecantikan bisa mengharumkan nama bangsa?

Bagaimana berlenggak-lenggok di panggung dan menjawab beberapa pertanyaan mudah bisa memajukan negeri?

Parahnya lagi, ada orang-orang yang pemikirannya merusak namun justru merasa nasionalis.

Ketika Palestina atau negeri lain butuh bantuan, ia tidak peduli.

Komentarnya, “Di Indonesia pun banyak masalah! Kenapa jauh-jauh mengurusi Palestina?”

Apa kita harus bebas dari masalah dulu baru menolong orang? Ini masalah keluhuran budi.

Padahal, ketika Indonesia baru merdeka, negara-negara lain pun menolong semampunya.

Apakah negara-negara itu semuanya ‘bebas masalah’ ketika mengulurkan tangan? Tentu tidak!

Apa yang bisa dibanggakan dari negeri kita jika kita menutup mata dari penderitaan orang?

-kah ini? Apa bedanya dengan fanatisme buta, atau bahkan bibit-bibit fasisme?

Semestinya kita berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bangga kepada bangsa kita jika telah menebar banyak kebaikan.

Tapi yang kita banggakan kini hanya hal-hal kosong tak bermakna, tak membawa manfaat bagi sesama.

Bahkan kaum Rohingya yang dibantai di negerinya dan terkatung-katung di lautan pun kita abaikan. Inikah ?

Sementara itu kita sibuk mengutak-atik bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan langgam negeri, melabrak tajwid. Inikah ?

Jika kita tidak lagi berorientasi pada kebaikan dan keluhuran budi, bagaimana menjelaskan kepada generasi penerus?

Semoga kita tidak terjebak dalam palsu yang tidak membawa kebaikan. Aamiin…

Ashabiyah (Fanatisme Golongan) ~ Akmal Sjafril

Mengisi waktu dalam perjalanan, mau ngobrol sedikit tentang fenomena alias fanatisme golongan.

Yang namanya memang macam-macam. Tapi di sini saya batasi dengan konteks fanatisme kebangsaan.

Kalau sudah disebut tentu telah jauh melampaui cinta tanah air yang wajar.

Artinya, cinta tanah air itu fitrah. Tapi kalau berlebihan ya jadinya.

Kalau pergi merantau lalu kangen kampung halaman, itu cinta tanah air. Bukan .

Yang salah itu jika mengira bangsanya lebih unggul daripada bangsa-bangsa lain hanya karena beda negeri. Inilah .

Setiap manusia dibedakan di hadapan Allah berdasarkan ketaqwaannya, bukan karena suku bangsanya.

Orang Indonesia tidak lebih baik dan tidak lebih buruk daripada bangsa lain. Suku-suku di Indonesia pun semuanya sama.

Bangsa Arab tidak lebih mulia daripada selainnya, tapi juga tidak lebih hina daripada siapa pun.

Qur’an memang menggunakan bahasa Arab, tapi ini semua karena rencana Allah, bukan karena kehebatan bangsa Arab.

Bangsa Arab dimuliakan dengan kehadiran Nabi Muhammad saw. Di sisi lain, Musailamah sang nabi palsu juga dari Arab.

Dalam kajian bersama ust. Asep Sobari semalam, saya mencatat satu hal penting seputar .

Kajian semalam membahas sebagian isi buku karya Syaikh Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi yang satu ini.

Ada yang belum kenal beliau? Ini secuplik pemikirannya :)  

Dalam bukunya, Syaikh an-Nadwi menganalisis kejayaan dan kerusakan peradaban Islam.

Menurut beliau, ada 4 alasan mengapa Islam pernah berjaya dan memimpin dunia.

Pertama, karena peradaban Islam tidak hanya bersandar pada rasio saja, melainkan wahyu Allah.

Kedua, karena peradaban Islam memimpin dengan akhlaq yang baik, bukan akhlaq jahil.

Ketiga, karena Islam tidak memelihara . Umatnya tidak berjuang untuk satu bangsa saja.

Keempat, karena Islam mengajarkan keseimbangan dalam hidup.

Poin ketiga tadi berkaitan langsung dengan .

Peradaban-peradaban besar sebelum dan sesudah Islam semuanya terjangkit penyakit .

Mereka menjadi besar dengan egonya sendiri, melibas dan memperbudak bangsa-bangsa yang lain.

Pada akhirnya, bangsa penakluk sehebat apa pun akan bertemu dengan antiklimaksnya.

Banyak bangsa-bangsa besar hancur karena digempur oleh bangsa-bangsa yang dulu diperbudaknya. Maka lenyaplah mereka.

Islam datang melenyapkan ini. Manusia dihimpun dengan persaudaraan yang sejati, bukan fanatisme kebangsaan.

Oleh karena itu, ketika Islam menguasai suatu daerah, maka penduduk lokal daerah tersebut tidak terzalimi.

Ketika pasukan Islam menguasai Khaibar, penduduknya yang beragama Yahudi boleh tetap tinggal dan mengolah lahan.

Oleh karen itu, sering kita jumpai orang-orang/kafir yang tentram dengan kepemimpinan Islam.

Jika demikian baiknya perlakuan terhadap orang kafir, apalagi dengan sesama Muslim?

Jika seseorang telah memeluk Islam, maka status kebangsaannya menjadi tidak begitu relevan. Muslim ya Muslim.

Kita tidak membedakan manusia berdasarkan bangsa, sebab manusia hanya beda karena ketaqwaannya.

Oleh karena itu, kasih sayang sesama Muslim sangat ‘luas’, tidak dibatasi oleh wilayah geografis.

Inilah kemuliaan manusia, sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Sayangnya, di antara umat Muslim pun ada yang berusaha mencampakkan kemuliaan tersebut. Mereka justru mengajak kembali kepada .

Ketika manusia dizhalimi di belahan dunia lain, ia merasa itu bukan urusannya. Padahal kita sama-sama anak Adam as.

Ketika orang Palestina dizhalimi, ia pura-pura tidak tahu. Alasannya: masalah di Indonesia masih banyak!

Pdhal ketika ada musibah di sini, bantuan dari Palestina datang mengalir. Apa masalah di Palestina kurang banyak?

Islam mengajari kita berbagi, apa pun keadaannya. Ini bukan soal harta di genggaman, tapi soal suara di dalam hati.

Kita tidak menunggu kenyang sebelum memberi makan orang lain. Kita berbagi makan, biarpun sedikit!

membuat manusia lebih buas daripada hewan buas. Dunianya sempit karena hatinya sempit.

Hewan buas tidak makan melebihi kebutuhan. Tapi manusia biasa melampaui batas.

Hewan buas tidak ganggu hewan lain jika sudah kenyang. Tapi manusia (semestinya) bisa berbagi meski masih lapar.

Mungkin banyak orang menyangka bahwa  membuat bangsanya kelihatan lebih perkasa. Faktanya, yang terlihat hanya kebengisan.

Masihkah kita berbangga dengan bangsa sendiri sambil melupakan sumber kemuliaan yang sesungguhnya, yaitu ketaqwaan?

Masihkah kita mau dipecah-belah dengan sebutan: “Islam Arab”, “Islam Indonesia” dan lain-lain? Padahal Islam telah mempersatukan kita?

Sungguh relakah kita menanggalkan kemuliaan kita menuju kebuasan yang lebih buas daripada hewan buas?

Semoga Allah mengampuni kaum Muslimin dan Mu’minin, di mana pun mereka berada, di zaman apa pun mereka hidup.

Semoga Allah persatukan hati mereka yang telah berpecah-belah, dan kita tidak termasuk yang memecah-belah. Aamiin…

#KisahLalat ~ Sebuah Hikmah Iman

Dirangkum dari twitter Dompet Dhuafa, semoga bermanfaat ;)

=-=-=-=

Assalamu’alaikum sahabat. kami akan berbagi kisah tentang Masuk Neraka Selama-lamanya Karena Seekor Lalat

Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya yang berjudul Az Zuhud, menuliskan sebuah riwayat yang sampai kepada shahabat Salman Al Farisi.

Rasulullah SAW bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat & ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.”

Mereka, para sahabat, bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”

“Ada dua orang lelaki,” jawab Rasulullah, “yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala.”

Tak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut.

Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah!”

Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.”

Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat!”

Ia pun berkorban seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat & meneruskan perjalanan. Karena itulah ia masuk neraka.

Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah!”

Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.”

Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.

Demikianlah keadaan dua orang manusia yang nasibnya berbeda

karena salah satunya berujung di neraka selama-lamanya, dan yang lainnya berujung di surga selama-lamanya

Padahal, keduanya sebelumnya adalah sama-sama seorang Muslim.

Manusia, seringkali menganggap remeh masalah bahaya syirik. Padahal seseorang bisa saja terjerumus dalam kesyirikan

Sedangkan ia tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut syirik yang menyebabkan dia terjerumus dalam neraka nantinya.

Oleh karena itu, sahabat Anas berpitawat, “Kalian mengamalkan suatu amalan yang disangka ringan, namun….

…kami yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai suatu petaka yang amat besar.”

=-=-=-=-=-=-=

waullahu’alam. :)