Sampah Ramadhan, Ketika Kita Menjadi Kalap

Ramadhan seharusnya hanya menjadi ajang penyerahan diri kepada Allah secara utuh. Bulan penuh rahmat yang dirindukan seluruh umat Islam yang beriman. Bukankah sesuai dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. QS. al-Baqarah : 183.

Ya, shaum Ramadhan hanya ditujukan kepada kaum beriman. Bila ada orang yang mengaku ummat Rasulullah dan mengaku beriman, hendaknya beribadah sesuai yang diajarkan beliau. Tak kurang, tak lebih. Termasuk dalam pelaksanaan keseluruhan rangkaian selama 30 hari. Sejak sahur sampai sahur lagi alias 24 jam.

Baca lebih lanjut

Bagaimana Islam Mengatur Hidup Bersosialisasi?

Hasil diskusi (gosip atau rumpi kayaknya ini) selama tiga jam jarak jauh (antara kota dan kabupaten :D ) membuatku tergelitik menulis sesuatu di sini.

Jadi gini,

Siapalah aku ini yang berani menulis artikel dengan mencantumkan ayat Quran? Sok benar? Sok pintar? Sok jadi perempuan shalihat? Sama sekali gak. Ini justru menjadi pengingat secara pribadi bahwa kita sebagai manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Diberi akal pikiran, perasaan, sekaligus insting. Sempurna. Melebihi hewan dan malaikat. Meski pada kenyataannya, malaikat pernah bertanya, mengapa Allah menciptakan manusia yang selalu berbuat kerusakan? Allah berfirman bahwa Dia lah yang paling mengetahui segalanya. Kurang lebih begitu ya?

Aku gak akan membahas per ayat atau per kata apalagi asbabun nuzul ayat ini turun. Tapi mencoba menarik benang merahnya dengan apa yang sedang terjadi. Setidaknya, yang kualami bersama sahabatku tersayang.

Kita buka dengan 4 ayat Quran, surah al-Hujurat: 9 – 13.

Baca lebih lanjut

Bila Sang Istri Cerewet ~ Sebuah Renungan Untuk Para Suami

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya. WallahuAlam.

Sumber : bisotisme.com


Semoga bermanfaat :)

Hukum Punya Utang Puasa Ramadhan Beberapa Tahun Belum Diqadha

Semoga bermanfaat:


Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Baca lebih lanjut

Keistimewaan Sya’ban ~ Ustadz Salim A. Fillah

‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ ‘ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab & Ramadhan.

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ ‘ban adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. (HR. Ahmad dan Nasa’i, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no 1898) ‘ban

Baca lebih lanjut

Memahami Nasionalisme ~ Akmal Sjafril

Sore ini mau ngobrol sedikit tentang .

Sudah banyak perdebatan soal , dari yang serius sampai yang konyol.

Sayangnya, belakangan ini di tanah air lebih sering dipahami secara naif.

Semasa kecil dahulu, banyak film-film perjuangan yang sering diputar di TV. Semua paham apa itu .

Jika Indonesia diserang, maka kita akan membelanya dengan harta dan jiwa. Itulah .

Ingin tahu ? Dengarkan dari ahlinya! >>

Dibuka dengan Basmalah, kemudian teriakan “Merdeka!”. Itulah .

Diawali dengan Basmalah, diakhiri dengan takbir. Kita, umat Muslim, paham apa itu .

Para ulama menyerukan ‘Resolusi Jihad’ utk mengawal kemerdekaan. Kita paham betul apa itu  -> http://inpasonline.com/new/resolusi-jihad-mengawal-kemerdekaan/

Sayangnya, sekarang film-film perjuangan sudah teramat jarang diputar.

Pidato Bung Tomo jarang ada yang mendengar. Pernah diputar, tapi takbirnya dihilangkan.

Sekarang, banyak orang tak paham lagi apa itu . Atau memahami dengan cara yang keliru.

, misalnya, dipahami melalui atribut semata, itu pun secara inkonsisten.

Misalnya, ada yang begitu bencinya dengan sorban dan jubah. Katanya, itu pakaian Arab, bukan Indonesia.

Pakaian Arab? Betulkah?

Pangeran Diponegoro

Sampai sekarang yang berhijab pun masih disindir-sindir juga. Lagi-lagi, isunya adalah Arabisasi. #Nasionalisme

Ini foto Buya Hamka dan istrinya, sekitar 90 tahun yang lalu. #Nasionalisme

Buya Hamka dan istri.

Ini foto Rahmah El-Yunusiyah, usianya sedikit lebih tua daripada Buya Hamka.  

Apakah para pembenci hijab ini lebih paham ketimbang yang berhijab?

Apakah dengan membenci hijab maka ia lebih paham ?

Orang seenaknya saja mengatakan sorban sebagai Arabisasi, tapi jas ala Barat tidak dianggap Westernisasi.

Bandingkan dengan negara-negara jiran yang dengan bangga mengenakan pakaian Melayu. Kita?

Sering diceritakan kisah tentang kontes kecantikan dunia. Peserta dari tanah air, konon, telah mengharumkan nama bangsa.

Apa iya? Bagaimana keikutsertaan dalam sebuah kontes kecantikan bisa mengharumkan nama bangsa?

Bagaimana berlenggak-lenggok di panggung dan menjawab beberapa pertanyaan mudah bisa memajukan negeri?

Parahnya lagi, ada orang-orang yang pemikirannya merusak namun justru merasa nasionalis.

Ketika Palestina atau negeri lain butuh bantuan, ia tidak peduli.

Komentarnya, “Di Indonesia pun banyak masalah! Kenapa jauh-jauh mengurusi Palestina?”

Apa kita harus bebas dari masalah dulu baru menolong orang? Ini masalah keluhuran budi.

Padahal, ketika Indonesia baru merdeka, negara-negara lain pun menolong semampunya.

Apakah negara-negara itu semuanya ‘bebas masalah’ ketika mengulurkan tangan? Tentu tidak!

Apa yang bisa dibanggakan dari negeri kita jika kita menutup mata dari penderitaan orang?

-kah ini? Apa bedanya dengan fanatisme buta, atau bahkan bibit-bibit fasisme?

Semestinya kita berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bangga kepada bangsa kita jika telah menebar banyak kebaikan.

Tapi yang kita banggakan kini hanya hal-hal kosong tak bermakna, tak membawa manfaat bagi sesama.

Bahkan kaum Rohingya yang dibantai di negerinya dan terkatung-katung di lautan pun kita abaikan. Inikah ?

Sementara itu kita sibuk mengutak-atik bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan langgam negeri, melabrak tajwid. Inikah ?

Jika kita tidak lagi berorientasi pada kebaikan dan keluhuran budi, bagaimana menjelaskan kepada generasi penerus?

Semoga kita tidak terjebak dalam palsu yang tidak membawa kebaikan. Aamiin…