Teh Talua dan Lelaki Minang

DISCLAIMER : untuk beberapa kalimat akan ada penyuntingan agar lebih nyaman dibaca (terutama untuk aku pribadi😀 ) sumber tulisan tetap tercantum. No worry.


teh talua 3

  1. Sumber tulisan –> SINI

Teh talua, sebuah minuman yang tidak asing bagi masyarakat Minangkabau. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah teh telur, artinya campuran telur mentah dengan teh. Mungkin, anda akan bergidik geli sembari menyerukan ‘Nggak amis, apa?’.

Namun kesampingkan dulu pertanyaan tersebut, sebab teh talua adalah campuran gula dan kuning telur ayam kampung dikocok sampai berbusa putih, lalu ditambah dengan larutan teh panas dan terakhir diberi susu kental.

Tampilan teh talua jika dalam gelas bening memiliki estetika yang cantik dengan tiga tingkat bagian warna. Tingkatan paling bawah berwarna putih yang merupakan tumpukan susu kental, tingkatan bawah berwarna kecokelatan yang merupakan campuran larutan teh, tingkatan paling atas merupakan gumpalan busa hasil kocokan. Sekilas minuman ini mirip dengan Cappucino ataupun teh tarik.

Biasanya, gelas kecil yang berisikan teh talua dialas dengan piring kecil yang disampingnya diberi potongan jeruk nipis. Potongan jeruk nipis penambah untuk kesegaran rasa teh talua itu sendiri. Tidak itu saja, sendok aluminium kecil diletakkan sebagai teman untuk mengaduk minuman tersebut. Aduklah yang tepat dan lalu teguk, rasakan sensasinya.

Baiklah, tinggalkan dulu kenikmatannya, kita bicara arti teh talua bagi lelaki Minangkabau.

Sama halnya kopi bagi kebanyakan orang, yaitu teman yang asyik dalam diskusi atau obrolan, begitu juga arti teh talua bagi banyak lelaki Minang. Tak lengkap rasanya menikmati obrolan tanpa teh talua dihadapan mereka.

Biasanya, teh talua dinikmati pada pagi hari ataupun malam hari. Saat pagi hari, menikmati sarapan di lapau, warung makan, bersama lontong sayur sembari menciptakan obrolan bersama, teh talua kawan yang tepat. Begitu juga saat malam hari, beberapa lapau atau rumah makan di Sumatera Barat selalu ramai diisi oleh kaum lelaki usai seharian sibuk mencari rezeki. Obrolan mengenai bola, politik, dan gosip sekitar kampung menjadi topik yang sangat disukai.

Teh talua diyakini sebagai penambah stamina. Maka itu dulunya di pagi hari, petani sebelum berangkat ke sawah atau ladang mereka menikmati teh talua terlebih dahulu, agar stamina mereka tetap terjaga dalam bekerja.

Namun, dalam sejarahnya, teh talua juga dikenal sebagai minuman bergengsi yang sering dinikmati oleh kaum borjuis. Sekarang pun, banyak pengusaha Minang maupun pejabat Minang, memilih minuman tersebut dalam pertemuan mereka saat menyinggahi rumah makan atau restoran Minang.

Penikmat teh talua tidak hanya datang dari kaum tua lelaki Minang, tapi juga dari kaum mudanya.

Hal itu diakui oleh Ultra (23), mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri di Padang ini mengatakan, mengobrol sambil menghabiskan waktu bersama teman-teman kampusnya tak lengkap jika tidak ditemani teh talua. “Kalau ke lapau sama teman kampus, selalu pesan teh talua. Kadang, nikmati teh talua sambil main koa,”

Lain lagi dengan Filtra (21), mahasiswa salah satu universitas swasta di kota Padang ini mengaku, menikmati teh talua saat banyak tugas kuliah yang memaksanya begadang, “Lumayan untuk nambah stamina,” ujarnya saat dihubungi melalui merdeka.com melalui telepon, Jumat (23/5).

Baiklah, penasaran dengan sensasi minuman yang sekilas mirip Cappucino ataupun teh tarik ini, maka jaga lewatkan untuk mencobanya jika mendapat kesempatan untuk mengunjungi ranah Minang.

Namun, jika ingin bersusah, bisa dibuat sendiri di rumah atau mencari rumah makan Padang yang menyediakan menu minuman tersebut.

Minuman ini dapat dinikmati untuk seluruh kalangan, meski umumnya kebanyakan lelaki yang meminumnya. Namun perlu diingat, untuk orang yang memiliki tekanan darah tinggi, dianjurkan jangan banyak mengonsumsi minuman ini.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

teh talua 1

  1. Sumber tulisan dari sebelah SINI

21 Juli 1969. Neil Alden Armstrong perlahan turun dari Apollo 11. Bendera Amerika dalam genggaman erat. Di anak tangga terakhir Neil berhenti, hatinya bergemuruh, tak menyangka selangkah lagi ia akan memijak permukaan bulan. Dari dalam helm besar astronotnya, Komandan Misi Pendaratan ke Bulan itu menyimak suara-suara dari bumi yang berjarak 384.403 km darinya. Tampaknya mereka sudah tak sabar menanti komentar Neil.

“Neil, bagaimana kondisi di Bulan? Apa yang kau rasakan Neil? Ayolah, ceritakan semua pada kami. ”

Neil memilih diam. Ia sadar, beberapa detik lagi ia akan menjadi manusia pertama yang mendarat di Bulan. Sungguh membanggakan. Otak Neil berputar, mencari kata-kata tepat, yang dapat menggugah semangat. Sejarah dunia akan mencatat semua yang terlontar dari bibirnya. Neil menarik nafas dalam, menghirup oksigen dalam space suit-nya. Ia pejamkan mata. Sejurus kemudian dia sudah menemukan kata-kata itu,

One small step for man, one giant leap for mankind’, gumamnya dalam hati, membuka mata, kemudian melangkah mantap ke permukaan bulan yang kasar.

Namun Neil urung mengucapkan kalimat yang telah disiapkannya itu. Tiba-tiba saja, hidungnya menangkap aroma sedap. Menggugah rasa lapar. Ia celingukan, mencari-cari dari mana sumber aroma itu. Betapa kagetnya Neil, ketika mendapatkan sebuah bangunan bergonjong serupa tanduk kerbau yang tegak berdiri tak jauh darinya.

Astronot Amerika itu terpana lama, mulutnya menganga lebar. Ia shock mengetahui sudah ada orang di bulan. Ia amati benar gedung bergonjong itu dengan dahi berkerut. Piring-piring berisi aneka penganan tersusun rapi di sebalik kaca. Dari sana rupanya aroma sedap itu berasal. Makin penasaran, Neil melempar pandang pada sebuah papan besar yang terpampang di depan bangunan itu. Dibacanya pelan-pelan huruf yang tertera di sana,

“RU…MAH MA..KAN PA..DANG”, sebut Neil terbata-bata.


Ya, itulah anekdot tentang menjamurnya Rumah Makan Padang, sampai-sampai di bulan pun sudah ada. Artinya, menemukan Rumah Makan Padang di muka bumi ini begitu mudah. Macam ragam hidangan lazim disajikan, seperti Sate Padang, Gulai Paku, Dendeng Balado, Gulai Tunjang, Dendeng Batokok, Ikan Balado, Kalio Dagiang, Taruang Balado, Gulai Itiak Lado Mudo, Gulai Cubadak, Ayam Balado, Gulai Jariang dan tentu saja sang jawara dunia: Rendang.

Mengenai Rendang ini, bangsa Indonesia boleh berbangga hati. Survey CNN pada 7 September 2011 , menempatkan sang primadona tersebut di urutan pertama sebagai makanan paling lezat di dunia. Rendang mengalahkan berderet masakan unggulan sejumlah Negara, sebut saja; Sushi (Jepang), Massaman Curry (Thailand), Dim Sum (Hongkong), Peking Duck (China), Lagsana (Italia), Kinchi (Korea), Chicken Rice (Singapura), Ice Cream (Amerika Serikat), Kebab (Turki), Croissant (Perancis), Fish ‘n Chips (Inggris), Penang Asam Laksa (Malaysia). Semua KO oleh Rendang yang asli Indonesia ini.

Namun tahukah Anda, bahwa masakan Padang tak selalu identik bercitarasa pedas dan gurih dengan aneka bumbu kaya rempah. Masih ada segudang kuliner asli urang awak yang unik, kental, manis dan sukar ditemui selain di tanah Minangkabau. Salah satunya adalah Teh Talua.

Teh Talua atau Teh telur adalah minuman penambah stamina yang terbuat dari bahan utama teh dan telur. Wujudnya menarik, seperti Cappuccino dengan buih tebal di lapisan atasnya. Menyusul lapisan berikutnya cairan kental berwarna coklat tua, lalu coklat muda berada paling bawah. Mengenai lapisan warna ini, bisa dibuat bertingkat-tingkat, tergantung tingkat kemahiran sang pembuat teh telur. Itulah sebabnya, dalam ajang lomba pembuatan minuman unik ini, warna bertingkat ini jadi salah satu indikator penilaian.

Konon, minuman yang berasa kelat, hangat, manis, plus nendang ini mulanya merupakan energy drink para petani dan nelayan Minang di pagi hari. Dinikmati sebelum berangkat kerja. Tujuannya demi menjaga kebugaran dan menambah energi mereka. Dan kini, teh telur naik kelas, ia digemari semua kalangan. Ia menjelma menjadi minuman segala profesi, golongan, usia dan gender. Energy drink-nya urang awak ini, seperti tokoh idola yang diincar tak kenal waktu.

Namun demikian, waktu yang paling pas saat minum energy drink ini adalah di pagi hari. Sebagai kawan sarapan Goreng Pisang, Ketupat Gulai, atau Nasi Goreng. Biasanya kaum bapak di Ranah Minang ini, juga menyesap Teh Telur di malam hari, sebagai “obat kuat” begadang sembari bermain domino atau sekedar berdiskusi lepas di lapau-lapau.

Benar, lapau atau kedai atau warung adalah tempat paling mudah menemukan Teh Telur. Tinggal masuk lapau, duduk seraya berteriak, “Teh Talua ciek!” maka tak berselang lama, segelas Teh Talua yang meruap-ruap terhidang di meja Anda, siap untuk dinikmati. Harganya pun cukup terjangkau, hanya berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp.10.000. Makin mahal harganya, bersebab dari bahan tambahan racikan teh ini, seperti ditambah madu, susu, pinang muda, atau jenis telur itik yang lebih mahal dari telur ayam kampung.

Kendati begitu mudah diperoleh di bumi Minang, namun Teh Telur sukar ditemukan di luar Sumatera Barat. Di Rumah Makan Padang yang ada di perantauan, belum tentu Teh Telur masuk dalam daftar menu. Pernah saya, semasa kuliah dulu, praktik lapangan ke Yogyakarta. Di sebuah Rumah Makan Padang di Jalan Kaliurang, saya singgah. Karena kangen dengan minuman ini, saya langsung memesan Teh Telur. Sang pelayan sempat mengernyitkan dahi, tapi sejurus kemudian mengangguk-angguk seperti paham. Eh… tak berapa lama ia datang sembari menyuguhkan segelas teh manis hangat dan … sebutir telur.

“Ini Mas, teh telurnya,” kata pelayan itu polos.

Sakit perut saya menahan tawa, khawatir nanti dia tersinggung. Akhirnya saya coba saja menikmati Teh Talua ala Yogyakarta tersebut.

Minuman khas urang awak ini tak menguras saku, berkhasiat menambah energi ekstra dan yang paling penting, Teh Talua praktis alias mudah dibuat.

Cara membuat Teh Talua, hanya perlu menyiapkan bahan dan perlengkapan yang lumrah ada di dapur, seperti ; teh bubuk berikut saringan tehnya, sebutir telur ayam kampung (boleh juga telur itik atau bebek) yang diambil bagian kuningnya saja, dua sendok makan gula pasir, gelas, sendok atau pengocok telur, setengah buah jeruk nipis, dan air panas.

Pertama-tama, masukkan kuning telur dan dua sendok gula pasir dalam gelas. Ambil sendok, kocok gula dan telur sampai mengembang atau selama 3-5 menit. Setelah itu, masukkan teh bubuk dalam saringan, letakkan di atas gelas. Tuangkan air panas perlahan ke atas saringan teh, hingga memenuhi gelas. Teh Talua siap untuk dinikmati. Bagi yang menyukai rasa segar, dapat menambahkan perasan jeruk nipis. Sebagian lapau, menambahkan susu kental manis, atau madu dan ada juga yang menambahkan pinang muda. Hmm.. Lamak bana.

Bagaimana? Cukup mudah bukan, membuat energy drink ala urang awak ini? So, tunggu apalagi? Let’s do it guys, It’s Teh Talua Time

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

teh talua 2

  1. Sumber tulisan asli bisa lihat di SINI

Teh talua adalah minuman khas Minangkabau yang rasanya sangat khas dan enak. Rata-rata orang Minangkabau tahu dengan minuman khas ini. Minuman ini dibuat dengan cara kuning telur ayam kampung (Buras) diaduk sampai berbusa bersama gula pasir di dalam gelas, setelah itu diseduh dengan air larutan teh panas/mendidih dan diberi susu kental manis.

Teh talua yang berkualitas tinggi itu berbentuk 3 (tiga) lenggek (tinggkat/lapis) di dalam gelas. Lenggek pertama buriah, lenggek kedua berwarna coklatan, dan yang lenggek terakhir warna putih. Apabila sendok almunium diletakkan di tengahnya maka sendok itu akan berdiri/tegak menjulang. Disamping rasanya enak, teh talua dari ranah Minang juga memberikan khasiat untuk menambah energi dan vitalitas.

Talua tentu artinya telur. Teh talua umum ditemukan di lapau-lapau (kedai) ranah Minang. Biasanya minuman ini dinikmati sebagai pembuka hari atau di minum pagi hari sebelum masyarakat Minang melakukan aktivitas seperti ke sawah dan ladang. Tapi bisa juga diminum setiap waktu atau menikmatinya kapan saja.

Dalam sejarah masyarakat Minangkabau, minum teh talua dilakukan oleh masyarakat sambil “ma hota” (diskusi/becerita) di lapau-lapau (kedai-kedai), sambil berbagi informasi dan saling berdebat tentang perkembangan, keadaan atau peristiwa nagari, negara dan situasi dunia secara umum.  “Ma hota” sambil meminum teh talua sedikit demi sedikit, maka akan semakin terasa nikmatnya.

Dalam pengamatan yang pernah dilakukan oleh pencinta teh talua bahwa nikmatnya teh talua tersebut memang di iringin dengan “ma hota”. Sebuah cara yang baik untuk merasakan nikmatnya minuman khas Minang ini. Apabila di antara kita tidak percaya silakan minum teh talua tanpa “ma hota” dan  bandingkan dengan minum teh talua sambil “ma hota”, pasti akan beda rasanya.

Di Minangkabau, teh talua merupakan minuman bergengsi dan berkelas/borjuis. Misalnya ada pejabat, saudagar kaya, juragan, pengusaha, dan para perantau kaya pulang lalu singgah di lapau, dipastikan mereka akan pesan teh talua. Mereka pun akan menawarkan kepada orang lain yang ada di lapau untuk minum teh talua. Itulah salah satu sebab teh talua merupakan minuman berbudaya orang-orang bergengsi. Sekarang teh talua sudah menjadi minuman bersama di Nusatara ini. Teh talua melalui rantau orang Minang sudah menyebar ke polosok tanah air dan dunia.

Melihat semakin terkenalnya teh talua ini, penulis selaku orang Minang mengajak warga Minang di kampung dan di perantauan, untuk selalu membudayakan minuman ini. Budaya teh talua perlu dilestarikan ke anak cucu. Kepada pemerintah daerah diharapkan sesegera mungkin mematenkan minuman budaya teh talua yang khas ini menjadi minuman khusus dari Minangkabau atau Propinsi Sumatra Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s