Memahami Lelaki Minang dengan Sederhana

Ada yang menarik dari adat Minangkabau sehingga dari kecil aku punya obsesi akan memelajari tentang adatnya meski mungkin tak akan sampai khatam atau paham total. Efek membaca buku “Sitti Nurbaia” yang dilanjutkan dengan filmnya di TVRI dan film “Sengsara Membawa Nikmat” pun membuatku semakin penasaran. Meski tak begitu peduli dengan sekitar, aku memendam saja keinginan  untuk mencari tahu tentang Minangkabau. Satu hal yang paling kusuka adalah saat lebaran tiba, Rendang Padang ala almarhumah Mama tersaji endang bambang makyus lekker di atas meja.😛

Hasil googling dan membaca buku tentang adat Minangkabau yang baru kutelusuri secara intensif selama hampir dua tahun belum memuaskan rasa penasaran. Terutama tentang posisi dan nasib para lelakinya. Memiliki kakak ipar asli Minangkabau pun belum menuntaskan rasa mengerti. Bahkan, karena dari kecil diajarkan untuk memanggil kedua ipar tersebut dengan sebutan “Mas”, nyaris aku lupa bahwa mereka orang Minangkabau, bukan Jawa. Mungkin karena Bapak dari Madura, mengajarkannya demikian. Harusnya aku memanggil “Uda Uncu” dan “Uda Irwan”. Tetapi mereka sendiri ternyata tak memusingkan penyebutan panggilan itu. Bahkan mereka sendiri yang selalu menyebut “Mas” ketika berbincang denganku sedari kecil.

Itu baru urusan panggilan. Dari zaman sekolah, aku juga sudah dijejali pemahaman tentang adat Minangkabau yang menganut garis matrialineal. Ada semacam bingung bagi diri yang besar dalam adat Sunda-Madura. Bagaimana mungkin pihak perempuan yang mempunyai kendali kehidupan? Meski membaca materi ajar sekolah dan bertanya sedikit pada Mama, tak tuntas juga bingungku. Lucunya lagi, hingga detik ini aku tak pernah bertanya pada iparku😀 *parah kan?

Eniwei baswei, interupsi. Orang Minang dengan orang Padang itu beda lho. Aku pun baru menyadarinya bertahun kemudian ketika berbincang dengan temanku yang asli Pariaman. “Padang kan ibukota Sumatra Barat. Padang itu daerah. Sama seperti Pariaman, Solok, Bukittinggi. Begitu loh! Tapi kalau Minangkabau ya, itu nama salah satu suku di Indonesia, kan? Nah sama seperti lu ditanya apakah lu orang Bandung atau orang Sunda. Begitu aja membedakannya.” Hooooo…..

Nah, sedikit penelusuranku tentang lelaki Minang adalah seperti ini:

Dari sudut pandang patrialineal, status kaum lelaki di Minangkabau itu menyedihkan. Tapi, bagaimanakah hal itu dapat diterima oleh orang Minangkabau sendiri tanpa protes? Buktinya, hingga saat ini belum ada perubahan yang signifikan. Kalau pun terjadi anak-anak suku Minang menerima warisan dari orangtuanya, sudah barang tentu harta warisan itu tidak berasal dari warisan turun-temurun (pusaka tinggi), melainkan harta yang berasal dari tetes keringat orangtuanya sendiri atau yang disebut dengan pusaka rendah.

Begitu disebutkan dalam tulisan Dendam Kultural Lelaki Minang ini.

Peranan atau kedudukan laki-laki di negeri (Minang) yang mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi mene­rapkan sistem-hukum kekera­batan matrilineal ini memang rada-rada sulit dan mengam­bang. Sebagai seorang suami umpamanya, dia adalah pe­mim­pin, tulang punggung atau kepala keluarga yang menyan­dang kewajiban lahir batin atas istri serta anak-anaknya. Namun konkretnya, dia seolah-olah tidak berada di posisi yang selayak dan sebenarnya itu.

Lelaki Minang yang sudah menikah akan tinggal di rumah istrinya. Dan menurut kebi­asaan, di sana dia tak ubahnya seperti seorang penyewa kamar penginapan, di mana sang istri berfungsi selaku pelayan me­rangkap pemilik yang, anehnya, tidak tahu-menahu urusan penginapan yang diatur dan diselenggarakan oleh kaum kerabatnya yang laki-laki, yang besar kemungkinan hanya mengharapkan laba berupa materi.

Dikutip dari Harian Haluan.

Aku juga membaca salah satu buku yang menjadi rujukan dalam pengetahuan adat Minangkabau yaitu “Adat Minangkabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang” karya Amir M.S, 2003. Ternyata, buku ini ditulis oleh ayahnya temanku! Jiah, sepuluh tahun lebih, aku baru mengetahuinya. Ck ck ck An….

Oh ya, lelaki Minang bila menjadi seorang paman / mamak, bebannya ternyata berat ya? Eh, ini menurutku sebagai orang luar yang hanya membaca dari berbagai sumber. Misalnya begini:

Pertama, bertanggungjawab untuk mendidik keponakan menjadi orang yang tahu dengan adat istiadat, budaya dan falsafah Minang. Mendidiknya supaya menjaga perilaku dan pandai bermasyarakat. Dalam hal ini lelaki Minang yang biasa disebut ‘mamak” oleh ponakannya, harus memberi contoh tauladan yang baik bagi ponakannya.

Kedua, bertanggungjawab dalam hal materi. Seorang mamak diwajibkan pula membantu dalam hal materi untuk ponakannya misalnya untuk melanjutkan pendidikan, biaya pernikahan, dan lain sebagainya.

Ketiga, seorang mamak juga berperan memutuskan siapa yang akan menjadi suami dari keponakan perempuannya dan memutuskan juga siapa yang menjadi istri dari keponakan laki-lakinya. Untuk keponakan perempuan, mamak berperan mencarikan suami untuk keponakannya, sedang untuk laki-laki, menurut adat Minang bahwa keluarga perempuan lah yang datang meminang secara adat, setelah secara agama laki-laki Minang melamar si perempuan, nah secara adat inilah peran mamak menentukan diterima atau tidak, menentukan jadwal pernikahan dan sebagainya.

(dari artikel Lelaki Minang di Kompasiana)

No wonder bagi para lelaki Minang begitu gigih bekerja dan menjaga perilakunya karena tiga hal di atas. Hal ini pun menarik minatku sejak kecil ketika menyadari mengapa kakak iparku mau menikah dengan Mbakku yang orang Madura?🙂 Mungkin nanti akan menjadi satu tulisan khusus tentang pernikahan lelaki Minang.

Aku masih terus mencari buku tentang adat Minangkabau (terutama tentang merantau, masakannya, dan pernikahan). Tentu, sebagai orang yang senang membaca fiksi, aku juga ingin melengkapi koleksi buku dengan novel fiksi seputar Minangkabau. Ada yang mau merekomendasikan buku adat dan fiksi apa sajakah? Please comment🙂

Jika ada sanggahan atau tambahan, silakan. Aku ingin sekali menggali pengetahuan tentang Minangkabau dengan baik. Terima kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s