In Allah We Trust :)

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

#TemuRelawanAAC : Sesuatu yang Baru

Seru. Kata pertama untuk pertemuan sebuah pre event yang bakalan luar biasa. Per sepuluh tahun, para pemimpin negara yang dulu bergabung dalam Konferensi Asia Afrika akan berkumpul di Bandung. (orasi Kang Ridwan Kamil, walikota Bandung, di Alun-alun, 12 April, sekitar pukul 11.30 WIB). Jadi, kalau tahun ini aku ikut, 10 tahun lagi… Euh… *mikir

Baca lebih lanjut

Yang Menakjubkan, Yang Merusak ~ Ustadz Salim A. Fillah

1) Ada 2 hal yang sering membuat kita kagum; ucapan & penampilan. Dan bukan cuma pada kita Allah memperingatkan tuk hati-hati dalam takjub.

2) Bahkan RasuluLlahpun diwanti-wanti oleh Allah agar takjub itu tak meruyak; karena seringkali yang menakjubkan adalah justru yang merusak.

3) Tentang ucap yang mengagumkan; Allah menyatakan; “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menakjubkanmu..

4) ..dan dipersaksikannya kepada Allah atas kebenaran isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” {QS2:204}. ShadaqaLlah.

5) Muhammad ibn Ka’b Al Qurazhi menyatakan, “Ayat ini turun tentang seorang lelaki munafiq; kemudian ia berlaku umum bagi orang yang dalam..

6) ..hatinya ada penyakit; yang mengira dapat mengelabui Allah & kaum mukminin dengan ucapannya yang fasih, indah, & mempesona tapi menipu.”

7) Maka kita diperingatkan dari ucapan yang berbahaya ini; tak perlu takjub pada pembicaraan yang berbunga & berpermata tentang hidup dunia.

8) Adapun tentang penampilan; Allah menyatakan; “Dan apabila kalian melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kalian kagum. Dan jika..

9) ..mereka berkata kalian mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap..

10) ..teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka..” {QS63:4}

11) Ibn Katsir mentafsir, “Maksudnya mereka mempunyai penampilan yang bagus; (tubuhnya, pakaiannya, perhiasannya) & sangat fasih berbicara.”

12) “Jika ada yang mendengar ucapan mereka yang penuh logika, retorika, & sastra pasti akan tertarik. Tapi hakikatnya mereka lemah jiwanya.”

13) “Mereka berada dalam puncak kegamangan, kegelisahan, kekhawatiran, rasa takut, & tumbuh sebagai pengecut di dalam diri mereka sendiri.”

14) Maka kitapun diingatkan tuk tidak mudah takjub & terkejut pada ucapan & penampilan macam itu. Kata orang Jawa; Aja Gumunan, Aja Kagetan.

15) AstaghfiruLlah; yang bicara inipun mungkin termasuk si pentakjub; atau bahkan dilekati sifat munafiq nan ucap & penampilannya berbahaya.

16) Tapi mari Shalih(in+at); simak Taujih Allah ini; “Orang-orang yang MENDENGARKAN perkataan lalu MENGIKUTI yang PALING BAIK di antaranya..

17) ..Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” {QS39:18}. ShadaqaLlah.

18) Semoga Allah menjaga kita agar tak termasuk para pemfasih lidah yang mencari dalih; atau para penampil pesona yang hanya memburu dunia.

19) Semoga Allah menjaga kita agar tak mudah tertipu oleh kilau gemerlap bergincu manis; agar tak terpesona oleh ucapan nifaq ahli dunia.

20) Semoga Allah karuniakan pada kita hidayah & ilmu yang menajamkan akal & menjernihkan fikir; untuk menyimak kekata & mengikut terbaiknya.

=-=-=-=-=

Semoga bermanfaat :)

Jangan Pernah Penasaran… Dan Aku Pun Menyesal

Kata orang, kalau kita kepo (penasaran tingkat galaksi bima sakti), biasanya berujung dengan dongkol dan jengkel dalam hati.

Sebelum aku menulis postingan ini, tentu saja karena diawali oleh kekepoan terhadap sebuah akun di Facebook yang tak sengaja kutemukan sebelumnya.

Oh ya, ini sekadar OOT.
Kepo = Knowing Every Particular Object (ingin tahu setiap urusan orang lain).
Jadi, kata kepo itu berasal dari kata keypo yang merupakan bahasa Hokkian (bahasa yang digunakan oleh komunitas Tionghoa di Medan, Pekanbaru, dan Palembang), yang memiliki arti:
Ke = Bertanya, Po (Apo) = Nenek-nenek
Jadi artinya nenek-nenek yg suka bertanya. Tapi arti dari kata keypo ini bisa diartikan juga yaitu ingin tahu atau penasaran, dan kata ini memiliki konteks yang sama sekali tidak negatif.

Kemudian seiring berjalannya waktu, kata teresebut lama-lama menjadi kata serapan di bahasa Singlish (Singaporean English), lalu lahirlah kata kaypoh. Kaypoh berarti busybody atau “to act as a busybody”. Busybody sendiri artinya adalah orang yang suka campur tangan dalam urusan orang lain.

Kembali ke persoalan kenapa saat ini aku agak manyun. Karena justru sebenarnya karena tidak sengaja membaca sebuah kata sederhana di Facebook dan berujung nelangsa. (*jiah, gue bisa gitu nelangsa? ngik!) Lantas tetiba saja aku menyadari satu hal. Pria itu sering menyebut sebuah kota di setiap obrolan dunia maya kami. My Lord! Jadi sebenarnya, karena ada lobster di balik rempeyek, makanya candaan dia selalu menjurus ke kota itu?

Ah, aku sedih. Tapi gak bisa apa-apa juga sih :) Da aku mah apa atuh… :P

Bukan sekali ini saja aku kepo terhadap sesuatu hal berkaitan dengan seseorang. Prosentasenya, dari 10 kali kepo, 8 kali berakhir dengan gondok maksimal. Sisanya bikin senyum. Yaelah!

Bukan hanya soal lawan jenis. Kalau penasaran terhadap suatu peristiwa, atau gosip perempuan, atau apalah, kadang berakhir misuh-misuh. “Tau gini gue gak usah baca deh!” Hahahaha :D Jadi ingat ketika menonton salah satu episode Chibi Maruko (versi pemeran manusia, bukan kartun). Maruko dan kakaknya bergumam menyesal karena kepo dengan kenangan masa lalu orangtuanya. “Jadi mereka dekat karena kotoran anjing? Duh!” “Tau begitu, tadi seharusnya tak bertanya.”

Aku salah menafsirkan candaan pria itu, setiap kali dia menyebut satu nama kota. Kupikir dia benar meledekku. Sejatinya, dia sedang menikmati bahagianya sendiri karena perempuan yang ada di hatinya, tinggal di kota tersebut. Waduh… Combo nih betenya. Kepo berakibat patah hati dan menyesal sudah baca.

Tapi rasanya justru ada sesuatu yang menggerakkan tanganku hingga jemari ini mengklik halaman Facebook dia. Memang harus terbaca. Memang harus ketahuan. Memang harus langsung sadar… Bahwa aku sudah bermimpi terlalu tinggi. Saatnya turun ke bumi, menyadari kenyataan, dan tentu saja melupakannya.

Nah, kepo tak selamanya buruk sih. Mungkin saja itu cara Allah ingin menunjukkan siapa dirinya, agar aku tak larut dalam mimpi hingga susah bangun :)

Begitu saja.

(tulisan ke limapuluhdelapan dari beberapa tulisan)

Bahagia Bersama Pasangan Bipolar

Baru baca artikel di Vemale, yang sebenarnya ditunjukkan kepada si pria. Tetapi hal ini berlaku pada wanita dengan bipolar. Aku coba salin ke sini isi artikelnya ya :)

=-=-=-=-=-=-=

Vemale.com – Pada dasarnya, semua orang menginginkan perasaan bahagia, aman, tentram dan juga dihargai saat menjalani hubungan dengan siapapun. Bagi sebagian besar wanita, bisa dipastikan bahwa ia selalu ingin pasangannya memberikan kenyamanan dan perlindungan terhadapnya. Namun, bagaimana jika seorang wanita menjalin hubungan dengan pria yang memiliki gangguan Bipolar? Apakah ia bisa selalu bahagia dan tak tertekan?

Baca lebih lanjut

Life Begin Everyday. Like Today.

from etsy dot com

Aku bingung mau menulis apa pada postingan kali ini. Aku hanya mengingat segala kebesaran kuasaNya, kedahsyatan cintaNya, dan betapa kerdilnya aku.

Mengosongkan diri di saat menulis ini. Membiarkan jiwa bebasku berkelana, pikiranku melayang tanpa tekanan, dan hatiku tenggelam dalam rindu hangat. Tak henti menyebut namaNya. Memaksakan diri untuk berjalan menujuNya meski tertatih.

Bahagia itu sederhana. Saat ini aku merasa mendekati sempurna. Memiliki adik yang tangguh, dua mujahid kecil yang sehat, dan para sahabat yang sabar. Ini sungguh harta karun yang luar biasa.

Masih diberi kesempatan untuk menikmati cintaNya di dunia fana ini, berarti aku masih ada waktu untuk membersihkan diri. Tentu, dengan seizinNya. Dengan rahmatNya. Menikmati prosesnya. Jatuh bangun, penuh tangis dan tawa.

Terima kasih untuk jutaan detik yang setiap hari kurasakan, yaa Allah.

Aku siap dengan semua skenario terbaruMu. Sekali lagi. Berkali-kali lagi. Hingga nanti purna waktuku di semua ketidaknyataan dunia ini.

Terima kasih untuk semua cinta dan sayang kalian kepadaku. Iya, kalian yang selama ini ada untukku tanpa harus menghakimi karena tahu bagaimana kondisiku. I love you all to the moon and back.

Mulai hari ini, sebuah episode baru akan kusambut dengan penuh suka cita.

BismiLlah!

Déjà vu In An Hour

Rute: Pasar Rebo – Depok. Kendaraan: Angkot T19. Waktu: Tengah hari.

Ada yang aneh ketika aku melewatkan sekitar empat angkot jurusan yang sama di depan lampu merah Pasar Rebo di dekat halte TransJakarta itu. Aku selalu memikirkan sebuah kejutan kecil dariNya. Mungkin juga kali ini. Entah. Aku bahkan sedang tak ingin berpikir tentang apapun.

Sebuah angkot berwarna merah berhenti persis di bawah lampu merah. Aku berlari kecil mendekat. Terlihat hanya di sebelah supir yang kosong. Di belakang, sudah 2/3 terisi. Coincidence. I think not. Baru duduk dan bersandar di pintu, seseorang membukanya tanpa mengucap permisi. Jengkel. Tapi akhirnya aku bergeser ke tengah.

Seorang pemuda jangkung berkaus lengan panjang warna merah bata dan berkaca mata, membawa daypack hitam, dan bercelana jeans hitam. Jemarinya lentik. Kukunya agak panjang namun bersih dan rapi. Dia sibuk dengan ponsel Android-nya dan aku juga meneruskan membaca buku meski akhirnya tak benar-benar khusyuk membaca.

Ya. Ada yang aneh.

Lengan kanannya menempel di depan lengan kiriku. Mungkin harusnya biasa. Toh aku juga sudah jutaan kali duduk di sebelah pria dengan beragam tipe di bus atau angkot. Aku menangkap ada sesuatu yang beda. Berulang kali aku ingin melihat seperti apa wajahnya. Aku hanya berhasil melihat tulang rahang sebelah kanan. Wajahnya biasa. Tak tampan. Dia juga bukan penyuka parfum sepertinya. Untungnya, dia tak memiliki bau badan yang kukhawatirkan :P

Siapa cowok ini? Sepanjang perjalanan, auranya beda dengan makhluk Mars asing lain yang selama ini duduk di sampingku di angkutan umum. Aku tak tahan untuk tersenyum setiap kali merasakan sesuatu dalam dirinya ‘mengajak berbincang’. Sepertinya aku mengenal dia seumur hidupku. Tapi ketemu juga baru di angkot itu!

Perasaan aneh dan penuh drama itu pun mulai merasuk. Nyaman dan aman bersama dia. Rasa yang pernah ada sebelumnya. Entah kapan dan di mana. Was it him? Dunno. I just got blank. Selama sejam bersamanya, tak ada rasa gelisah atau asing atau apalah.

Ketika dia memasukkan ponselnya ke dalam tas saat angkot melewati Jalan Sawo, aku tahu kebersamaanku dengannya segera berakhir. Aku menebak-nebak… Kober? Ah, bukan. Satu tebakan lagi. Kapuk. Ya, benar. Ketika dia turun, kesempatanku melihat wajahnya hanya sekali. Kuberanikan diri saat dia hendak menyeberang. Cukup tiga detik. Saat angkot kembali melaju, aku merasa setengah jiwaku melayang. Norak ya? Entahlah.

Kutebak usianya sekitar 25 tahun. Mungkin mahasiswa S2.

Terima kasih, siapa pun kamu. Sudah sukses membuatku merasa terlempar ke masa yang entah kapan. Benarkah kita pernah bertemu sebelumnya?

(tulisan ke limapuluhtujuh dari beberapa tulisan)