In Allah We Trust :)

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

Suatu Saat, di Suatu Masa

Untukmu senantiasa,

Apa kabar hari ini? Aku sedang membayangkan kita berada di satu masa. Mungkin tak lama, setahun saja setelah hari ini. Aku di sini, dan kamu ada di suatu tempat.

Aku menyesap kopi di sudut kafe. Menikmati lalu lalang orang, mencuri dengar gosip-gosip yang sampai di telingaku, dan memikirkanmu. Pekerjaan kita selalu menyita waktu. Pertemuan sejenak demikian berharga. Menunggumu menjemputku selepas kerja, membuatku merasa hidup.

Kamu masih hilir mudik ke tempat favoritmu. Sesekali membahas politik atau berita ringan. Kamu melaporkan macetnya jalan raya dan suntukmu dihibur oleh lagu-lagu favorit dalam canda bete. Khas dirimu.

Aku masih menikmati kopi dan croissant isi tuna pedas. Meski orang lain melihatku seperti pemalas yang sedang melamun, aku mencari ide tulisan yang berkeliaran dalam kembara pikiranku. Seru sekaligus melelahkan.

Beberapa waktu kemudian, kamu datang dengan senyum sehangat mentari pagi meski saat itu senja telah menjelang. Tatapan matamu yang teduh menyihirku. Nyaris tersedak melihatmu tiba dengan gaya konyolmu.

Saat kamu mendekat… “Hey, bangun! Ayo olahraga pagi!” Aku gelagapan. Ah, mimpiku ternyata tentang dirimu.

Kenangan yang belum terjadi. Ah, sudahlah. Bagaimana kabarmu? Aku merindu. Seperti biasa.

Jaga kesehatanmu, #UbiRebus ;) Selamat menikmati akhir pekan, semoga berkah dan menyenangkan.

(Tulisan kelimapuluhdua dari beberapa tulisan)

Menari di Bawah Hujan

Teruntuk: Kamu, yang senantiasa hening di sudut ruangan.

Apa kabar kamu di hari Jumat penuh berkah ini? Semoga bahagia senantiasa menghangatkan hati dan harimu.

Ada yang tak biasa di langit kotaku saat aku menulis surat ini untukmu. Hujan menyapa lengkap dengan kilat, petir, dan angin. Sungguh menakutkan. Sama bahayanya dengan gangguan dari luar kita yang senantiasa berusaha menghancurkan, meski dengan cara paling halus. Ah, tentu kamu tahu maksudku.

Kopi yang biasa menemanimu, apakah sudah tandas tiada sisa? Bagaimana dengan air mineral? Sudah berapa gelas kauminum sebagai peluruh racun nikotinmu itu? Jaga kesehatan dan bersyukur senantiasa ;)

Dancing under the rain bukan hanya secara harfiah bahwa kita menikmati tarian syahdu bersama sang hujan. Lebih dari itu. Bahwa kadang hujan ditemani petir dan kilat, berarti hujan tak selamanya aman. Kita, lahir dengan berbagai masalah yang juga menyertai. Tetapi bukan tanpa solusi. Allah sudah menyiapkan pelangi yang indah, kan?

Aku menunggumu bersiap menyambut kedatanganku. Sebelum kita berjumpa, kubiarkan kamu menikmati hujan dengan segala pesannya. Nikmatilah kuyup yang mungkin akan membuatmu meriang. Siapkan penawarnya: segelas air kelapa rasa rindu.

Jangan nakal yah! ;)

(Tulisan kelimapuluhsatu dari beberapa tulisan)

Posted from nowhere but here.

Kejutan Kecil Setiap Hari

Malam ini aku sedang memutar ulang pita rekaman kenangan selama satu bulan Februari. Hanya kamu, kamu, dan kamu lagi yang memenuhi benakku.

Beberapa hari lalu hatiku sempat merasa nyeri. Entah mengapa. Aku mencoba menenangkan perasaan dan pikiran. Mengenyahkan segala hal buruk yang melintas di depan mata. Oh, betapa hal-hal remeh ini ternyata duri yang melukai sepanjang jalanku pulang menujumu.

Tetapi aku bersyukur, hanya kamu yang bisa menetralisir keadaan menjadi lebih baik. Sujud dan istighfar kita kepada Sang Kekasih, tanda kepasrahan dan permohonan perlindungan.

Bagaimana kabarmu malam ini? Sepertinya baru selesai santap malam. Sedang bersantai melepas penat pekerjaan?

Tetiba tadi aku teringat gerutuan kecilmu saat kau kehilangan sinyal data dan mengirim SMS padaku sekadar memberitahuku bahwa kamu sampai harus keluar rumah untuk mencari sinyal yang ngacir entah ke mana hanya demi bisa lancar berkomunikasi denganku. Mana tega aku menertawaimu? Aku justru merasa gemas dan berharap sinyalmu kembali pulang.

Ya, kejutan kecil semacam itu yang menghangatkanku.

Atau ketika tengah malam kamu bilang bete, suntuk, kesal, dan mengadu dengan manjanya kepadaku. Aku dibutuhkan. Aku menjadi berarti. :)

Kita tetap menjaga komunikasi dalam hening. Kejutanmu direkam dalam gambar penuh makna yang sulit diterjemahkan orang lain. Karena kita memiliki bahasa sendiri, yang hanya dimengerti Sang Maha Cinta.

Jaga kesehatanmu. Jaga keimananmu agar tetap bertujuan hanya kepada-Nya.

Kejutan apa lagi kah besok? ;)

(Tulisan kelimapuluh dari beberapa tulisan)

Kisah Cinta Seru Sebulan

Untuk semua penulis surat cinta keren peserta #30HariMenulisSuratCinta…

Saking bingungnya mau memilih surat yang mana, maka kutujukan surat ini untuk kalian semua :)

Hai, halo! Salam kenal dari Bandung ;)

Senang sekali membaca beberapa surat dari kalian di situs Pos Cinta. Mohon maaf tak terbaca semua. Terkendala waktu dan koneksi internet. Tetapi saya yakin, semua surat kalian pastilah keren, ditulis sepenuh hati, dan penuh inspirasi. Akhirnya membuat saya bingung mau memfavoritkan yang mana.

Ada surat yang mengharukan, penuh rindu, emosi yang akhirnya terungkap, diam-diam memendam rasa, sampai yang lucu pun terekam dengan baik. Ternyata cinta itu penuh warna, ya?

Ada yang sudah bertahun-tahun ikut tantangan menulis seru ini, ada juga yang baru memulainya tahun 2015. Gak pernah ada kata terlambat kok. Sama, cinta pun tak pernah datang terlambat atau terlalu cepat. Semuanya akan tepat waktu, terasa sempurna, dan indah pada waktunya ;) *ahseeeeekk :P

Sekali lagi, terima kasih banyak karena sudah mengizinkanku untuk membaca kisah cinta kalian yang tulus, seru, dan indah :) Sangat menyenangkan bisa turut merasakannya.

Salam sayang dan sampai ketemu tahun depan, inshaa Allah :)

-an-

Bersembunyi dengan Aman

Kepada seseorang yang entah siapa, menyebut namanya: Conan.

Hai, kamu. Selamat pagi.

Entah aku harus memanggilmu dengan sebutan apa. Jadi, sesuai dengan akun Twitter saja, yang mungkin terinspirasi dari Detektif Conan. Meski memang labil dengan avatarnya yang selalu berganti dan lebih suka menyebut dirinya George Clooney. Untuk bagian identitas penamaan seperti ini, jadi terlihat tidak konsisten. Ya, mungkin akan dijawab dengan defensif, “Apalah arti sebuah nama?” *ngik

Sebenarnya, aku agak malas berkomunikasi dengan akun anonim. Seperti bicara pada tembok. Oh, karena akun yang satu ini ternyata selalu membalas mensyen, maka aku menganggap seperti sedang berhadapan dengan robot atau bot yang dikendalikan manusia. “Robot yang ini punya rasa.” Kilahmu. Tetapi aku juga lantas membalas, “Hanya Doraemon yang memiliki rasa. Dan itu fiktif.” Salahku di mana? Untunglah, ada dua akun anonim yang akhirnya revealed and unmask membuka dirinya kepadaku. Aku menghargai yang demikian. Berarti benar manusia. Hakhakhakhak :D Baca lebih lanjut

Semangat Berbagi yang Menular

Kepada seorang mantan preman berjiwa besar (plus berbadan extra large juga): Bang Gaw.

Hey, apa kabar?

Gak usah protes jika kubilang jiwa berbagimu yang besar berbanding lurus dengan badanmu itu. Bukannya main fisiklah. Toh setiap aku bilang Abang harusnya berdiet, jawabmu selalu, “Begini juga banyak yang naksir.” Hidih!

Abang yang shalih,
Ingat banget pertama kali mengenalmu lewat tulisan di blog dengan bahasa yang penuh kedamaian. Ingin sekali bertemu denganmu. Tapi sepertinya Abang orang sibuk. Bertahun-tahun hanya bisa memendam keinginan.

Ketika bertemu di Bandung, waktunya justru sempit. Kita berbincang seru tentang program relawan sampai urusan jodoh untukku. Hahahahah, kakak yang baik dan perhatian. Tetapi aku merasa bukan dan belum saatnya untuk menerima tawaranmu untuk dikenalkan kepada orang lain. (Eh, kalau sekarang, kutantang lagi, mau? Cariin dong! Hihihihi…)

Abang, aku ingat sebuah foto tentang bencana Merapi yang kulihat di newsletter Aksi Cepat Tanggap. Awalnya aku tak terlalu pusing menanggapinya. Kemudian aku merasa mengetahui siapa orang yang menggendong seorang korban penuh debu itu. Lagi-lagi, aku hanya menepis dugaan. Cari tahu juga kagak.

Ketika Abang memasang foto itu di Twitter, aku justru kaget dan merasa konyol bertanya retorik, “Itu Abang?” Hahaha, parah ya? Aku semakin kagum dan juga diliputi penasaran yang lain. Ah, aku ingin terjun menjadi relawan juga.

Abang menawarkan beberapa kemungkinan aku untuk bergabung menjadi relawan di beberapa rencana proyek yang Abang buat bersama teman-teman lain. Aku mengiyakan. Inshaa Allah siap!

Terima kasih atas ilmu yang Abang berikan. Kisah hikmah yang selalu Abang tulis dan kurenungi maknanya. Terima kasih sudah memengaruhiku untuk terus berbagi meski bukan dalam bentuk materi. “Pikiran, ide, tenaga, dan waktu juga penting untuk dibagi, An. Bagian dananya orang lain. Gue yakin elo gak akan keberatan kan?” Lagi-lagi aku mengangguk.

Oke, proyek selanjutnya apa? Kita bicarakan sambil ngopi? Tapi please jangan sambil makan ceker…

Salam berbagi penuh semangat,
-an-

Semesta yang Hening

Untukmu, yang namanya sudah dihapal malaikat dalam doa dan diamku.

Selamat pagi :) Mungkin ini bukan surat. Lagi-lagi, hanya catatan kecil yang bisa kausimpan di meja kerjamu. Maka tulisan ini tak akan panjang.

Beberapa pertanyaan pentingmu masih kusimpan dalam ingatan. Semua janjimu masih kurawat dengan baik dalam toples rindu. Kamu yang terkadang menjadi pelupa, tentu agak kesulitan mengingatnya. Namun kuyakin hatimu menggemakan segala aksara yang pernah terukir.

Akan selalu ada yang mengusik, membenci, mencibir, melecehkan, dan melukai. Tak ada yang layak dilakukan selain membalasnya dengan doa terbaik. Jangan biarkan kebencian terpendam dalam hati. Jika kebusukan itu didiamkan, apa bedanya kita dengan mereka? Kehidupan terlalu singkat untuk sibuk memikirkan dan menanggapi aksi negatif orang lain. Reaksi kita akan dinilai, apakah kita menjadi sama buruknya atau menjadi selangkah lebih maju. Mereka yang membicarakan di belakang kita, karena memang mereka maunya ada di belakang. Biarkan saja.

Aku sedang mengingat tentang politik negeri ini, sesuatu yang selalu berusaha kuhindari. Aku juga sedang mengingat betapa banyak masalah lain yang terikat denganmu pun denganku. Romansa kehidupan kita sebagai makhluk-Nya yang lemah.

Ada banyak alasan bagiku meninggalkanmu sendirian. Tetapi jika demikian, bagaimana dengan janji yang dilangitkan selama ini? Tuhan tahu, semua sudah sempurna dalam skenario-Nya. Pagi ini, aku mencintai dalam syukur yang terpanjat. Allah memang maha asyik, seperti kata presiden negeri jancuker :) Semesta menyimpan segala bisik lirih yang menjelma dalam berkah-Nya.

Doaku tetap akan terus kutitipkan pada malaikat. Biarkan mereka yang menjalankan tugas menemani saat sepi kita ketika semua permohonan menderas pada-Nya.

Jaga dirimu baik-baik. I know that I can count on you. Always.

(tulisan ke empatpuluhsembilan dari beberapa tulisan)