In Allah We Trust :)

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

Jadikan Semuanya Lebih Mudah

Masih ada aja yang bilang kalau aku orangnya ribet. :) Mungkin. Dalam beberapa hal, aku justru lebih praktis dan suka mengambil gampangnya sehingga orang lain pun bilang aku orangnya ‘ngegampangin’. Pusing ya? :P

Ambil contoh yang paling bikin kesal jagad pewayangan adalah aku tak peduli berapa nilai IPK saat kuliah ketika semua teman seangkatan pusing dengan nilai-nilai ujian yang diberikan dosen. Aku malah berpikir “yang penting lulus” karena sebenarnya aku sangat malas kuliah. Aku sudah jemu berada di dalam kelas untuk menyerap ocehan seorang pengajar. Tetapi demi sebuah pengalaman nyata bahwa aku pernah jadi mahasiswa, oke baiklah mari kita menikmati masa menyenangkan itu.

Baca lebih lanjut

Memahami Nasionalisme ~ Akmal Sjafril

Sore ini mau ngobrol sedikit tentang .

Sudah banyak perdebatan soal , dari yang serius sampai yang konyol.

Sayangnya, belakangan ini di tanah air lebih sering dipahami secara naif.

Semasa kecil dahulu, banyak film-film perjuangan yang sering diputar di TV. Semua paham apa itu .

Jika Indonesia diserang, maka kita akan membelanya dengan harta dan jiwa. Itulah .

Ingin tahu ? Dengarkan dari ahlinya! >>

Dibuka dengan Basmalah, kemudian teriakan “Merdeka!”. Itulah .

Diawali dengan Basmalah, diakhiri dengan takbir. Kita, umat Muslim, paham apa itu .

Para ulama menyerukan ‘Resolusi Jihad’ utk mengawal kemerdekaan. Kita paham betul apa itu  -> http://inpasonline.com/new/resolusi-jihad-mengawal-kemerdekaan/

Sayangnya, sekarang film-film perjuangan sudah teramat jarang diputar.

Pidato Bung Tomo jarang ada yang mendengar. Pernah diputar, tapi takbirnya dihilangkan.

Sekarang, banyak orang tak paham lagi apa itu . Atau memahami dengan cara yang keliru.

, misalnya, dipahami melalui atribut semata, itu pun secara inkonsisten.

Misalnya, ada yang begitu bencinya dengan sorban dan jubah. Katanya, itu pakaian Arab, bukan Indonesia.

Pakaian Arab? Betulkah?

Pangeran Diponegoro

Sampai sekarang yang berhijab pun masih disindir-sindir juga. Lagi-lagi, isunya adalah Arabisasi. #Nasionalisme

Ini foto Buya Hamka dan istrinya, sekitar 90 tahun yang lalu. #Nasionalisme

Buya Hamka dan istri.

Ini foto Rahmah El-Yunusiyah, usianya sedikit lebih tua daripada Buya Hamka.  

Apakah para pembenci hijab ini lebih paham ketimbang yang berhijab?

Apakah dengan membenci hijab maka ia lebih paham ?

Orang seenaknya saja mengatakan sorban sebagai Arabisasi, tapi jas ala Barat tidak dianggap Westernisasi.

Bandingkan dengan negara-negara jiran yang dengan bangga mengenakan pakaian Melayu. Kita?

Sering diceritakan kisah tentang kontes kecantikan dunia. Peserta dari tanah air, konon, telah mengharumkan nama bangsa.

Apa iya? Bagaimana keikutsertaan dalam sebuah kontes kecantikan bisa mengharumkan nama bangsa?

Bagaimana berlenggak-lenggok di panggung dan menjawab beberapa pertanyaan mudah bisa memajukan negeri?

Parahnya lagi, ada orang-orang yang pemikirannya merusak namun justru merasa nasionalis.

Ketika Palestina atau negeri lain butuh bantuan, ia tidak peduli.

Komentarnya, “Di Indonesia pun banyak masalah! Kenapa jauh-jauh mengurusi Palestina?”

Apa kita harus bebas dari masalah dulu baru menolong orang? Ini masalah keluhuran budi.

Padahal, ketika Indonesia baru merdeka, negara-negara lain pun menolong semampunya.

Apakah negara-negara itu semuanya ‘bebas masalah’ ketika mengulurkan tangan? Tentu tidak!

Apa yang bisa dibanggakan dari negeri kita jika kita menutup mata dari penderitaan orang?

-kah ini? Apa bedanya dengan fanatisme buta, atau bahkan bibit-bibit fasisme?

Semestinya kita berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bangga kepada bangsa kita jika telah menebar banyak kebaikan.

Tapi yang kita banggakan kini hanya hal-hal kosong tak bermakna, tak membawa manfaat bagi sesama.

Bahkan kaum Rohingya yang dibantai di negerinya dan terkatung-katung di lautan pun kita abaikan. Inikah ?

Sementara itu kita sibuk mengutak-atik bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan langgam negeri, melabrak tajwid. Inikah ?

Jika kita tidak lagi berorientasi pada kebaikan dan keluhuran budi, bagaimana menjelaskan kepada generasi penerus?

Semoga kita tidak terjebak dalam palsu yang tidak membawa kebaikan. Aamiin…

Berpenghasilan Tetap atau Tetap Berpenghasilan?

Pertanyaan abadi untuk sesiapa saja yang ingin tetap bertahan hidup di dunia sebelum waktunya habis. Kamu bisa memilih ingin bekerja secara mandiri atau menjadi pekerja alias manut dengan aturan orang lain. Aku, yang pernah terprogram salah saat kecil, akhirnya pernah menganggap bahwa menjadi karyawan kantor adalah satu-satunya cara mendapatkan uang untuk membeli beras dan membayar iuran + tagihan rutin setiap bulan.

Baca lebih lanjut

Tuhan Menjaga Kita

Begitulah yang kurasakan saat ini.

Am struggling to find a direct and right definition and description of long lasting relationship. I never thinking about something interesting but a creature called men. 

Mungkin, alam bawah sadarku yang selalu penasaran bagaimana seorang Adam bisa jatuh cinta pada Hawa yang katanya diciptakan dari tulang rusuknya sehingga Adam menderita rindu untuk meminta kembali rusuknya yang hilang itu.

Baca lebih lanjut

Ashabiyah (Fanatisme Golongan) ~ Akmal Sjafril

Mengisi waktu dalam perjalanan, mau ngobrol sedikit tentang fenomena alias fanatisme golongan.

Yang namanya memang macam-macam. Tapi di sini saya batasi dengan konteks fanatisme kebangsaan.

Kalau sudah disebut tentu telah jauh melampaui cinta tanah air yang wajar.

Artinya, cinta tanah air itu fitrah. Tapi kalau berlebihan ya jadinya.

Kalau pergi merantau lalu kangen kampung halaman, itu cinta tanah air. Bukan .

Yang salah itu jika mengira bangsanya lebih unggul daripada bangsa-bangsa lain hanya karena beda negeri. Inilah .

Setiap manusia dibedakan di hadapan Allah berdasarkan ketaqwaannya, bukan karena suku bangsanya.

Orang Indonesia tidak lebih baik dan tidak lebih buruk daripada bangsa lain. Suku-suku di Indonesia pun semuanya sama.

Bangsa Arab tidak lebih mulia daripada selainnya, tapi juga tidak lebih hina daripada siapa pun.

Qur’an memang menggunakan bahasa Arab, tapi ini semua karena rencana Allah, bukan karena kehebatan bangsa Arab.

Bangsa Arab dimuliakan dengan kehadiran Nabi Muhammad saw. Di sisi lain, Musailamah sang nabi palsu juga dari Arab.

Dalam kajian bersama ust. Asep Sobari semalam, saya mencatat satu hal penting seputar .

Kajian semalam membahas sebagian isi buku karya Syaikh Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi yang satu ini.

Ada yang belum kenal beliau? Ini secuplik pemikirannya :)  

Dalam bukunya, Syaikh an-Nadwi menganalisis kejayaan dan kerusakan peradaban Islam.

Menurut beliau, ada 4 alasan mengapa Islam pernah berjaya dan memimpin dunia.

Pertama, karena peradaban Islam tidak hanya bersandar pada rasio saja, melainkan wahyu Allah.

Kedua, karena peradaban Islam memimpin dengan akhlaq yang baik, bukan akhlaq jahil.

Ketiga, karena Islam tidak memelihara . Umatnya tidak berjuang untuk satu bangsa saja.

Keempat, karena Islam mengajarkan keseimbangan dalam hidup.

Poin ketiga tadi berkaitan langsung dengan .

Peradaban-peradaban besar sebelum dan sesudah Islam semuanya terjangkit penyakit .

Mereka menjadi besar dengan egonya sendiri, melibas dan memperbudak bangsa-bangsa yang lain.

Pada akhirnya, bangsa penakluk sehebat apa pun akan bertemu dengan antiklimaksnya.

Banyak bangsa-bangsa besar hancur karena digempur oleh bangsa-bangsa yang dulu diperbudaknya. Maka lenyaplah mereka.

Islam datang melenyapkan ini. Manusia dihimpun dengan persaudaraan yang sejati, bukan fanatisme kebangsaan.

Oleh karena itu, ketika Islam menguasai suatu daerah, maka penduduk lokal daerah tersebut tidak terzalimi.

Ketika pasukan Islam menguasai Khaibar, penduduknya yang beragama Yahudi boleh tetap tinggal dan mengolah lahan.

Oleh karen itu, sering kita jumpai orang-orang/kafir yang tentram dengan kepemimpinan Islam.

Jika demikian baiknya perlakuan terhadap orang kafir, apalagi dengan sesama Muslim?

Jika seseorang telah memeluk Islam, maka status kebangsaannya menjadi tidak begitu relevan. Muslim ya Muslim.

Kita tidak membedakan manusia berdasarkan bangsa, sebab manusia hanya beda karena ketaqwaannya.

Oleh karena itu, kasih sayang sesama Muslim sangat ‘luas’, tidak dibatasi oleh wilayah geografis.

Inilah kemuliaan manusia, sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Sayangnya, di antara umat Muslim pun ada yang berusaha mencampakkan kemuliaan tersebut. Mereka justru mengajak kembali kepada .

Ketika manusia dizhalimi di belahan dunia lain, ia merasa itu bukan urusannya. Padahal kita sama-sama anak Adam as.

Ketika orang Palestina dizhalimi, ia pura-pura tidak tahu. Alasannya: masalah di Indonesia masih banyak!

Pdhal ketika ada musibah di sini, bantuan dari Palestina datang mengalir. Apa masalah di Palestina kurang banyak?

Islam mengajari kita berbagi, apa pun keadaannya. Ini bukan soal harta di genggaman, tapi soal suara di dalam hati.

Kita tidak menunggu kenyang sebelum memberi makan orang lain. Kita berbagi makan, biarpun sedikit!

membuat manusia lebih buas daripada hewan buas. Dunianya sempit karena hatinya sempit.

Hewan buas tidak makan melebihi kebutuhan. Tapi manusia biasa melampaui batas.

Hewan buas tidak ganggu hewan lain jika sudah kenyang. Tapi manusia (semestinya) bisa berbagi meski masih lapar.

Mungkin banyak orang menyangka bahwa  membuat bangsanya kelihatan lebih perkasa. Faktanya, yang terlihat hanya kebengisan.

Masihkah kita berbangga dengan bangsa sendiri sambil melupakan sumber kemuliaan yang sesungguhnya, yaitu ketaqwaan?

Masihkah kita mau dipecah-belah dengan sebutan: “Islam Arab”, “Islam Indonesia” dan lain-lain? Padahal Islam telah mempersatukan kita?

Sungguh relakah kita menanggalkan kemuliaan kita menuju kebuasan yang lebih buas daripada hewan buas?

Semoga Allah mengampuni kaum Muslimin dan Mu’minin, di mana pun mereka berada, di zaman apa pun mereka hidup.

Semoga Allah persatukan hati mereka yang telah berpecah-belah, dan kita tidak termasuk yang memecah-belah. Aamiin…

#SehatRasulullah ~ Tips Sehat Sesuai Anjuran dan Teladan Rasulullah SAW

Dikutip dari twitter Dompet Dhuafa, semoga bermanfaat ;)

=-=-=-=-=

Assalamu’alaikum sahabat. kami akan berbagi tips Pola Makan Sehat Cara Rasulullah.

“Dalam berbagai aktivitas dan pola kehidupan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memang sudah dirancang oleh Allah

Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk hal pola makan yg bermuara pada kesehatan tubuh secara keseluruhan

Kesehatan merupakan aset kekayaan yang tak ternilai harganya.

Manusia rela mencari pengobatan dengan biaya yang mahal bahkan ke tempat yang jauh sekalipun

Sayangnya, hanya sedikit orang yang peduli dan memelihara nikmat kesehatan

Karena Allah telah menegaskan kepada kita bahwa Beliau (Rasulullah) adalah teladan, inilah teladan yg bisa kita ikuti

Asupan awal ke dalam tubuh Rasulullah adalah udara segar pada waktu subuh.

Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail.  

Para pakar kesehatan menyatakan, udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen & belum terkotori oleh zat-zat lain

Hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh.

“Dua nikmat yang sering kali manusia tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari no. 6412).

Ketika Kaisar Romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah, ternyata selama setahun dokter tersebut kesulitan menemukan orang yang sakit.

Dokter tersebut bertanya kepada Rasulullah saw tentang rahasia kaum muslimin yang sangat jarang mengalami sakit.

Seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah mengalami sakit dua kali sakit.

Pertama, ketika diracun oleh wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah saw di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.

Dengan mencontoh pola makan Rasulullah saw kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan.

Hal itu jauh lebih baik dan murah daripada harus berhubungan dengan obat-obat kimia senyawa sintetik yang hakikatnya adalah racun.

berbeda dengan pengobatan alamiah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melalui makanan dengan senyawa kimia organik.

Beberapa gambaran pola hidup sehat Rasulullah berdasarkan berbagai riwayat yang bisa dipercaya, sebagai berikut:

Pertama Di pagi hari, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi

Di pagi hari pula Rasulullah saw membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yg dicampur dengan sesendok madu asli

Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa mengonsumsi tujuh butih kurma ajwa’ (matang).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun”.

Sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Selain itu, Rasulullah juga mengonsumi makanan pokok seperti roti.

“Rasulullah saw bersabda : “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”

Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur-sayuran.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak langsung tidur setelah makan malam

Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yg dikonsumsi masuk lambung dgn cepat dan baik sehingga mudah dicerna

Disamping menu wajib di atas, ada beberapa makanan yang disukai Rasulullah tetapi tidak rutin mengonsumsinya.

Diantaranya, tsarid yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak.

Beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu air, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula.

Kemudian, beliau juga senang makan buah anggur dan hilbah (susu).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sering menyempatkan diri untuk berolahraga.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya untuk begadang.

Selain itu, ada beberapa makanan yang dianjurkan untuk tidak dikombinasikan untuk dimakan secara bersama-sama

Jangan minum susu bersama makan daging. Jangan makan ayam bersama minum susu. Jangan makan ikan bersama telur.

Jangan makan ikan bersama daun salad. Jangan minum susu bersama cuka. Jangan makan buah bersama minum susu

Demikianlah sahabat, Pola makan Rasulullah, semoga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin