Haruskah Berjodoh Dengan Cinta Sejati?

Surat yang entah untuk siapa. Aku memikirkan beberapa nama… Kamu, kamu, kamu, dan kamu.

as simple as this
as simple as this

Disclaimer: Surat ini sangat subyektif. Dilarang protes karena tidak menguntungkan pihak mana pun. Seharusnya terbit tanggal 31 Januari 2014.

Coba tanyakan sendiri pada hatimu. Ini sebuah dialog dan pemikiran panjang. Dalam hening dan sepimu, merenung. Sendirian. Oh, aku tidak akan menuliskan hasil riset, itu dapat kalian baca ketika bertamu ke halaman rumahnya Mbah Google. Di sini tidak menyediakan layanan referensi bacaan😉

Ini sebuah pengalaman pribadi, curhatan orang-orang terdekat, hasil baca gerutuan dan kelebayan di beberapa media sosial, dan sarkasme halus alih-alih melindungi diri sendiri dari cercaan masyarakat.

Jodoh adalah yang menjadi pasanganmu setelah ijab qabul <— yakin? Kok aku gak ya? melindungi diri dengan tameng😆 Cobalah cari di halaman Mbak Google, satu kata “jodoh” maka akan menemukan 16,900,000 hasil pencarian dalam waktu 0.28 detik (menurut kecepatan data modemku:mrgreen: )  Jodoh adalah bla bla bla… Jodoh itu nasib atau takdir? Tergantung dari sisi mana kamu akan menjawabnya.

Jodoh bagiku adalah saling mencintai meski terhalang segala rintangan walau tak terikat dalam mistaqan ghaalizah hingga maut memisahkan. Mungkin ini memang roman picisan, tetapi nyatanya demikian. Maksud lu, kisah macam Romeo dan Juliet, An? Ya, bisa jadi. Mereka berjodoh hingga maut memisahkan. Memangnya Romeo dan Juliet menikah? Iya. Tapi penulisnya, Will Shakespeare kan nggak menikah dengan cintanya, Viola. Terserahlah ya kalau aku dianggap mencari pembenaran. Kan sudah kubilang ini subjektif. Next.

Berjodoh dengan cinta sejati. Harus. Bagiku. Tetapi menikah dengannya, belum tentu. Tergantung bagaimana negosiasimu dengan Tuhan. Terkadang, Tuhan menganggap bila kita bersatu dengan cinta sejati kita, ada banyak pihak yang dirugikan. Untuk itu, Tuhan mengorbankan keindahan cinta dua manusia dengan tak menjodohkannya dan membiarkan tetap saling mencinta tanpa ikatan resmi secara negara, pun menurut hukum-Nya. Malah absurd? Memang.

Cinta kita menikah dengan orang lain, demi senyum yang mengembang pada wajah-wajah yang membutuhkan cerita romantis semu. Demi “apa kata tetangga”, “menyelamatkan muka di depan kolega”, “mempertahankan harga diri whatsoever“, dan entah apa lagi alasannya.

Kamu pernah mendengar, membaca, mencuri tahu tentang kisah seseorang yang sudah menikah, hidup bahagia (whatever happy means for them), dan seolah nampak aman damai tentram… Memiliki cinta yang tak bisa dimiliki secara utuh dan masyarakat menyebutnya SELINGKUHAN ? Pernah?

Marah ketika mengetahui pasangan sah di rumah ternyata memiliki selingkuhan? “Ya marah dong! Kalau sudah menikah, ngapain masih melirik yang lain? Kurang puas dengan servis di rumah?” Dear, it is not only about your service in bed. Kamu juga tentu punya seseorang yang kamu cintai, entah di masa lalu atau sekarang atau mungkin besok, yang ternyata lebih mengerti kamu tinimbang pasanganmu sendiri. No, aku tidak sedang membuat pernyataan defensif. Ini justru hasil kesimpulan dari bacaan, curhatan, dan doa-doa yang lirih.

Demi keluarga, demi orangtua, demi harga diri, demi tetangga, demi lingkungan, demi apalah itu semua, menikah adalah kunci. Cintailah pasanganmu setelah menikah meski sebelumnya kamu tak mencintainya. Yeah, itu benar. Berjuanglah agar dia menjadi satu-satunya yang kaucinta. Yeah, benar lagi.  Akan ada masa ketika kamu menyadari bahwa memaksakan diri tetap mencintai seseorang yang kita nikahi adalah penyiksaan terhadap lahir dan batin. ganyang An!

Jika kamu jenuh terhadap hubungan pacaran atau pertunangan, bilang putus gampang banget. Tapi tidak dengan pernikahan. sumpahmu di hadapan Tuhan ditagih saat kau menemui-Nya nanti. Itu sebabnya, jangan sembarangan meminta jodoh. Tuhan memberi kita jodoh sesuai dengan doa yang dikirim kepada-Nya. Paham? benerin cepol Been there done that. Aku meminta pasangan hidup dengan beberapa syarat yang kupanjatkan dengan sepintas lalu. Betapa sangat terkejutnya aku ketika Tuhan nyata memberiku seseorang persis dengan apa yang kuminta. Kesalahan fatal. Doaku tak lengkap dan diulang berkali-kali. Sama seperti aku mau nasi goreng komplit special tapi karena khawatir kemahalan, pesannya jadi yang biasa. Padahal uangnya cukup. Kenapa harus sayang uang kalau memang nasi gorengnya worth it untuk disantap? Kepuasan batin itu kalau yang kita inginkan dan butuhkan tersaji lengkap, toh? Kita ingin nasi goreng sebagai penghilang lapar. Kita butuh nasi goreng terenak sebagai balasan dari kerja keras (baru deal proyek oke).

Ubah jodoh yang sudah disediakan untuk kita. Bisa nggak? Bisa banget. Pakai kekuatan doamu. Kamu harusnya berjodoh dengan A. Tapi doamu yang senantiasa terpanjatkan, mengubahnya menjadi B. Oh ya, syarat dan ketentuan berlaku ya.:mrgreen: Makanya gimana agar cintamu tak menjadi selingkuhan, tetapi menjadi jodoh yang benar-benar kaumiliki utuh 100% jiwa raganya. Jangan biarkan cintamu tak berjodoh denganmu dong ah!

“Cinta tak harus memiliki, An.” Pret! Miliki cintamu! Doa, minta pada Tuhanmu agar Dia mendengar dan menjadikan cintamu itu jodohmu. Kalau gagal? Coba lagi😀 Makanya jangan keburu pasrah dengan apa yang disodorkan. Nego boleh kok. Tapi tetap ya, mintanya yang masuk akal. Harus ada unsur iman yang kuat dalam pemilihan jodohmu agar Dia memberikan yang terbaik. Jadi ya nggak ngasal gitu lho! Ribet? Emang! Siapa bilang mudah ketika membicarakan jodoh dan cinta. Ini kayaknya mending dibukukan ya? Muehehehehe😆

Kembali ke masalah awal. Jadi bagaimana jika tetap berselingkuh? Hm, itu hanya kosa kata yang dipilih masyarakat untuk menghukum para “pendosa” yang dinilai tak setia pada pasangan sah. ngek Demi topan badai (Haddock style mode: on), siapa yang gak mau setia sih pada pasangannya? Siapa? Aku tipe yang hanya akan setia pada satu orang. Setia gimana? Iya, ketika aku menikah, aku hanya akan fokus pada satu pria untuk urusan keluarga. Tapi aku tetap tak akan kuasa bila ternyata aku akan jatuh cinta atau mencintai pria lain. Suami harus tahu? Ya. Biar bagaimana pun dia harus mengetahui apa yang terjadi dengan perasaanku. Pun, aku ingin suami jujur bila ada perempuan lain yang memikat hatinya. Untuk apa? Diskusi. Mengapa aku bisa mencintai pria lain? Mengapa suami bisa mencintai perempuan lain? Apa yang tak bisa kita berikan pada pasangan sah kita?

Mampus dah, mbulet gini pembahasan😀 Jadi, menjawab pertanyaan pada judul sih sebenarnya cukup dengan dua kata: tidak harus. Sekian. gak terima protes, inget disclaimer😆

Aku mencintaimu, aku jatuh cinta padamu, aku setia padamu, dan aku merindukanmu adalah empat aktivitas yang berbeda. Aku bisa saja melakukannya pada empat pria berbeda pula. Salah? Menurut lo? Masalah buat lo?:mrgreen: Tetap, cinta sejati sebisa mungkin berjodoh. Tetapi jodoh tak melulu cinta sejati. Paham? benerin sasak

One thing I will always remember: Kita bisa memilih dengan siapa menikah, tapi tak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta.

Yasudahlah ya, panjang juga surat ini. Nanti kubukukan. Dalam hati dan pikiranmu.

-Yours-

2 thoughts on “Haruskah Berjodoh Dengan Cinta Sejati?”

    1. Dear Upik, ya gapapa kok. Buat saya, itu gak papa. Kita bisa mencintai orang lain yang bukan pasangan sah. Tetapi seperti tulisan di atas, justru hal ini harus dibicarakan dengan pasangan. Keterbukaan. Komunikasi dengan suami / istri. Mengapa bisa terjadi jatuh cinta dengan orang lain? apa yang tidak bisa diberikan oleh pasangan kita? Apa yang harus diperbaiki?

      Namun, bukan berarti kita membenarkan bahwa kita boleh larut dalam cinta yang lain itu. Pernikahan adalah perjanjian maha berat antara kita dengan Allah langsung. Setelah diskusi dengan pasangan, cobalah untuk mengubah kebiasaan dalam mencintainya. Seperti yang dia mau, dan yang kita sanggup berikan. Terakhir, kembalikan semua cinta hanya kepada Allah.

      Terima kasih sudah mau mampir ke sini😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s