Kumpulan Renungan Untuk Muhasabah Diri (1)

  1. Artikel dari SINI

JANGAN PERNAH MENILAI SESEORANG DENGAN MELIHAT MASA LALUNYA

Ust. Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Betapa banyak diantara kita yang memiliki masa lalu yang kelam…
Jauh dari sunnah…
Jauh dari hidayah…
Tenggelam dalam dunia yang menipu…
Terombang-ambing dalam kemaksiatan yang nista…

Bukankah banyak sahabat radhiallahu ‘anhum yang dahulunya pelaku kemaksiatan?
Peminum khamr. Bahkan pelaku kesyirikan?

Akan tetapi tatkala cahaya hidayah menyapa hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada di atas muka bumi ini.

Bisa jadi Anda salah satu dari mereka, para ikhwan/akhwat yang memiliki masa lalu yang kelam…
yang mungkin saja kebanyakan orang tidak mengetahui masa lalu kelam Anda.

Sebagaimana Anda tidak ingin orang lain menilai dengan melihat masa lalu kelam Anda, maka janganlah Anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yang buruk…..

Yang menjadi patokan adalah kesudahan seseorang…
Kondisinya tatkala akan meninggal, bukan masa lalunya.

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda “Amalan-amalan itu tergantung akhirnya.”

=-=-=-=-=-=-=

  1. Artikel dari SINI:

TAMPAN DENGAN SUNNAH

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim )

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى

“Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim)

Catatan:

Saat pelajaran mata kuliah Qodho’ (peradilan dalam Islam), dosen saya mengatakan:

“Mayoritas ulama sepakat bahwa diwajibkan diyat penuh bagi setiap rambut yang empat, yaitu rambut kepala, jenggot, bulu alis dan bulu mata. Dan bagi setiap satu alis setengah diyat, sedangkan bagi satu bulu mata seperempat diyat.

Dia terdiam sejenak, lalu berkata:

“Ikhwah sekalian, berapa jumlah uang yang anda berikan kepada tukang cukur? Tahukah anda apabila seseorang dengan sengaja mencukur jenggot Anda, maka dia wajib membayar diyat?

Tapi anehnya, sebagian orang malah menyuruh orang lain mencukur jenggotnya dengan bayaran yang murah.
Mencukur jenggot adalah perbuatan maksiat, dan menggunakan harta untuk membayar jasa tukang cukur sama halnya dengan membelanjakan harta dalam rangka bermaksiat kepada Allah.”

Mungkin ada yang akan menyela dan berkata, “Tapi sebagian ulama hanya memakruhkan?”

Baiklah..
Makruh menurut bahasa adalah sesuatu yang dibenci, dan dalam istilah ahli ushul adalah sesuatu yang apabila dikerjakan tidak mendapat dosa dan apabila ditinggalkan akan mendapat pahala.
Nah, kenapa kita rela kehilangan pahala dan memilih tidak mendapatkan apa-apa?
Bukankah seorang muslim dianjurkan supaya berlomba-lomba dalam kebaikan?

Wallahu a’lam

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

3. Artikel dari SINI:

SAAT ANDA BERLUMURAN DOSA

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA,  حفظه الله تعالى

Saat Anda berlumuran dosa; memperbanyak ISTIGHFAR lebih afdhol daripada banyak bertasbih.

Ibnul Qayyim -rohimahuLlah- mengatakan:

“Ada seorang ulama ditanya: Manakah yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, bertasbih atau beristighfar?

Dia menjawab: Bila sebuah pakaian bersih, maka parfum dan air mawar lebih bermanfaat baginya.

Tapi apabila pakaian itu kotor, maka sabun dan air panas lebih bermanfaat baginya”.

[Alwaabilus shoyyib, Ibnul Qayyim, 92]

———

Mungkin ada yang bertanya, berarti kita akan beristighfar saja, karena kita selalu merasa berlumuran dosa?

Kita katakan: “memperbanyak istighfar”, bukan berarti tidak membaca dzikir yang lain sama sekali.

Dan tidak diragukan lagi bahwa perasaan ‘berlumuran dosa’ tidak akan selamanya menghinggapi diri kita, pasti ada saat-saat kita merasa dekat dengan Allah ta’ala, wallahu a’lam.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

4. Artikel dari sebelah SINI:

SHALAT MALAM DALAM KEADAAN NGANTUK

Ust. M Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Seringkali kita melakukan shalat malam dalam keadaan ngantuk. Apa baiknya jika dalam keadaan capek dan ngantuk, kita memilih istirahat ataukah melanjutkan shalat malam (shalat tahajud)?

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّى فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِى لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

“Jika salah seorang di antara kalian dalam keadaan mengantuk dalam shalatnya, hendaklah ia tidur terlebih dahulu hingga hilang ngantuknya. Karena jika salah seorang di antara kalian tetap shalat, sedangkan ia dalam keadaan mengantuk, ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun tetapi ternyata ia malah mencela dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 212 dan Muslim no. 786).

Ibnu Hajar memberikan faedah untuk hadits di atas, “Hadits di atas menuntun kita untuk khusyu’ dalam shalat dan menghadirkan hati ketika melakukan ibadah. Hadits tersebut juga mengajarkan untuk menjauhi setiap yang dimakruhkan dalam shalat. Juga bolehnya berdoa dengan doa apa pun tanpa mesti mengkhususkan dengan doa tertentu.” (Fathul Bari, 1: 315)

Imam Nawawi juga menjelaskan, “Hadits di atas mengandung beberapa faedah. Di antaranya, dorongan agar khusyu’ dalam shalat dan hendaknya tetap terus semangat dalam melakukan ibadah. Hendaklah yang dalam keadaan ngantuk untuk tidur terlebih dahulu supaya menghilangkan kantuk tersebut. Kalau dilihat ini berlaku umum untuk shalat wajib maupun shalat sunnah, baik shalat tersebut dilakukan di malam maupun siang hari. Inilah pendapat madzhab Syafi’i dan jumhur (mayoritas) ulama. Akan tetapi shalat wajib jangan sampai dikerjakan keluar dari waktunya. Al Qodhi ‘Iyadh berkata bahwa Imam Malik dan sekelompok ulama memaksudkan hadits tersebut adalah untuk shalat malam. Karena shalat malam dipastikan diserang kantuk, umumnya seperti itu.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 67-68).

Syaikh Musthofa Al Bugho menyatakan bahwa hadits di atas menjelaskan terlarangnya memaksakan diri dalam ibadah dan bersikap berlebih-lebihan. Jika seseorang berlebih-lebihan dalam ibadah, ia tidak bisa menggapai tujuan, malah dapat yang sebaliknya, yaitu mendapatkan dosa. (Nuzhatul Muttaqin, hal. 88).

Baca selengkapnya :
http://rumaysho.com/shalat/shalat-malam-dalam-keadaan-ngantuk-8430 (172)

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Semoga bermanfaat🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s