Sebelum Berakhir

Jangan berakhir
Aku tak ingin berakhir
Satu jam saja
Kuingin diam berdua
Mengenang yang pernah ada

Jangan berakhir
Kar’na esok tak ‘kan lagi
Satu jam saja
Hingga kurasa bahagia
Mengakhiri segalanya

Tapi kini tak mungkin lagi
Katamu semua sudah tak berarti
Satu jam saja
Itu pun tak mungkin
Tak mungkin lagi

Jangan berakhir
Kuingin sebentar lagi
Satu jam saja
Izinkan aku merasa
Rasa itu pernah ada

(Satu Jam Saja - Asti Asmodiwati)

=================

Jika memang harus kuhentikan langkah
Kupastikan semua berhenti ketika kau minta
Hanya ingin kupastikan seluruh rasa yang pernah penuhi jiwaku
Tekankan sekali lagi galau resah yang slalu mengganggu

Sejenak kurasa desir halus saat terucap namamu
Sapa hangat dan senyum manis yang mengoyak hati
Semua lakumu yang membuatku lena

Saat ini, ingin kuulang semua…
Sebelum berakhir…

Tiada komentar »

Satu?

Satu?

Bukan, bukan satu yang kuminta

Dua?

Oh, tidak! bukan dua seperti itu!

Tiga?

Aku tak memilih tiga…

Dalam diam, aku menunjuk pada satu tetapi bukan satu seperti itu!

Ya, satu!

Satu dalam sepuluh, dalam seratus, dalam sejuta

Satu: hening kemudian sepi

Satu…

Mengapa? Karena aku memilih satu itu untuk diriku agar tetap dalam sepi seperti yang biasa

Tiada komentar »

Definisi yang Sebenarnya

Aku tak mencarinya dalam kamus Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Aku juga tidak mengetahui arti, makna, dan definisi lengkapnya. Tetapi aku merasa hati dan pikiranku memahaminya secara alami.

Sahabatku yang sudah mengetahui ‘jeroanku’ dari semenjak kami belum sekolah… Adalah salah satu mutiara yang akan kujaga hingga akhir hayat. Si pencinta warna ungu itu benar-benar istimewa. Memang tidak selalu mujus perjalanan persahabatan kami. Pernah kami salah paham, pernah kami tak sepakat, pernah kami berbeda maksud. Namun semua itu dapat kami pecahkan melalui pembicaraan dari hati ke hati.

Setiap ada masalah berat, aku bisa dengan santai mengalirkan ‘genangan air kotor’ dari hati dan otakku agak tak memenuhinya hinga menyimpan bau tak sedap. Dia yang membersihkannya dengan caranya yang unik. Aku menyukainya.

Satu lagi sahabatku yang baru kudapatkan saat aku kuliah. Ibu dua anak cantik, seorang periang bersuara cempreng itu sungguh baik luar biasa. Ketika aku pulang dari rumahnya setelah menengoknya yang baru melahirkan, dia berucap, “An, jangan pernah kamu lupa bahwa kamu pnya saudara di sini.” Hatiku meleleh karena terharu. Ya Rabb, indahnya persahabatan ini. Dia pun bukannya orang yang 100% sempurna. Kami pun pernah berselisih paham hingga meledak-ledak. Tetapi semuanya berakhir baik.

Kemudian, seroang akhwat penulis kreatif anggota FLP yang belum lama kukenal melalui dunia maya. Akhwat cantik luar dalam dengan kelembutan bak bidadari surga… Duh CInta Sejatiku, dia yang sudah kuanggap kakakku sendiri, dengan caranya yang unik selalu menasehatiku tanpa segan. Dia memahami karakterku yang labil dan keras. Dia mengimbanginya dengan sabar dan senyum. Sungguh, kecantikan yang murni…

Ketiga muslimah inilah yang menemani hari-hariku… Jadi, aku merasakan definisi persahabatanku bisa dijabarkan kurang lebih: mengenal, memahami, memaklumi, mengalah, dan memaafkan. Definisi yang sederhana namun menjelaskan dengan tepat.

Ketiganya sudah menjelma menjadi muslimah pejuang dalam rumah tangga mereka, larut dalam kesibukan dunia baru mereka, namun tak melupakan barang sedetik seseorang yang begitu rapuh yang selalu membutuhkan mereka. AKU.

Mereka memahami kondisi kejiwaanku yang sungguh labih dan emosional. Mereka mengerti setiap kata-kata yang keluar dari mulutku itu maksudnya apa. Mereka selalu menyiapkan rengkuhan tangan mereka untuk memelukku. Setiap saat.

Apa yang bisa kubalas untuk mereka? Hanya sebuah untaian doa pada Sang Kekasih, “Allah, aku memohon kepadaMu dengan segala kerendahan hati dan kehinaanku sebagai hambaMu yang dho’if ini… Jagalah tiga mutiara indah yang Kautitipkan padaku ini agar terhindar dari segala sesuatu yang buruk. Ijinkan aku untuk dapat bersama-sama mereka di JannahMu, Rabb. Mereka terlalu baik. Kebaikan yang berasal dariMu. Kebaikan yang selalu mendatangkan manfaat dunia akhirat. Rabb, aku mencintai mereka karenaMu. Ridhoi setiap langkah mereka. Lindungi keluarga mereka. Berkahi dan lapangkan rezeki mereka. Allahumma amien.”

Untuk saudari-saudariku terkasih: Ve, Q, teteh…

Tiada komentar »

Betapa Allah Sayang…

Sungguh, bila bukan karena cintaMu, Rabb… Aku tak akan bertahan sekuat ini… Tak akan berjalah sejauh ini…

Rasanya baru kemarin Engkau menyapaku dengan sebuah surat cinta,  yang tak pernah aku mengerti maksudnya. Sampai pagi ini, ketika semuanya terkuak, baru kusadari… Memang ini bentuk cintaMu yang selalu terasa indah…

Tak mengapa bila aku memang harus begini, membuatku semakin merinduMu, Cinta…

Tak peduli semua orang membenciku, asal Kau tetap mencintaiku…

Tak peduli semua orang menjauhiku, asal Kau tetap di dekatku…

Biarlah ini kusimpan sebagai tabunganku agar kelak dapat kupakai sebagai tanda masuk ke dalam JannahMu, Rabb…

Insya Allah aku siap untuk surat cintaMu yang selanjutnya…

Tiada komentar »

MILAD

Astaghfirullahal ‘adziim…
Astaghfirullahal ‘adziim…
Astaghfirullahal ‘adziim…

Inna lillaahi wa inna iLaihi rajiuun…

Ya Rabb, berkurang lagi jatah usiaku dari yang sudah Kau tetapkan untukku… Semakin dekat aku untuk kembali padaMu… Kesempatan memperbaiki diri hampir berakhir…

Ya Rabb, sujud syukur hamba karena pada hari ini hamba masih diberikan nikmat iman dan Islam hingga masih dapat merasakan cintaMu dalam segala hal…

Ya Rabb, biarkan cintaMu memenuhi hatiku hari ini lebih dari biasanya. Biarkan aku merasakannya melalui interaksiku dengan semua orang yang kusayang dan yang menyayangiku…

===

Terima kasih atas segala cinta yang kuterima dari seluruh orang yang aku sayang dan yang menyayangiku… Sungguh, tanpa kalian, aku tak berarti apa-apa…

Allah, cintaMu dalam hatiku memenuhinya begitu… (Cinta Saja -DEBU)

Tiada komentar »