RSS

THIS BIG

untukmu, yang selalu menghiasi mimpi terindahku setiap malam.

surat ini tak akan panjang. hanya berisi sebuah harapan. sebelumnya, AKANKAH aku mendapat balasan dari segala doa-doa selama ini? sepertinya tak lama lagi terjawab. berhari lalu, KAMU bilang padaku bahwa kesibukanmu akan sangat menyita waktu. aku memakluminya dan tetap mendoakanmu yang terbaik. aku juga BERJANJI tak akan mengomel bila kamu lupa mengabariku atau membalas sms. memang tak mudah UNTUK tidak khawatir karena aku tahu fisikmu yang mudah lelah.

karena itulah, aku TETAP mendoakanmu setiap saat. meski tak terdengar olehmu, tetapi hatiku MENGHADIRKAN bisikan selaksa rindu hanya padamu. aku yakin kamu bisa merasakannya.

seperti kemarin, ketika langit SENJA tampak merona dalam semburat jingganya, kutahu bahwa kamu baik-baik saja. meski pun aku merasakan kelelahan pada dirimu, aku ingat ucapanmu PADAKU agar aku tak pernah mengkhawatirkanmu.

ah, menunggumu pulang SEPERTI ini membuatku galau, jika tak boleh disebut cemas. semoga saja ketika kau kembali, HARAPKU menjadi nyata. kamu datang membawa semesta cinta. menghabiskan waktu MENUA hanya denganmu. menikmati teh hangat di teras, membicarakan kisah masa lalu dengan tawa bahagia. aku hanya ingin BERSAMAMU menghabiskan waktu di kebun teh ketika langit tersenyum penuh arti.

~Januari 2012~
PS: sepertinya kamu harus membaca yang berhuruf kapital dengan seksama ya? yes, I LOVE YOU THIS BIG!

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 29, 2012 in Hatiku, Menulis, Segala Cinta

 

Kaitkata: , , , ,

Kenangan Terbaik Bersamamu

Kepada: kamu yang sudah melindungiku selama hampir 11 tahun.

Hai kamu, yang selama ini menemaniku dalam diam.
Pertama kali aku bertemu kamu, sapamu begitu hangat dan menggoda. Penuh percaya diri, kamu mengerling manja seolah berkata, ‘pilihlah aku!’ Jelas tawaranmu sungguh menggoda. Aku melirik pada adikku dan dia setuju. Ahay, baiklah! Senang rasanya pencarianku berakhir melegakan.

Masa bulan madu denganmu memang indah. Mulus bagai jalan tol. Kamu tentu ingat, bukan? Ya, memang bahagia mendengar banyak celoteh ketika bersamamu. Ramai gelak tawa dengan sesekali emosi di sekeliling kita.

Bertahun kemudian…
Ah, Pernahkah aku berbisik padamu, bahwa kebersamaan kita tiada abadi? Tempatku bukan bersamamu. Adikku yang lebih berhak. Suatu saat aku harus menjauh darimu. Mandiri. Aku tak akan selamanya di sini. Kuharap kamu mengerti itu.

Gelisahku semakin tak terbendung…
Kamu tahu bahwa waktuku bersamamu semakin sempit. Nafasku terkadang sesak bila memikirkan betapa beratnya meninggalkanmu. Maafkan aku.

Entah berapa kali aku mencoba untuk tetap bertahan denganmu. Bahwa semua baik-baik saja. Bahwa kita ditakdirkan menghabiskan waktu bersama. Bahwa selamanya waktu menjadi milik kita. Tetapi demi Tuhan, ternyata aku salah. Aku tak lagi bisa membohongi diriku sendiri. Aku harus berpisah denganmu.

Aku semakin tersiksa dari waktu ke waktu. Ada saja pihak ketiga yang semakin meyakinkanku untuk menjauh darimu. Aku bingung. Aku sedih. Aku muram. Maafkan aku, ya?

Kini, satu per satu penghalang sudah mulai terlepas. Aku siap untuk berpisah denganmu. Ternyata, sepertinya adikku juga akan ikut pergi bersamaku. Kamu, akan menemukan pasangan barumu segera. Kamu harus senang dong? Siapa tahu, ada yang akan mendandanimu lebih keren lagi? Ternyata aku tak bisa memberimu pelayanan yang terbaik. Maaf…

Suratku tak akan panjang, karena hanya akan menambah beban bagi kita berdua. Apalagi, ternyata kamu juga mulai tak nyaman denganku. Berdoalah pada Tuhan, agar mengabulkan permohonan kita berdua.

Salam sayang selalu,
Penghuni bilik sederhanamu.

PS: Kalau pemilik dan penghuni barumu ingin merombak tampilanmu secara total, tak apa. Kamu pasti lebih keren setelah diperbaiki total. Istilah temanku si arsitek: renovasi mayor.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 28, 2012 in Hatiku, Menulis, Renungan, Segala Cinta

 

Kaitkata: , , , ,

Jangan Menangis, Manis

Teristimewa
Untukmu yang justru membuatku menangis karena bahagia setiap hari.

Iya, ini untukmu.
Sebuah surat terbuka yang kutulis, agar semua orang dapat membacanya. Bukan hanya kamu. :)

Aku masih mengingat tentang sebuah link lagu yang kauberikan di pagi hari. Tahun lalu, hari Kamis. Maka, sejak hari itu, setiap minggunya, aku akan memutar lagu yang sama pada jam yang sama. Terdengar seperti lagu wajib ketika upacara bendera saat kita masih bersekolah dulu ya? :D

Surat ini tak akan panjang. Sepertinya aku memang tak ahli untuk memberi rayuan gombal lewat tulisan. *keselek* Entahlah, mungkin karena malu surat ini dibaca khalayak ramai. #tsaaaaahhh

Kamu memang selalu membuatku menangis. Kadang benar karena aku jengkel padamu yang sulit dihubungi. Di lain waktu karena khawatir mendengar suaramu terbatuk-batuk di telepon. Atau ketika aku begitu bahagia karena beruntung bertemu denganmu.

Tuhan punya selera humor yang aneh, kata orang. Dulu aku mencibir pernyataan ini. Ironisnya, kini aku mengamini tanpa menyesal. Mengapa? Karena dulu aku pernah mengatakan dengan tegas, pantang bagiku jatuh cinta pada seseorang yang telah kuanggap sahabatku sendiri. Nyatanya? *siap ditimpuk* *pakai uang seratus ribuan, tapinya*

Selalu berdesir ketika kamu, yang terbiasa menemani sepiku tersenyum dan bertanya, “Sudah makan?” Tetapi kemudian kamu sendiri yang menjawab, “Sudah kuwakili kok. Tenang saja. Tadi aku makan peda dan sayur asem. Dua porsi. Cukup, kan?” Kemudian kita tertawa bersama. Menyenangkan.

Banyak yang bilang (lagi-lagi ini sih kata orang) bahwa kita adalah pasangan jiwa. Bahasanya si William tuh artinya Soul Mate, gitulah. Banyak doa yang terkirim melalui DM, inbox, YM, dan sms. Aku hanya bisa mengamini. Tentu saja, sambil menangis.

Ya, jika aku sudah menangis, yang kamu lakukan hanya mengomel kecil atau bahkan tertawa, sepertinya masalahnya terlalu kubuat besar dan berat. “Ya, terus mau gimana? Udah kejadian kan? Gak usah nangis! Cari jalan keluarnya. Nangis gak bikin masalah kelar juga, kan?” omelmu santai. Nyebelin banget! Tapi aku sadar bahwa itu benar. Kamu, dengan caramu sendiri, mengajarkanku untuk tidak manja. Dan, lagi-lagi hal ini menjadi komentar teman-teman dan saudara. “So sweet banget deh dia itu!” Hah? *mikir*

Kamu juga pernah berjanji bahwa kamu akan selalu ada untukku, meski tak secara nyata. “Masih ada YM, sms, DM, dan inbox FB kan?” Saat itu aku hanya diam tak mengerti. Tetapi setelah sekian lama, aku tertawa kecil dan mengangguk pelan. Sepertinya ini latihan untukku :) (tentu kamu mengerti maksudku, bukan?)

Aku pun berusaha berjanji untuk tidak menangis lagi. Oh ya, mungkin aku akan melanggarnya, karena kamu sangat mengenalku sebagai Si Cengeng yang mudah panik. Euh, baiklah. Maafkan aku. Aku selalu mengingat cengiran khasmu yang membuatku keki. Setiap kali kepanikan melanda, kamu hanya membiarkanku hingga akhirnya meledekku, “Emang biasa gitu. Kalo udah panik, akal sehat gak dipake.” *muka super lempeng* Haeh!

Ada satu saat ketika aku (mungkin) tak akan berhenti menangis. Kuharap itu adalah tanda bahwa aku bahagia. Bukan karena hal yang lain. Sebelum hari itu tiba, aku akan menunggumu di tempat biasa, sambil mendengarkan lagu-lagu yang kaukirimkan untukku.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca surat ini. Kembalilah beraktivitas dan jangan lupa makan! Ingat, wakili juga diriku ya? :)

Januari 2012,
dari wanitamu yang menunggu dengan sepotong senja di hatinya.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 26, 2012 in Hatiku, Menulis, Segala Cinta

 

Kaitkata: , , , ,

Ada yang Minat dengan Rumahmu? Waspadalah!

“Ass. maaf. sy ibu EKA yg kemarin liat RUMAHnya. merasa cocok dan berminat.jd untk masalah harga silahkan hubungi suami sy H.ANTON di no 081219369357. tks” ~> pengirim nomor 083896944608

“Ass mf sy bu hj.NURMA udh smpat liat lokasi rmh ibu bpk yg mau djual kmi masa cok2.U/nego hrg kmi khn hub: suami sy H.SUGIARTO 085315282238 Wsslm” ~> pengirim no 083878804477

“Ass.Maaf,sy ibu Gina yg kemarin liat RUMAH nya,mrasa cocok dan berminat,jd untk masalah harga silahkan hubungi suami sy.SOFYAN LUBIS di no 081219369379.Tks” ~> pengirim no 083879771459

Perhatikan nomor pengirimnya. Operatornya sama ya? Perhatikan isi sms yang senada (itu asli aku copy dari hape).

Dalam sebulan ini, gencar sekali mereka mengirimkan ‘teror’ sms ini. Bagaimana mereka bisa tahu nomor hapeku? Karena aku mengiklankan rumah di internet, melalui website dan twitter. Tentu saja, ada nomorku di sana, kan?

Setelah pengiriman sms itu, lantas bagaimana mereka bekerja? Tunggu, mereka? Ada berapa orang di sini? Hm, sebaiknya baca saja hingga selesai.

Pertama, salah satu dari mereka akan dengan gencar mengirim sms hingga kita merasa bahwa mereka serius. Lalu, karena penasaran, pasti kita sebagai penjual rumah akan percaya dan menelepon ke nomor yang telah diberikan. (yang katanya sih SUAMINYA itu :D )

Kemudian, terjadilah percakapan negosiasi harga di telepon dengan sangat meyakinkan. Contohnya nih:
Jual: “Selamat pagi, Pak Anton. Saya Hilda, pemilik rumah di Jalan Angsa. Tadi saya terima sms dari istri Bapak.”
Beli: “Oh, ya ya! Benar! Aduh, maaf ya? Saya sedang di luar kota. Nanti saya hubungi lagi. Ini lagi meeting. Sekitar setengah jam ya?”
Jual: “Baik. Saya tunggu.”

Kemudian, “si calon pembeli” akan menghubungi pemilik rumah lagi.
Beli: “Bu Hilda? Iya, kami rasa rumah Ibu cocok untuk kami. Berapa Ibu jual?”
Jual: “Saya minta sih 350 juta, Pak.”
Beli: “Apa masih bisa kurang?”
Jual: “Bapak ada dana berapa? Bisalah sedikit.”
Beli: “Pasnya aja deh.”
Jual: “Ya udah, kalau Bapak benar minat, saya kasih 330 deh. Gimana?”
Beli: “Oke deh. Saya mau transfer DP ya, Bu? Ini sebagai pengikat. Jadi kalau ada yang nawar rumah Ibu, jangan dikasih. Itu sudah saya beli. Nanti saya kirim DP. Sepuluh juta oke ya, Bu?”
Jual: “Oke, gak masalah. Nanti saya buatkan tanda terimanya.”
Beli: “Nomor rekening Ibu berapa? Ada rekening apa?”
Jual: “Mandiri. Bisa?”
Beli: “Oke. Bisa. Saya nasabah Mandiri juga.”
Jual: “Ini nomer rekening saya:………………..”
Beli: “Nanti jam 5 sore saya transfer. Kalau sudah masuk, kabari saya ya Bu?”

Kemudian, “si calon pembeli” akan menelepon pada pukul 5.15 sore.
Beli: “Sudah masuk Bu, transfer dari saya?”
Jual: “Belum, Pak.”
Beli: “Gak mungkin. Barusan saya taransfer kok, Bu. Sudah cek di ATM?”
Jual: “Pak, ngapain saya cek di ATM? Saya selalu dapat notifikasi dari sms kalau ada pengiriman dana di atas 1 juta di rekening saya.”
Beli: “Gak mungkin, Bu. Baru aja saya transfer.”
Jual: “Pak, gak usah ngotot. Tadi sudah saya jelaskan kalau saya pasti dapat notifikasi dari Mandiri jika ada dana masuk leibh dari 1 juta.”
Beli: “Sms Ibu error kali? Coba cek aja ke ATMnya.”
Jual: “Ya ngapain juga saya ke ATM. Selama saya belum dapat notifikasi, saya gak akan ke ATM, Pak. Lagian kalau sudah terima, saya tinggal sms Bapak, kan? Tanpa perlu ke ATM.”
Beli: “Gak beres ini. Tunggu, saya telepon call center Mandiri dulu. Saya nasabah Mandiri Prioritas lho.”

Telepon ditutup dengan tergesa. Sekitar 10 menit kemudian, “si calon pembeli” menelpon dan mengatakan bahwa menurut Call Center, jaringan Mandiri offline. It was weird, wasn’t it? Kemudian, dia akan meminta lagi rekening lain yang mempunyai saldo minimal 500ribu.

Jangan pernah memberitahu kepada mereka jumlah saldo kita. Karena akan lebih mudah bagi mereka untuk melanjutkan aksi. Kemudian, kita akan kembali diminta untuk cek ke ATM. (teteup ya bo?)

Intinya, “si calon pembeli” akan memaksa kita untuk ke ATM. Setelah sampai di ATM, dia akan menelepon kita dan membuat three on three call yang katanya adala Call Center. Emangnya bisa? Lalu dia mematikan sambungan dia dan kita menjadi terhubung dengan “si call center” itu.

Kemudian, dia (“call center”) akan memaksa kita untuk mengikuti arahan dari dia ketika memasukkan kartu pada mesin ATM. JANGAN PERNAH LAKUKAN HAL INI. Segera matikan ponsel dan keluarlah dari bilik ATM.

Jadi,
Abaikan saja sms semacam itu. Pertama.
Kedua, jangan pernah menjawab telepon (ponsel) di ATM bila dari nomor tak dikenal.
Ketiga, jangan sebutkan jumlah saldo rekening Anda.
Keempat, sebarkan nomor2 telepon di atas untuk keselamatan orang-orang yang Anda cintai dan keamanan saldo rekening Anda ;) Kalau mau transfer ke aku, boleh banget! *diganyang seantero bumi* :D :P

Oke, sekian dan terima ajakan makan malam. #eh :D

UPDATE:
ada lagi nih:
“Ass. sy bu rita.mau confirmsih mngnai RUMAH yg anda tawarkan.sy rasa cocok & sy berminat,untk nego hrg hub suami sy pak H.DARMAWAN Hp 081287388436″ ~> pengirim nomor 081286844283.

 
2 Comments

Posted by pada Januari 25, 2012 in Big Problem, Renungan, Sahabat

 

Kaitkata: , ,

Saat Nyalon, Saat Curcol

Untuk gadis hitam manis yang selalu ditunggu oleh krucilku: @SiGadisPemimpi :)

Tante Saidah yang baik,
Sedang apa sekarang? Kelaparan? Biasanya langsung ke dapur mencari apa saja yang bisa di makan ya? Hehehe… Atau sedang membaca sebuah buku dan tidak tuntas entah dari kapan, begitu? Yah, nasib deh! :D

Tante Sai,
Kapan dong kita ngerumpi lagi? Ngobrol dari hati ke hati dan kalau perlu sampai menangis… Aku mungkin segera akan pindah ke Bandung. Rasanya akan semakin sulit untuk kita bertemu. Lah, ini satu kota saja sudah jarang berkomunikasi :( Tapi biasanya, kalau sudah berjarak, bisa lebih sering terhubung. Biasanya… Gimana? Hihihihi…

Coba kuingat dulu, kapan pertama kali kita kenal? Yang pasti kita adalah angkatan pertama NulisBuku :D Proyek apaaaaa??? #99WritersIn9Days, yes? Hehehehe… Dan saat itu pun aku belum mengenalmu, kok :D Aku lebih dulu mengenal Adyta Purbaya dan Vira si Lajang Jalang (ni bakal dibaca dia gak ya?).

Jelas aku bingung kalau harus menulis tentangmu, Sai. Yang jelas aku sangat berterima kasih karena kamu sudah bersedia menampung segala gelisah dan sesak di dadaku. Terutama, ya, kamu tahu…

Hari Sabtu 11 November 2011. Saat aku merasa tak ada tempat untuk menumpahkan rasa sedih yang sudah membuatku timpang. Kamu hadir membentangkan kedua lenganmu dan memelukku erat. Yang kusadari, aku langsung menjebolkan bendungan hilir, eh, air mata ini. Itu sungguh sesuatu banget untukku.

Trus, kita tuh nyalonnya kapan ya? Saat itu juga aku masih desperado dan dengan manjanya memintamu menemaniku back therapy. Untungnya kita punya voucher Moz5 Salon, jadi dobel nikmatnya. *apadeh* Pulang nyalon, kita ngebakso dan menu yang kupesan dengan yang diantar beda. Untungnya (lagi), tidak masalah dengan seleraku. (ya, padahal sih laper to the max :D )

Nah, kapan dong kita nyalon lagi? Oh ya, kalau aku jadi pindah ke Bandung, semoga dekat dengan Moz5 Salon. Jadi, kalau kamu main ke Bandung, kita kan bisa rumpi lagi sambil meni pedi gituuuhhh… :D Karena waktu aku ke Bandung minggu lalu, pas nyari makan siang, eh ngelewatin Moz5 yang di Soetta. Hm, ini kode dari Allah, Sai. #kodesekodekodenya! *ngakak*

Sai,
Aku juga mau kok sekali-kali dicurhatin sama kamu (lagi). Aku belum tahu perkembangan gosip tentangmu ituh. Hihihihi… Kapan pun kamu butuh aku, insya Allah aku siap. :) Minimal di DM twitter deh ;)

Sungguh, aku sangat berterima kasih untuk pelukanmu di Sabtu malam itu. Aku tak bisa membayangkan melewati seminggu itu tanpa pelukanmu. Pelukan yang insya Allah menguatkanku menjalani hari-hariku. And it works! Now, my feeling is better than last year. My relationship with him become stronger than before. Thank you, sista! Seperti katamu, bersabar.

Tentu saja, dalam setiap hubungan, bukankan pengertian dan kesabaran itu nomor satu? Ditambah dengan perjuangan yang tulus, tak mungkin Allah balas selain dengan cinta-Nya yang indah. Betul, kan? (iye, bahasa lo, An!)

Doakan segalanya menjadi lebih baik tahun ini. Untuk anak-anakku. Untukku. Untuk kamu. :) Semoga, Allah mempertemukan kita dalam keadaan sehat dan tanpa air mata kesedihan lagi. AMIIN yang kenceng! :)

Semoga karir yang kamu impikan juga tercapai. Bisa menulis dengan rutin dan produktif. Menemukan jodoh terbaik dari Allah. Siapa tahu, kelak kita bisa ngerumpi tentang anak cucu kita sambil meni pedi :D

Januari 2012,
Peluk ciumku dari jauh, seperti biasa.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 25, 2012 in Hatiku, Menulis, Sahabat, Segala Cinta

 

Kaitkata: , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.