In Allah We Trust :)

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

Kelak, Ketika Kita Bertemu

Kelak, Ketika Kita Bertemu

embun-akung

photo credit to: Dedi Sobari

Kelak, ketika kita bertemu akan kutadah
kata-kata yang mengalir dari matamu.
Kutampung dalam helai-helai daun.
Kubiarkan malam menguapkan menjadi
embun. Dan, di suatu pagi akan kau
temukan puisi di samping tempat
tidurmu. Puisi dari kata-katamu sendiri.

2010
~ Lelaki Budiman ~

Semua Juga Butuh Modal!

Iya, deh! Semua? Benar. Semua aspek dalam kehidupan kita membutuhkan modal. Dan harap diingat, modal itu tak melulu soal materi, uang di bank, tanah yang bisa dijual, atau segenggam berlian. Ada yang namanya nyali, semangat, dan harapan. Oh, kamu boleh menyebutnya apa pun. Tak terlihat secara langsung, tetapi cahaya mata bisa memancarkannya.

shutterstock_124302109

 

credit image from Shutterstock

Well, salah satunya tentang banyaknya ide berkeliaran di alam pikiranku. Mau bikin ini, mau usaha ini, mau jualan ini, dan mau coba ini. Semua. Sayangnya, semua terbentur oleh biaya yang tidak sedikit. Plus, siapalah aku yang gak punya track record di bidang bisnis kuliner / pengelolaan kafe? *tutup muka*

Emangnya mau usaha apaan sih? Hm, karena aku suka makan, maka aku ingin membuka usaha seputar makanan. *langsung ngiler dah*

“Kamu mau jadi reseller, An?” Andai mengeluarkan modal semudah menganggukkan kepala, ya?

“Jadi reseller aja, An. Ntar dapet diskon.” Yah, itu sih aku juga paham.

Etapi kayaknya aku emang gak bakat jadi penjual sih. Gak bisa pengaruhi orang untuk membeli. Gak pinter buat provokasinya :lol: Kalo orang gak mau beli, ya udah, aku gak mau maksa. Soalnya aku juga gak suka dipaksa, sih. Berasa dapet karma. *ini apa hubungannya?*

Sedang bingung, kenapa juga hari ini (2 September) banyak stat FB yang cukup untuk menamparku bolak balik sampe lecet nih pipi. *ngik* Merenung seharian di tanggal 1 September menghasilkan satu kesimpulan: selama masih dikasih napas, masih sanggup berpikir, masih kuat berjalan meski ngos-ngosan, gak ada kata ‘menyerah’ dan ‘berhenti’.

Udah sejak lama diingetin sama mamanya Moses bahwa aku harus percaya keajaiban. Trus diingetin lagi sama maminya Javi, keajaiban itu nyata. Dan mereka berdualah yang nyodorin lagunya Whitney Houston itu. Keangkuhanku yang sudah di tahap akut, membuatku kadang ingin menolak keajaiban itu.

Modal maha penting itu bernama rasa percaya. Aku harus percaya bahwa Tuhan gak akan memberi sesuatu (kebahagiaan dan kedukaan) tanpa hikmah yang menyertainya. Hingga kini, aku masih mencari ada di mana rasa percayaku pada Tuhan. Berjuta tanya MENGAPA mengusik setiap harinya. Itu termasuk ‘mengapa aku sulit berjualan?’ ‘mengapa aku tak bisa berani bergerak?’ ‘mengapa aku begini begitu?’

Modal percaya itu yang seharusnya membuatku berani melangkah. Tetapi nyatanya tidak demikian. Aku mendapati diriku bingung sendiri. Kemudian aku disadarkan oleh seseorang yang melihatku seperti ini:

“A hardworking mom, punya dunianya sendiri dan gak terlalu suka berbagi sama orang, baek, seneng dengerin keluh kesah orang, straight forward dan cenderung pedes tapi to the point. She is a loner.”

Sesuatu yang bahkan tak dimengerti oleh kebanyakan orang yang mengenalku dari lahir :D Mungkin karena aku gak terlalu suka untuk berceloteh banyak dengan orang lain dan aku penyendiri. Aku memang kurang suka berada di tengah pesta / hiruk pikuk. Pasti aku cenderung memilih untuk menepi di pojokan. Sendirian. Aku lebih suka mengamati orang. Aku lebih suka menjadi penggembira.

Aku gak punya modal nekat atau sok percaya diri bahwa semesta akan mendukungku. Aku bahkan sangat mudah sakit hati bila orang yang baru mengenalku langsung menuduhku macam-macam. Seperti yang dilakukan seorang pria dari benua lain yang mengatakan bahwa aku terlihat putus asa dengan menolak menceritakan kehidupan pribadiku. Sebenarnya yang aneh tuh siapa kalau sudah begini kasusnya? Aku memang gak terlalu suka berbagi dengan orang lain apalagi orang asing / yang baru kukenal.

“Tapi kenapa lu bawel banget di dunia maya, An?” Karena aslinya aku sangat rikuk dan nyaman berada di tengah orang banyak. Bingung sendiri. Itu sebabnya aku lebih ceweret di saat tak dilihat orang banyak. Ini mungkin modalku untuk bekerja. Tak harus bertemu dengan orang banyak, tapi aku bisa menghasilkan uang untuk survive. ;)

Ya sudah, sekian ocehan yang gak jelas di sore hari ini. Efek merenung seharian di awal bulan, menghasilkan banyak cermin untuk melihat pantulan diri.

God loves me.

Anak Sastra Kayak Gini? Menurut Lo?

Membaca artikel Hipwee kali ini membuatku cengengesan sambil mengenang kembali masa tiga tahun menjadi anak sastra. Well, meski sekarang nama kampusku adalah Fakultas Ilmu Budaya, aku lebih suka menjadi anak Sastra! Haghaghag :lol:

Aku copy paste tulisannya ya, gambarnya sih gak semua. 

————————

1. Masuk jurusan sastra (sempat) membuatmu merasa (lebih) ‘keren’

Sastra termasuk jurusan yang nggak banyak peminatnya. Ketika memutuskan masuk Sastra, kamu merasa pilihanmu nggak mainstream. Kamu mungkin berpikir bahwa teman-teman akan melihatmu dengan ekspresi seperti ini…

2. Tapi kenyataannya, mereka justru menganggap kamu dan pilihanmu itu ‘nggak keren’

Mungkin, kamu bakal dianggap keren jika memilih Kedokteran, Hukum, Teknik, atau Ekonomi.

3. Kamu jadi sering mendengar komentar ‘pedas’ dari saudara atau teman-teman SMA-mu

(masuk jurusan Sastra Indonesia): “Lhah, emang belom bisa Bahasa Indonesia?”

(masuk jurusan Sastra Inggris): “Ya elah, Bahasa Inggris mah les privat aja. Ngapain kuliah 4 tahun!”

(masuk jurusan Sastra Arab): “Lo mau jadi TKI di Arab?”

Buset dah, serba salah! Gue jurusan Solo–Jogja aja deh kalo gitu!

4. Karena memilih masuk sastra, kamu sering dikira kutu buku

Kuliah Sastra sering dikaitkan dengan banyaknya buku-buku yang harus dibaca. Ini lho yang kadang membuat temen-temenmu ‘ciut’ mental. Meskipun sebenarnya suka Sastra, mereka akhirnya mengurungkan niat buat memilih jurusan ini.

Pertanyaan abad ini yang kamu rasa perlu dijawab:

“Emang kalau kuliah di Kedokteran atau Teknik bukunya cuma dikit, ya?”

5. Kamu paling sering dapat ‘orderan’ bikin puisi

sering dapat 'orderan' puisi dari teman-temanmu

Temen: “Broh, gw mau nembak gebetan nih. Bikinin puisi, dong!”

Kamu: “………Iya, deh.” (nyengir kecut)

(Kalau puisi bikinan gue emang ampuh, gue nggak akan 25 tahun jadi jomblo kelesss…)

6. Biasanya, anak Sastra lulusnya lamaaaaaaa…(banget)!

“Ah, sastra susah lulusnya…”

Kemungkinan:

  1. Kamu suka sastra tapi males-malesan
  2. Kamu emang nggak minat-minat amat sama jurusan ini
  3. Saking cintanya sama sastra, kamu nggak rela kalau cepet-cepet lulus (serius ada yang model begini???)

7. Kamu jadi sering dianggap sebelah mata sama calon mertua. Mungkin Mereka Lupa Kalau Menantu Idaman Itu….

menantu idaman adalah anak sastra

Makna dibalik puisi dan prosa orang aja kami analisa dengan sepenuh hati. Kalau cuma buat memahami makna dibalik perkataan anak Oom dan Tante mah, keciiiil….

Entah Kenapa Banyak Anak Sastra Yang Merasakan Ini!

8.“Kayanya, aku salah jurusan…”

Kenapa milih Sastra? Alasannya, antara asal milih karena bingung atau emang nggak diterima di pilihan jurusan lain pas SBMPTN. Ya udahlah ya, daripada nggak kuliah!

9. Akhirnya, ini ekspresimu ketika ditanya “Emang sastra kuliahnya ngapain aja?”

*senyum manis* *angkat bahu*

HEHE. Sebenarnya kamu juga nggak tahu, sih.

10. “Kalau udah lulus mau jadi apa?”

Hmmm…jadi……

Hmmm…jadi……

Hmmm…jadi……

Hmmm…jadi……

(kemudian tahun pun berganti, jawabannya masih juga belum kamu temukan)

11. “Mau kerja dimana?” 

Hmmm…di hatimuuuuuu…

Haduh, sebenarnya kamu juga sudah tidak paham mau kerja apa selepas lulus nanti. Yang penting lulus, deh!

12. Kurang minat pada jurusan yang diambil membuatmu lebih sering bolos kuliah, tidur di kelas, atau kabur ke kantin. 

Lengkapi kalimat berikut ini:

Ketika bapak dosen sedang membacakan puisi Wiji Thukul di depan kelas, yang kamu lakukan adalah (…..)

-TIDUR-

13. Ketika tugas minggu ini adalah membaca dan menganalisa novel Pride and Prejudice, kamu terpaksa MENYERAH! 

14. Ada kalanya kamu merenung: “Aku bisa lulus nggak, ya?” 

15. Kamu lupa sudah berapa kali berpikir untuk pindah jurusan 

Nah, Lain Cerita Kalau Kamu Emang Beneran Suka Sastra…

16. Kuliah sastra aslinya seru banget lho! 

17. Kamu nggak akan sering-sering dapat tugas menulis puisi atau cerpen kok… 

Sebenarnya, ada banyak sekali yang dipelajari di Jurusan Sastra. Di semester awal, kamu lebih banyak mempelajari ilmu bahasa; kamu bakal ketemu linguistik, sintaksis, morfologi, fonologi, dan lain sebagainya.

18. Kamu akan lebih banyak diajarkan untuk menganalisa karya-karya sastra yang sudah ada.

lebih banyak menganalisa karya sastra yang sudah ada

Berbekal kuliah teori atau kritik sastra, kamu dijamin ‘kenyang’ menganalisa karya sastra. Nggak cuma puisi, cerpen, atau novel, kamu juga bisa menganalisa film atau lirik lagu. Kamu dijamin nggak asing dengan nama-nama seperti Edgar Allan Poe, Sylvia Plath, Iwan Simatupang, atau Joko Pinurbo.

19. Ibarat ‘sambil menyelam minum air’, belajar sastra berarti belajar ilmu-ilmu lain 

Membaca karya sastra berarti membaca isi dunia. Kadang, untuk bisa mengerti isi sebuah karya, kamu juga perlu belajar tentang Sosiologi, Filsafat, Feminisme, atau Psikologi. Banyak ilmu-ilmu lain yang punya keterkaitan dengan sastra.

20. Yang paling seru adalah mata kuliah creative writing

'creative writing' jadi mata kuliah yang paling seru

Creative writing atau penulisan kreatif adalah kesempatanmu buat berekspresi. Kamu bisa menyalurkan bakat menulismu. Kamu bakal sadar bahwa kegalauan hidup dan masalah percintaanmu bisa menghasilkan nilai A.

Nah lho, kalau udah begini nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

21. Ketika skripsi, bisa kok pilih topik yang kamu banget. 

Contoh judul skripsi di Jurusan Sastra:

- Aspek Sosial Politik Dalam Lirik Lagu Efek Rumah Kaca Album Kamar Gelap: Pendekatan Semiotik Riffaterre

- Kritik Sosial Dalam Kumpulan Cerpen ‘Lupa Endonesa’ Karya Sujiwo Tejo: Sebuah Tinjauan Semiotik

- The Analysis of Voldemort’s Personality Growth in J.K. Rowling’s Harry Potter and the Half-Blood Prince

Hmm…gimana, menarik nggak?

Nggak? Kamu jawab nggak?

Ya udah! *brb ngeloyor dengan kalem*

22. Setelah lulus, kamu tetep punya pilihan pekerjaan kok…

emma watson juga anak sastra

Mau kerja yang sesuai bidang ilmu? Bisa jadi penulis, editor, penerjemah, atau pengajar. Kalau pilih yang “menyimpang” dari bidang ilmu, kamu bisa juga jadi pegawai bank atau bahkan artis.

“Tuh, Emma Watson juga sarjana Sastra Inggris, sob!”

23. Kalau kamu bisa memilih sastra dengan mantap, mungkin itu passion-mu. 

Ada dorongan kuat dalam hatimu. Bukan soal keren atau nggak, kamu memang menyukai dan menginginkannya. Sastra adalah renjanamu.

24. Kuliah di Jurusan Sastra membuatmu sadar bahwa hidup itu harus punya misi

hidup harus punya misi

Setiap langkah yang kamu ambil dalam hidup tentu harus punya tujuan yang jelas. Apa sih misi hidupmu? Apakah keberadaanmu di dunia ini sudah membawa manfaat buat sekitarmu?

Segera temukan jawabannya, ya!

25. Kuliah di Jurusan Sastra membuatmu sadar bahwa hidup ini bukan cuma soal materi. Ide dan kata-kata? Mereka bisa mengubah dunia…

Words and ideas can change the world

26. Apapun yang terjadi, kamu akan tetap bangga sudah memilih Jurusan Sastra di bangku kuliah. 

Pokoke joget…

Eh salah ya? Pokoknya apapun yang terjadi kamu tetap akan jadi:

ANAK SASTRA GARIS KERAS!

Nah, gimana? Jika kamu mahasiswa atau alumni Jurusan Sastra, semoga makin bangga setelah membaca artikel ini, ya! Buat yang masih sekolah, semoga semakin tertarik buat masuk Jurusan Sastra. Yang pasti, semoga sastra makin populer di Indonesia!

===============================================

Aku bacanya cekikikan sendiri. Kangen masa ketika aku merasa SALAH JURUSAN! :lol: Ya udah sih, An! Jalanin aja! :P Sekarang udah jadi alumnus juga, gak perlu galau lagi kan ya? *iyain aja biar cepet*

Berpelangi dan Bercahaya Terang Meski Hujan Badai

Indah bukan? Semua tentang aku dan teman-teman senasib sepenanggungan. *apasih* Di bawah ini, para crossline dalam bisnis yang sedang kubangun dari mimpi-mimpi krucil. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada saling memberi semangat dan doa. Kelak, aku yakin, kami semua akan berada di level yang diimpikan sejak awal bergabung. Bi’idznillah!

problems

Pertama tentang Yolla.

Dia, pertama kukenal tahun 2007 sebagai seorang blogger yang tinggal di Taiwan. Tahun 2011, ternyata dia sudah menjadi seorang konsultan Oriflame. Perjuangannya untuk mencapai levelnya saat ini luar biasa. Top banget. Sabarnya bikin gemes. But she did it. Dan ketika aku tahu hal itu, aku yang nangis haru. Ikutan bahagia. :)

Kedua, aku akan menyebut Gita.

Aku mengenalnya di akhir 2013 dalam ruang kelas di Oriflame Bandung. Atraktif banget. Plus bawel. Plus kocak. Plus nyenengin. Pertama melihatnya, aku terkaget-kaget. Penuh semangat banget ibu yang satu ini. Ketika aku tahu dia punya usaha kue dan mengenal kedua anaknya, makin salut dengannya. Mendapat hadiah milad darinya itu sesuatu banget! ♥ Kejutan yang menyenangkan. Sampai aku merasa sayang untuk memakainya :D

Ketiga, tak lupa Nunny.

Mengenal ambu yang satu ini, perawakan mungil dengan gayanya yang sok asik selalu menjadi keasyikan tersendiri. Sekelas dengan Gita, pun menjadi satu kelompok, membuatnya juga tampil spesial dan mudah dikenali. Kami yang mengenalnya, biasa untuk mengingatkannya agar tidak lupa, “Bawa cikruh ya, Ambu! Kita botram di kantor!” Hehehehe :lol:

Keempat, aku mengingat Herty.

Crossline yang satu ini dikenal dengan outfit yang dikenakannya juga makeup andalannya. Ada nuansa hijau! ;) Aku suka celotehnya yang penuh semangat itu. Selalu mengingatkan untuk ikutan offline training di kantor. “Jangan lupa ya, Di. Syaratnya tupolah, biasa.” Energi positifnya menular terus nih!

Kelima, teman lamaku Windianingrum.

Kalau sudah ngirim inbox di FB, pasti mau menggosip tentang bisnis. Ketar-ketirnya asyik banget kan yah? Muehehehehe… Someday, we will on the same higher level than now, sista! ;) Inshaa Allah :) Fight!

Keenam, si cuek rusuh Risa.

Temanku di sebuah komunitas sosial ini ternyata konsultan Oriflame juga. Kaget karena baru tahu. Sebel karena gak ngajak aku. Haghaghaghag :lol: Dia tahu bagaimana struggle-nya aku dalam perjalananku ini. Doamu, menjadi salah satu sumber semangatku, mak!

Ketujuh, si mungil nan rempong Fira.

Pertama melihatnya di kantor, pembawaannya kalem dan gak banyak bicara. Etapi ternyata bawel juga :P Siapa yang menyangka sudah punya anak? Kirain mahasiswi. *jangan geer dah, lu!* Ternyata kami punya benang merah yang tersambung dengan baik. Seperti déjà vu. Ngerumpi dengannya selalu nyambung. Terima kasih bersedia menampung sampahku yang busuk itu yah? Maklum, mengendap terlalu lama, tak berani membuangnya sembarangan. *melipir sebelum ditimpuk tiang BTS*

Thank you all, from the deepest of my heart. Won’t forget it at all. Love you!

Menentukan Passion Sebenarnya Mudah, Tetapi…

Menemukan artikel yang membuatku berulang kali terpana dan bertanya lagi ke dalam hati sendiri.

——————————–

Dari website Hipwee ini aku copy paste ke sini yah :)

1. Apa Yang Paling Menarik Hatimu?

Ikut kata hati

Passion bisa berupa hal yang sangat menarik hatimu, sesuatu yang sangat kamu inginkan. Ini bukan hal yang diinginkan orang tuamu, pacarmu, atau teman-temanmu. Passion adalah sesuatu yang benar-benar bisa mengobarkan semangat dalam jiwamu.

Ketika kamu melakukannya, kamu merasa bisa mencurahkan segalanya tanpa ragu demi satu hal ini. Mengerjakan hal sesuai passion membuatmu merasa hidup.

2. Hal Apa Yang Kamu Yakini Tapi Ditentang Oleh Hampir Setiap Orang?

Jangan ragu

Lewat pertanyaan ini, kamu akan mencoba menggali apa yang unik dari dirimu. Kebanyakan orang — terutama orang tua — cenderung punya nilai yang linear tentang makna sebuah pekerjaan dan kesuksesan. Memang sih maksudnya baik, biar kita hidup nyaman. Tapi, bukankah nyaman tidak selalu sama dengan kebahagiaan?

Saya menemukan passion menulis saya sewaktu kuliah. Sebelumnya, saya juga tidak sadar jika ternyata panggilan saya ada di dunia tulis menulis. Keinginan saya untuk menjadi seorang full-time writer sempat ditentang oleh orang tua, apalagi passion itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan yang saya ambil sewaktu kuliah.

Meski banyak yang menentang, percayalah bahwa mengikuti passion itu bukan hal yang buruk. Hingga hari ini saya akan teguh berkata bahwapassion adalah hal yang sangat layak untuk dikejar.

3. Apa Yang Menjadi Kemampuan Terhebatmu?

Apa kemampuan terhebatmu?

Pertanyaan ini akan membongkar kepribadian serta bakat yang sudah kamu miliki sejak awal. Setiap orang pasti punya kelebihan dan bakat. Memahami kemampuanmu yang paling dominan, bisa membantumu menemukan hal yang sebenarnya menjadi passion mu.

Semisal, kamu adalah karyawan yang sebenarnya punya kemampuan merancang desain kaus. Menanyakan pertanyaan diatas pada diri sendiri bisa membuka matamu, bahwa sebenarnya kamu lebih ahli di bidang desain dibanding harus jadi karyawan seumur hidup.

Terus menggali rasa ingin tahu tentang kemmapuan terkuat yang kamu miliki bisa membantumu menemukan renjana yang selama ini kamu cari.

4. Apa Hal Yang Kamu Sukai Sewaktu Kecil?

Gali masa kecilmu
Terkadang kamu bisa menemukan apa yang kamu cari ketika kamu mencoba menilik kembali ke belakang. Saat kamu kecil, coba ingat-ingat hal apa yang suka kamu lakukan. Seperti yang pernah ditulis Hipwee di artikel ini, memainkan imajinasi adalah hal hebat yang dilakukan dilakukan seorang anak, dan kita harus belajar dari mereka.

Kita yang sekarang dibentuk oleh banyak hal, termasuk orang tua dan lingkungan. Membongkar kembali masa kecil kita berarti melihat diri kita sebelum didikte oleh orang lain. Mungkin kamu akan menemukan sesuatu yang patut untuk dikejar di sana, sesuatu yang beresonansi dengan diri kita di masa sekarang.

5. Hal Apa Yang Paling Ingin Kamu Coba Lakukan Sekarang?

aaaa

Salah satu cara terbaik untuk menemukan tujuan hidup dan passion adalah dengan mencoba-coba. Banyak orang yang menganggap hal ini kurang intuitif dan buang-buang waktu. Well, tapi kamu juga bukan cenayang kan yang bisa tahu sesuatu hanya lewat imajinasi?

Menemukan renjana bukan hanya soal berpikir dan menggali diri. Melainkan juga soal bertindak dan mengenali banyak hal yang ada di luar diri kita. Bagaimana kamu tahu kalau kamu bakal menyukai sesuatu tanpa mencobanya sendiri? Jadi, kalo ada sesuatu yang ingin kamu coba lakukan, lakukanlah sekarang. Siapa tahu kamu berjodoh dan justru menemukan bahwa itulah passion-mu.

6. Pencapaian Apa Yang Ingin Kamu Ceritakan Ke Orang-Orang Pada 20-30 Tahun Dari Sekarang?

aa

Pencapaian apa yang kira-kira ingin kamu ceritakan dengan bangga pada 20-30 tahun mendatang? Cerita tentang kamu menua di jalan karena pekerjaan sebagai karyawan mengharuskanmu pergi pagi-pulang malam setiap hari? Atau justru kamu akan merasa bangga saat bercerita soal bagaimana kamu mewujudkkan impianmu sebagai penulis?

Pencapaian yang diperoleh lewat renjana akan menggugah siapapun yang menyimaknya, sesederhana apapun pencapaianmu. Bukan materi yang penting, karena materi hanyalah hasil. Yang terpenting adalah proses menuju hasil tersebut. Nah, kamu pengen dikenang sebagai apa nih kira-kira?

7. Siapa Dirimu?

Siapakah kamu?

Pertanyaan yang sangat sederhana sekaligus yang terbaik. Pertanyaan ini akan membantu kamu untuk merumuskan tujuan hidup dan passion dalam satu kalimat sederhana. Jawaban dari pertanyaan ini bisa menjabarkan siapa dan apakah kamu, serta, lebih dalam lagi, tujuan yang sebenarnya ingin kamu capai.

Jawabannya pun bisa beragam. Mulai dari:

“Seorang pria yang pergi keliling dunia dan  berbagi pengalamannya lewat buku dan foto.”

Atau:

“Wanita mandiri yang menemukan perangkat yang memudahkan hidup umat manusia.”

Jangan remehkan satu kalimat ini, karena mereka punya kekuatan yang besar untuk mengubah hidupmu. Kalau tujuan hidup di dalam kalimat yang kamu tulis itu belum juga tercapai, mungkin kamu juga bisa bertanya:

“Dari mana saya akan memulai untuk mengejar tujuan hidup saya?”

Berhasil menemukan passion berarti kamu sudah maju selangkah lebih dekat ke dirimu sendiri. Yang berikutnya harus kamu lakukan adalah bertahan di jalurnya dan tetap konsisten. Rasa bosan itu pasti ada, tapi percayalah bahwa hal inilah yang akan membuatmu merasa cukup.

————————————

Artikel di atas merupakan terjemahan dari artikel yang ada di SINI :)

Aku sudah menemukan jawabannya dan ketakutan itu masih menguasaiku. I’m trapped!