In Allah We Trust :)

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

Kelak, Ketika Kita Bertemu

Kelak, Ketika Kita Bertemu

embun-akung

photo credit to: Dedi Sobari

Kelak, ketika kita bertemu akan kutadah
kata-kata yang mengalir dari matamu.
Kutampung dalam helai-helai daun.
Kubiarkan malam menguapkan menjadi
embun. Dan, di suatu pagi akan kau
temukan puisi di samping tempat
tidurmu. Puisi dari kata-katamu sendiri.

2010
~ Lelaki Budiman ~

Kita, Makhluk Sosial Sok Tahu dan Sok Hebat

Diberi akal, namun malas mencari tahu dan bertanya kepada yang lebih paham.

Diberi napsu, noraknya melebihi binatang sehingga rasanya tak pantas disebut beretika.

Kadang, memang manusia seperti itu.

“Wuw, si A blagunya maksimal! Kayak yang bisa aja!”

“Buset dah si B, playing victim mulu, dasar drama queen! Cocok deh jadi pemenang Oscar sebagai tukang cuci!”

“Itu ye si C, jahat banget! Fitnahnya keterlaluan!”

Dan semua sumpah serapah tumpah ruah di lautan caci maki.

Keburukan yang disampaikan pada orang lain, dikhawatirkan akan berbalik kepada diri sendiri. Inilah yang kutakutkan setiap saat jika terjadi kepada diri sendiri.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari hari kiamat.” (HR. Muslim)

Bisakah kita menahan diri untuk tidak mencela saudara sendiri?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِر

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla maha lembut maha pemurah, malu dan suka menutupi. Dia mencintai rasa malu dan tertutup, maka apabila salah seorang kalian mandi hendaknya memasang penutup.” (HR. al-Nasai)

Tertutup secara maknawi adalah menutupi aib dan perbuatan dosa dengan tidak menceritakan dan menyebarkannya kepada orang lain. Ini juga berlaku atas orang yang melihat saudara muslimnya telah melakukan perbuatan dosa atau melakukan tindakan hina maka janganlah ia menyebarkannya kepada msyarakat, tapi hendaknya ia mencegahnya dari perbuatan maksiat dan menyuruhnya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karenanya Islam melarang keras umatnya dari mencari-cari kesalahan kaum muslimin yang tersembunyi untuk dia sebarkan ke tengah-tengah manusia. Perbuatan tersebut dapat mengundang murka Allah kepadanya dan menyebabkannya mengerjakan perbuatan buruk saudaranya tadi. Karena balasan sesuai dengan jenis amal. Maka siapa yang mencari-cari aib orang lain dan menyebarkannya di tengah-tengah manusia maka Allah akan menyingkap aibnya dan menyebarkannya di tengah-tengah makhluk-Nya. Bahkan dosa dan maksiat yang dikerjakannya di dalam kamarnya di tengah malam akan juga diketahui orang. Wallahu Ta’ala A’lam. (sumber VoaIslam)

Bila memang kita mengaku bersaudara seiman, marilah saling menutupi aib dan menasihati dalam keadaan yang hanif dan ma’ruf. Ya, ini juga sebagai bahan pelajaran bagiku untuk bisa memperbaiki diri. Tahan emosi agar tak menggosip. Makanya aku lebih suka konfirmasi langsung ke orangnya. Bertanya ke teman terdekatnya /  saudaranya. Sebisa mungkin mencari sumber yang dapat dipercaya dan diyakini kebenarannya.

Kalau mengenai seorang selebtwit atau pesohor, bagaimana? Aku tipe yang senang bermain gelombang dan suka heboh. Aku memang dikenal tukang rusuh :P Jadi untuk bagian ini aku sudah mulai selektif. Hanya untuk meramaikan suasana, bukan yang masih praduga.

Kembali kepada topik utama, bagaimana kita bisa dengan mudah menilai orang lain buruk dengan segala caci maki, tak pernah disadari. Namanya makhluk sosial yang senang berinteraksi dengan orang lain, hewan, dan tumbuhan, maka sejatinya yang bernama perbedaan pastilah ada. Kita tak suka dengan pribadi seseorang, itu juga bisa terjadi.

Itu bila kita melakukannya kepada orang lain. Bagaimana bila ternyata aib kita yang dibeberkan oleh orang lain? Hukumnya sama. Berkaca kembali. Apakah ada kesalahan kita mengumbar aib orang lain? Karma does shit happen, dear. Hukum bumerang itu memang berlaku adil. Aku pribadi termasuk yang mudah merasakan bahwa aku sedang menjadi perbincangan orang lain. (cieeeeee, sok seleb lu, An! iya, selebetis! :D ) Kalau perasaan dan insting udah gak enak, buru-buru istighfar dan mohon ampun pada Allah. Meminta-Nya agar menutup semua aib-aibku. Perbanyak sedekah dan meminta maaf pada banyak orang. (Umur juga gak ada yang tahu kan?)

Aku masih sok tahu. Aku masih sok benar. Aku masih sok bersih. Aku masih sok hebat. Untuk itu, tulisan ini kutulis sebagai refleksi mulut dan jemariku.

Demikianlah. :)

Tuhan Menjagamu Untukku

Sangat percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini.

Mengapa skenario-Nya sangat rapi dan penuh kejutan di setiap halamannya?

Dari hari pertama kita berkenalan, setiap waktunya terasa sangat diatur oleh-Nya. Bahkan, aku tak sanggup untuk mengubah meski satu aksara hingga akhirnya aku mengerti, Tuhan menjagamu utuh. Pun, menguji ketabahanku yang mudah terkoyak.

Ketika keteguhanku disenggol dan aku goyah, Tuhan menyentil hingga sesak dadaku tak percaya. Beginikah caranya Tuhan mengajakku becanda. Dia yang mengirimkan ujian itu, Dia pula yang menertawaiku sangat keras. Aku terpana. Aku bahkan tak bisa menangis. Hanya bisa terpaku dan terpana. Mengapa bisa aku seceroboh itu?

Kumohonkan ampunan-Nya dengan serak dan jengkal napas tersengal. Aku tak akan mengulanginya lagi. Aku sudah berjanji padamu dan Dia. Kusebut nama-Nya dan namamu bergantian. Lirih. Perih.

Segeralah pulang. Dekap erat rindu yang tak sempurna ini. Tuhan pun tahu hanya kamu yang bisa menjawab semua doadoa berserakan di halaman hatiku. Pecahan kepingannya yang pernah kulupa ternyata kaugenggam erat. Aku ingin mendekat padamu. Menyusunnya menjadi utuh.

Karena perempuan yang kaubutuhkan itu aku.

Untuk S.

Tahun Baru 1 Muharram 1436 Hijriah

Alhamdulillah… Sudah memasuki lembaran baru lagi.

Rasa optimis penuh percaya diri kembali membuncah.

Tetap harus semangat dan yakin Allah satu-satunya penolong.

Aku menyebutkan nama orang-orang terkasih. Berharap Allah senantiasa merahmati dan melindungi mereka. Mengampuni segala khilaf, menunjukkan jalan yang lurus pada mereka, dan memberi akhir yang baik bagi hidup mereka suatu saat kelak.

Untukku? Aku memohon hanya yang terbaik. Apapun itu, selama Allah menginginkan aku melakukannya, maka aku akan patuh. Sami’na wa atho’na. Karena selama ini aku tahu, selera humor-Nya sangat aneh dan tak dapat ditebak. Semakin melawan, akan semakin perih terasa.

Lagi pula, ada yang menegurku berulang kali karena terlalu petakilan dan sok eksis. Jadi, aku harus mulai bisa belajar mengerem kenorakan aku. Meski mungkin nanti mah kebablasan juga kayaknya. *eh :D

Semoga, di tahun yang baru ini, cinta Allah padaku tak pernah padam *halah* meski aku kadang menjauh dari-Nya demi napsu sesaatku. Aku tahu, Dia akan selalu ada…

MARI HIJRAH demi masa depan yang lebih baik!

Begini Cara Kita Menjadi Istimewa

Ada banyak waktu yang bukan milik kita. Terkadang, kamu harus fokus pada pekerjaanmu, orangtuamu, keponakanmu, dan teman-temanmu. Aku pun harus membagi waktu untuk krucil. Kita tak perlu menjadi seperti seorang petugas penyidik sebuah kasus, bertanya terlalu rinci apa saja kegiatan di luar sana. Yakin baik-baik saja. Iringi dengan doa terbaik :)

Menyenangkan rasanya bila bisa mengetahui bahwa kamu baik-baik saja. Kamu memang tak mungkin 24 jam ada untukku. Ada saatnya harus menjauh dariku untuk dirimu sendiri. Tetapi terkadang, saat kau jauh dariku itulah ujian datang bertubi.

Godaan dalam mencintai seseorang itu luar bi(n)asa perihnya. Ketika hati mulai tenang dan yakin, adaaaaaaa aja godaan untuk melirik samping dan belakang.

Samping itu bisa dikatakan temannya (meski pun sebenarnya gak bisa dibilang teman juga. satu komunitas sih iya. kusut kan loh!) yang lumayan membuat hati ketar-ketir. Untungnyaaaaaa… Hatimu masih bisa menolak dan nalarmu masih bisa bekerja dengan baik.

Belakang itu masa lalu yang meneleponmu sejam hanya untuk meyakinkan bahwa dia sangat merindukanmu dan tak bisa ke lain hati. Dengan seenak jidatnya melarangmu menikah dengan orang lain dan harus menunggunya tanpa waktu yang pasti. Buset dah!

Ada aja ya yang seperti ini?

Ya sudah, abaikanlah. Sekarang fokus saja apa yang ada di hati kita. Bagaimana kita menjaga dengan sepenuh keyakinan apa yang harus dipertahankan dan diperjuangkan, meski sulit. Meski akan menghadapi bagai gelombang pasang surut. Selama ada kamu dan kita dalam lindungan Allah, semua akan baik-baik saja. Aku percaya itu. :)