In Allah We Trust :)

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

Kelak, Ketika Kita Bertemu

Kelak, Ketika Kita Bertemu

embun-akung

photo credit to: Dedi Sobari

Kelak, ketika kita bertemu akan kutadah
kata-kata yang mengalir dari matamu.
Kutampung dalam helai-helai daun.
Kubiarkan malam menguapkan menjadi
embun. Dan, di suatu pagi akan kau
temukan puisi di samping tempat
tidurmu. Puisi dari kata-katamu sendiri.

2010
~ Lelaki Budiman ~

Still There When Everything Goes Wrong

Membaca sebuah artikel tentang bedanya Jatuh Cinta dan Mencintai. Aku terpana membaca poin nomer 6.

Cinta yang sungguh-sungguh biasanya sudah melewati berbagai ujian. Kamu dan pasanganmu mungkin sudah menjalin hubungan selama beberapa tahun. Melewati momen bahagia, sedih, hingga perasaan kecewa lantaran kepercayaan yang pernah dikhianati. Namun, cinta yang kuat menjadikan kalian bisa bertahan — bukan memilih menyerah lalu mencari cinta yang lain.

Aku berulang kali membacanya. Butuh pembuktian dengan bantuan sang waktu.

Aku menulis sebuah status di BBM subuh tadi:

Every relationship has its problems, but what makes it perfect is when you still want to be there when everything sucks. Oh, well.

Temanku menimpali, “Berat amat statusnya.” Kubilang bahwa bagian paling berat adalah ketika menjalani episode jeleknya. Paling menyakitkan ketika satu orang ingin berjuang dan seorang yang lain ingin menyerah. Dia bilang, “It takes two to tango.” Yeah…

Aku mencoba mencernanya. Aku tahu, tak selamanya seorang pria bersikap menyenangkan. Dia pasti akan ada di saat terburuknya. Begitu menyebalkan dan terkadang memperburuk suasana. Iya, aku sudah tahu beberapa kebiasaan jeleknya yang membuat kaget dan jengkel. Tapi ya begitulah manusia. Gak selalu menjadi pribadi yang menarik. Masalahnya, bisa gak sih kita menerima jelek adatnya pasangan?

Ketika dia menanyakan hal itu, “Kamu bisa gak terima aku kayak gitu?” Aku dengan tenang menjawab, “Tentu saja bisa.” Untuk apa aku bereaksi negatif juga ketika dia sedang meledak emosi atau bertingkah ajaib? Justru aku harus bisa dengan tenang menghadapinya dan memberinya ruang untuk sendiri. Men Are From Mars. Mereka harus mundur sejenak dari sebuah hubungan untuk menenangkan diri. Pria memiliki gua pribadi untuk mengurai apa yang membebaninya. Hangout dengan teman, mengutak-atik hobinya, atau semakin tenggelam dengan pekerjaannya. Apa saja. Pria butuh ruang menyendiri yang tak bisa diganggu oleh wanitanya.

Makanya kenapa jika ada yang tidak biasa darinya, aku paham kalau dia sedang masuk ke dalam guanya. Aku tak menganggunya dengan pertanyaan murahan, “Kamu kenapa sih berubah?” Terlalu alay dan lebay. Cinta dewasa tak akan mengeluarkan pertanyaan seperti itu. *tsaaaaahh*

Ketika dia menjadi begitu menjengkelkan, sebaiknya mundur teratur. Tetap mengawasinya dari jauh. Tetap mendoakannya. Ketika dia selesai bersemedi dalam guanya, dia akan kembali dengan cintanya yang baru, hangat, dan menjadi pribadinya yang selama ini mengalihkan duniaku. Ihiy.

Makanya, mencintai berbeda dengan jatuh cinta. Jatuh cinta seperti bermain kembang api, sementara mencintai seperti menyalakan lilin. Aku gak pernah menganggap sebuah hubungan hanya selintas lalu. Aku memang mudah jatuh cinta. “Eh, cakep. Eh, ganteng. Eh, pinter.” Tetapi untuk mencintai, aku pemilih. Karena aku memilih bertahan ketika pasanganku berada dalam kondisi terburuknya, bukan dengan meninggalkannya sendiri.

Baik-baiklah kamu selama di gua ya, S. ♥

Can I Hold You Tonight?

Nina membongkar daftar hadir tamu untuk pesta ulang tahun pernikahan emas orangtua Olivia minggu depan. Ia terpana mendapati lima nama yang ia kenal, berikut dengan nomer telepon mereka.

“Aku gak kenal mereka. Ferdy yang bikin daftarnya,” jawab Olivia dan menyebut nama sepupunya. Nina menoleh sekilas.

“Jangan bilang kalau kamu juga gak tau apa alasannya, Vi,” Nina menatap sahabatnya dengan nanar. Olivia mengangkat bahunya.

*=*=*

Acara yang diadakan di taman ini membuat Nina sesak napas. Ia melihat lima wajah yang sangat ingin dihindarinya.

“Nobody can be you. Please stay. Forever.” Suara dari sudut taman. Ferdy menatap Nina lekat kemudian mendekat. “Mereka ada untuk melihatku memilihmu,” bisiknya lembut.

Air mata Nina tak terbendung lagi.

#Jejakubikel #111Kata #Drama

Bad Boy yang Direstui Bapak

Kania mengaduk es campurnya dengan wajah merengut. Felicia meliriknya sebal. “Abisin tuh es. Bentar lagi kelasnya Pak Iwan, lho.”

Kania tak mendengarnya. Pikirannya sibuk mengingat kejadian tadi pagi di gerbang kampus. Ave, cowok paling beken di Fakultas Ekonomi itu menatapnya tajam dan nyaris tak berkedip dari dalam mobil Mitsubishi Strada hitamnya. Kania merasa seolah ditelanjangi di depan teman-temannya. “Ini yang namanya Kania Larasati?” tanya Ave dengan intonasi interogasi.

“Ada yang bisa saya bantu?” Kania belum sadar dari bingungnya.

“Ternyata kamu? Denger-denger gosip, kamu selalu dapat IPK sempurna 4,00 karena bisa dipesan sama dosen ya?” Ave menatap Kania jijik. Bagai tersengat listrik puluhan megawatt, Kania melotot dan menutup mulutnya karena kaget.

“AVE!” Bentak Felicia sambil mendekat. “Eh, bajingan! Denger ya! Sekali lagi lu ngomong begitu, bersiap berakhir di penjara!”

Ave bersiul dan mencibir. “Bisa apa lu, Fel?”

“Bisa apa? Bisa membuat lu menderita karena fitnah keji lu itu! Bangke lu!” Felicia menarik tangan Kania yang mulai menangis karena malu.

“KANIA!” Felicia mencubit lengan sahabatnya dan melotot. “Lupain drama tadi pagi. Lu kayak kagak tau Ave aja. Biang onar seantero Ekonomi. Tajir melintir, pintar, tapi bad boy kelas kakap. Basa basi busuk banget dia nanyain siapa elu dan cari masalah bikin fitnah gitu. Dia itu gak bego. Dia bisa cari tahu soal elu via BEM. Koplak!” Felicia berapi-api. Kania, mau tak mau, terkekeh.

Sebulan setelah peristiwa menggegerkan itu, Kania mulai lupa. Hari ini dia harus pulang ke Solo. Bapak memanggilnya tanpa bilang kenapa. Sesampainya di teras rumah, ia melihat Ave sedang menyesap kopi dengan santainya.

Sejam kemudian, “Kania, Nak Ave ini ternyata pengagummu dari semester pertama ya?” Bapak tersenyum penuh arti.

“Memfitnah saya di depan teman-teman itu termasuk mengagumi?” tanya Kania retorik.

Anger management kamu bagus. Aku suka,” senyum Ave tengil banget.

Kania menelan ludah. Felicia bisa pingsan kalau tahu hal ini.

—————

diikutsertakan dalam flash fiction PIPET.

Memilih 2 dari 3 Aspek Wanita: Sebuah Analisa Ekonomi

andiana:

yang jelas, aku gak cantik. jadi, hanya pria istimewa yang bisa menilai aku ini termasuk yang mana. *tsaaahhh*

eh, gimana?

Originally posted on The Laughing Phoenix:

Jadi beberapa tahun yang lalu, gw pernah mendengar joke, bahwa kalo seorang cowok mencari pacar (wanita), dia hanya bisa mendapatkan 2 dari 3 atribut ini: cantik, cerdas, baik-hati. Artinya:

  • Pacar yang cantik dan cerdas, gak baik hati.
  • Pacar yang cantik dan baik hati, gak cerdas
  • Pacar yang cerdas dan baik hati, gak cantik

Waktu mendengar joke ini, gw ketawa. Anehnya, setiap gw ceritain lagi ke cowok2 lain, juga banyak yang ketawa, dan somehow merasa ada “benar”nya joke ini. Belum lama ini gw juga menulis hal yang sama di Ask.fm (account: manampiring), dan akibatnya harus meladeni banyak pertanyaan dan protes orang-orang. Jadi gw memutuskan menulis di blog ini agar bisa membahas lebih rinci.

Dengan semangat peribahasa Latin “Disccusio Non Pentingo Et Pentingo Bangeto” (Bahaslah Hal-Hal Gak Penting Menjadi Penting), maka gw memutuskan melakukan analisa, apakah ada kebenaran di balik joke di atas.

Setelah gw pikir2, mungkin ada kebenaran…

View original 579 more words