“Ass. maaf. sy ibu EKA yg kemarin liat RUMAHnya. merasa cocok dan berminat.jd untk masalah harga silahkan hubungi suami sy H.ANTON di no 081219369357. tks” ~> pengirim nomor 083896944608
“Ass mf sy bu hj.NURMA udh smpat liat lokasi rmh ibu bpk yg mau djual kmi masa cok2.U/nego hrg kmi khn hub: suami sy H.SUGIARTO 085315282238 Wsslm” ~> pengirim no 083878804477
“Ass.Maaf,sy ibu Gina yg kemarin liat RUMAH nya,mrasa cocok dan berminat,jd untk masalah harga silahkan hubungi suami sy.SOFYAN LUBIS di no 081219369379.Tks” ~> pengirim no 083879771459
Perhatikan nomor pengirimnya. Operatornya sama ya? Perhatikan isi sms yang senada (itu asli aku copy dari hape).
Dalam sebulan ini, gencar sekali mereka mengirimkan ‘teror’ sms ini. Bagaimana mereka bisa tahu nomor hapeku? Karena aku mengiklankan rumah di internet, melalui website dan twitter. Tentu saja, ada nomorku di sana, kan?
Setelah pengiriman sms itu, lantas bagaimana mereka bekerja? Tunggu, mereka? Ada berapa orang di sini? Hm, sebaiknya baca saja hingga selesai.
Pertama, salah satu dari mereka akan dengan gencar mengirim sms hingga kita merasa bahwa mereka serius. Lalu, karena penasaran, pasti kita sebagai penjual rumah akan percaya dan menelepon ke nomor yang telah diberikan. (yang katanya sih SUAMINYA itu
)
Kemudian, terjadilah percakapan negosiasi harga di telepon dengan sangat meyakinkan. Contohnya nih:
Jual: “Selamat pagi, Pak Anton. Saya Hilda, pemilik rumah di Jalan Angsa. Tadi saya terima sms dari istri Bapak.”
Beli: “Oh, ya ya! Benar! Aduh, maaf ya? Saya sedang di luar kota. Nanti saya hubungi lagi. Ini lagi meeting. Sekitar setengah jam ya?”
Jual: “Baik. Saya tunggu.”
Kemudian, “si calon pembeli” akan menghubungi pemilik rumah lagi.
Beli: “Bu Hilda? Iya, kami rasa rumah Ibu cocok untuk kami. Berapa Ibu jual?”
Jual: “Saya minta sih 350 juta, Pak.”
Beli: “Apa masih bisa kurang?”
Jual: “Bapak ada dana berapa? Bisalah sedikit.”
Beli: “Pasnya aja deh.”
Jual: “Ya udah, kalau Bapak benar minat, saya kasih 330 deh. Gimana?”
Beli: “Oke deh. Saya mau transfer DP ya, Bu? Ini sebagai pengikat. Jadi kalau ada yang nawar rumah Ibu, jangan dikasih. Itu sudah saya beli. Nanti saya kirim DP. Sepuluh juta oke ya, Bu?”
Jual: “Oke, gak masalah. Nanti saya buatkan tanda terimanya.”
Beli: “Nomor rekening Ibu berapa? Ada rekening apa?”
Jual: “Mandiri. Bisa?”
Beli: “Oke. Bisa. Saya nasabah Mandiri juga.”
Jual: “Ini nomer rekening saya:………………..”
Beli: “Nanti jam 5 sore saya transfer. Kalau sudah masuk, kabari saya ya Bu?”
Kemudian, “si calon pembeli” akan menelepon pada pukul 5.15 sore.
Beli: “Sudah masuk Bu, transfer dari saya?”
Jual: “Belum, Pak.”
Beli: “Gak mungkin. Barusan saya taransfer kok, Bu. Sudah cek di ATM?”
Jual: “Pak, ngapain saya cek di ATM? Saya selalu dapat notifikasi dari sms kalau ada pengiriman dana di atas 1 juta di rekening saya.”
Beli: “Gak mungkin, Bu. Baru aja saya transfer.”
Jual: “Pak, gak usah ngotot. Tadi sudah saya jelaskan kalau saya pasti dapat notifikasi dari Mandiri jika ada dana masuk leibh dari 1 juta.”
Beli: “Sms Ibu error kali? Coba cek aja ke ATMnya.”
Jual: “Ya ngapain juga saya ke ATM. Selama saya belum dapat notifikasi, saya gak akan ke ATM, Pak. Lagian kalau sudah terima, saya tinggal sms Bapak, kan? Tanpa perlu ke ATM.”
Beli: “Gak beres ini. Tunggu, saya telepon call center Mandiri dulu. Saya nasabah Mandiri Prioritas lho.”
Telepon ditutup dengan tergesa. Sekitar 10 menit kemudian, “si calon pembeli” menelpon dan mengatakan bahwa menurut Call Center, jaringan Mandiri offline. It was weird, wasn’t it? Kemudian, dia akan meminta lagi rekening lain yang mempunyai saldo minimal 500ribu.
Jangan pernah memberitahu kepada mereka jumlah saldo kita. Karena akan lebih mudah bagi mereka untuk melanjutkan aksi. Kemudian, kita akan kembali diminta untuk cek ke ATM. (teteup ya bo?)
Intinya, “si calon pembeli” akan memaksa kita untuk ke ATM. Setelah sampai di ATM, dia akan menelepon kita dan membuat three on three call yang katanya adala Call Center. Emangnya bisa? Lalu dia mematikan sambungan dia dan kita menjadi terhubung dengan “si call center” itu.
Kemudian, dia (“call center”) akan memaksa kita untuk mengikuti arahan dari dia ketika memasukkan kartu pada mesin ATM. JANGAN PERNAH LAKUKAN HAL INI. Segera matikan ponsel dan keluarlah dari bilik ATM.
Jadi,
Abaikan saja sms semacam itu. Pertama.
Kedua, jangan pernah menjawab telepon (ponsel) di ATM bila dari nomor tak dikenal.
Ketiga, jangan sebutkan jumlah saldo rekening Anda.
Keempat, sebarkan nomor2 telepon di atas untuk keselamatan orang-orang yang Anda cintai dan keamanan saldo rekening Anda
Kalau mau transfer ke aku, boleh banget! *diganyang seantero bumi*
Oke, sekian dan terima ajakan makan malam. #eh
UPDATE:
ada lagi nih:
“Ass. sy bu rita.mau confirmsih mngnai RUMAH yg anda tawarkan.sy rasa cocok & sy berminat,untk nego hrg hub suami sy pak H.DARMAWAN Hp 081287388436″ ~> pengirim nomor 081286844283.