In Allah We Trust :)

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

Kelak, Ketika Kita Bertemu

Kelak, Ketika Kita Bertemu

embun-akung

photo credit to: Dedi Sobari

Kelak, ketika kita bertemu akan kutadah
kata-kata yang mengalir dari matamu.
Kutampung dalam helai-helai daun.
Kubiarkan malam menguapkan menjadi
embun. Dan, di suatu pagi akan kau
temukan puisi di samping tempat
tidurmu. Puisi dari kata-katamu sendiri.

2010
~ Lelaki Budiman ~

Bermanuver Total. Mampukah?

Malah bertanya kepada diri sendiri. Aku sedang menunjuk diri dengan pertanyaan yang mudah dibaca namun sulit dijawab. Rasanya aku akan berantakan menulis di sini.

Menulis status di Facebook bagaikan bercermin seperti ini:

saya gak pernah tau besok bakalan kayak gimana perjalanan hidup. saya hanya tau tiga hal: berdzikir, berpikir, dan berikhtiar. sebelum saya memahami pentingnya tiga utama ini, hidup rasanya berantakan. tidak tau prioritas.

guru saya, Aa Gym, mengajarkan:
dzikir : harusnya menyerahkan segalanya kepada Allah. doa sangat penting agar saya selalu mendahulukan Allah dari yang lain.
pikir : tubuh saya di bagian kepala dibenamkan yang namanya otak. dengan prosesor super canggih dari Allah, harus bisa dipakai untuk berpikir positif selalu. harus bisa menghentikan ketakutan yang gak jelas.
ikhtiar : tubuh yang alhamdulillah masih sempurna, akanlah sangat memalukan bila tak digunakan secara maksimal. saya sebagai hamba yang terbatas dan hina, mau menikmati dunia haruslah dengan berusaha. apalagi, harus sadar dunia hanya sementara. jadi, karena tidak tau usia ini mentoknya di angka berapa, tak boleh berhenti untuk mengumpulkan saldo demi tiket ke akhirat yang kekal.

jadi, saya harus tetap bergerak. menggerakkan hati, pikiran, dan tubuh saya. semampunya. kemudian bertawakkal. mempercayai semuanya dan mengembalikannya pada Allah. hanya Dia yang bisa menjadikan saya seperti sekarang.

jadi, mari tetap tersenyum! :)

Satu hal yang ingin sekali kulakukan dari dulu adalah bereksperimen di dapur. Tetapi aku tak pernah punya cukup keberanian untuk mencoba. Gak pede. Takut gak enak. Lucu kan? Cemen banget ya? Jujur, aku sudah lelah dengan laptop, ingin sekali bermain di dapur. Terlebih setelah menonton film Julie & Julia. Rasanya memang harus dicoba ya? Gemas rasanya melihat teman-teman pamerin hasil ulik dapurnya. Sampai terkadang berpikir, “Harusnya aku juga bisa!” Tetapi aku hanya tertarik untuk kue kering, camilan ringan, dan dessert. Aku gak begitu menyukai atau tertarik pada appetizer atau main course. Ah, mungkin nanti sambil jalan bisa dipelajari ya?

Aku baru tahu kalau ilmu tentang kopi ada sekolahnya lho. Secara resmi, keren, dan bersertifikat! Waw! (Iya, norak!) Nah, karena kopi memiliki bidang ilmunya tersendiri, makanya aku ingin mencoba. Bahkan aku ingin belajar menjadi barista dan kemudian membuka kedai kopi, seperti mimpiku selama ini. Oh, I wish

Aku juga mengetahui dengan kesadaran penuh bahwa berhijab tak sekadar menutup aurat. Haruslah dilakukan total dan seutuhnya. Bukan sekadar pakai gamis atau menutup kepala dengan kain yang terjulur begitu saja. Aku ingin mengubahnya. Aku lama terdiam. Takut. Entah kenapa. Bagaimana cara memulai perubahan ini…

Ingin sekali lagi berterima kasih (tanpa bosan) kepada para penyemangat hidupku yang justru beberapa orang baru kukenal dan berada jauh dariku : Fira, Aria, Panca, Vei, Dewi, Pakde Bambang, Ladrang, Ichy, Saidah, Kiki, Sean, dan Al yang selama ini berada di belakangku. Mendorongku agar tetap maju dan tak berhenti berjuang.

Teman-teman baru yang mewarnai hidup bagai pelangi (dan dengan teganya bisa membuatku tertawa hampir 18 jam sehari…. well… 24 jam? :D ): Happy, Oje, Do, Dry, Lia, Susan, Sefa, Erwin, Dwi, Nano, dan Fero. Many thanks! ;) Ternyata aku bisa mendapat keriaan di komunitas yang sama sekali baru :)

Tuhan mahatahu, dengan skenario terbaik-Nya, Dia sedang menyiapkan sebuah humor yang akan sangat membuatku sesak napas karena bahagia. Entah apa dan kapan. Perubahan total itu akan terjadi.

Sungguh, terima kasih…

Merendahkan dengan Panggilan Buruk yang Sepele

Diambil dari SINI:

—————————————————

[Merendahkan, Mengolok-olok dan Memberi Stempel-stempel Buruk itu Memang Enak dan Lezat, Namun Sesungguhnya Ia Perkara yang Tidak Main-main]

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” [QS Al-Hujuraat : 11]

Al-Haafizh Ibnu Katsiir berkata :

ينهى تعالى عن السخرية بالناس، وهو احتقارهم والاستهزاء بهم كما ثبت في الصحيح؛ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، أنه قال: الكبر بطر الحق وغمص الناس، ويروى غمط الناس، والمراد من ذلك احتقارهم واستصغارهم؛ وهذا حرام، فإنه قد يكون المحتقر أعظم قدرا عند الله تعالى وأحب إليه من الساخر منه المحتقر له

“Allah Ta’ala melarang mengolok-olok manusia, maksudnya adalah menghinakan mereka lalu mengejek dengannya, sebagaimana telah tetap dalam Ash-Shahiih, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda, “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia,” dan diriwayatkan (dengan lafazh yang lain), “meremehkan manusia.” Yang dikehendaki maknanya dari yang demikian adalah menghinakan dan mengkerdilkan mereka, maka ia haram, karena sesungguhnya mungkin saja orang yang dihina memiliki derajat yang lebih mulia di sisi Allah dan lebih dicintaiNya ketimbang orang yang mengolok-olok dan orang yang menghinanya.”

وقوله تبارك وتعالى: [ولا تلمزوا أنفسكم]، أي لا تلمزوا الناس

“FirmanNya Tabaraka wa Ta’ala : [dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri], yaitu janganlah kalian mencela manusia.”

قال ابن عباس ومجاهد وسعيد بن جبير وقتادة ومقاتل بن حيان: [ولا تلمزوا أنفسكم]، أي لا يطعن بعضكم على بعض

Ibnu ‘Abbaas, Mujaahid, Sa’iid bin Jubair, Qataadah dan Muqaatil bin Hayyaan berkata, “(Firman Allah) Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, yaitu janganlah sebagian kalian mencela atas sebagian yang lain.”
[Tafsiir Al-Qur'anil 'Azhiim 7/376]

وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ

Berkata Al-Imam Abu Muhammad Al-Baghawiy mengenai firman Allah ini :

التَّنَابُزُ: التَّفَاعُلُ مِنَ النَّبْزِ، وَهُوَ اللَّقَبُ، وَهُوَ أَنْ يُدْعَى الْإِنْسَانُ بِغَيْرِ مَا سُمِّيَ بِهِ

“At-Tanaabuz : berinteraksi dengan memberi julukan, yaitu laqab, maksudnya adalah memanggil seseorang dengan selain nama yang mereka dinamakan dengannya.”

قَالَ عِكْرِمَةُ: هُوَ قَوْلُ الرَّجُلِ لِلرَّجُلِ: يَا فَاسِقُ يَا مُنَافِقُ يَا كَافِرُ

‘Ikrimah berkata, “Dia adalah perkataan seorang laki-laki kepada yang lain : Wahai fasiq! Wahai munafiq! Wahai kafir!”

وَقَالَ الْحَسَنُ: كَانَ الْيَهُودِيُّ وَالنَّصْرَانِيُّ يُسْلِمُ، فَيُقَالُ لَهُ بَعْدَ إِسْلَامِهِ يَا يَهُودِيُّ يَا نَصْرَانِيُّ، فَنُهُوا عَنْ ذَلِكَ

Al-Hasan berkata, “Konon ada seorang Yahudi dan seorang Nashrani yang telah memeluk Islam, lalu mereka saling memanggil setelah keislamannya, “Wahai Yahudi! Wahai Nashrani!” Maka mereka dilarang dari yang demikian.”

قَالَ عَطَاءٌ: هُوَ أَنْ تَقُولَ لِأَخِيكَ: يَا كَلْبُ يَا حِمَارُ يَا خِنْزِيرُ

‘Athaa’ berkata, “Yaitu kau mengatakan kepada saudaramu : Wahai anjing! Wahai keledai! Wahai babi!”

وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: “التَّنَابُزُ بِالْأَلْقَابِ”: أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ عَمِلَ السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابَ عَنْهَا فَنُهِيَ أَنْ يُعَيَّرَ بما سلف عن عَمَلِهِ

Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, “(Panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk) : Ada seorang laki-laki melakukan amalan-amalan yang buruk kemudian ia bertaubat darinya, maka ia dilarang menjelek-jelekkan dengan segala sesuatu yang telah berlalu dari amalannya.”
[Ma'aalimut Tanziil 7/343-344]

Maka ayat ini menjadi hujjah atas orang-orang yang gemar merendahkan orang lain termasuk memberi laqab-laqab buruk kepada saudaranya sebagaimana laqab-laqab buruk tersebut telah dijelaskan oleh para imam salafush-shalih kita. Dan inilah pentingnya pelajaran adab dalam berinteraksi sesama muslim, sesuatu yang sungguh telah hilang dari kehidupan sehari-hari, bahkan yang katanya telah lama mengaji.

*Cermin untuk diri
Wallaahu a’lam.

Kopdar Hits 8090 Cabang Bandung Jilid I

Alhamdulillah! Terwujud juga kopdar (yang katanya dadakan dan banyak diprotes orang lain) jilid pertamanya anggota grup HITS From The 80s & 90s cabang Bandung :)

target 5 orang, yang datang 9. lumayan :)

target 5 orang, yang datang 9. lumayan :) satu orang terlambat :D

Ide pertama terlontar dari Happy, yang mencari teman dari Bandung. Aku langsung mengiyakan. Kalau gak salah ingat, tanggal 7 September Happy mengajakku untuk kopdar Bandung. Disambut oleh Oje. Plus, Pak Lurah Dry juga mengatakan akan ke Bandung tanggal 10 September. Oke deh, jadiin! Tetapi ternyata Dry tidak bisa hadir tanggal 10 dan terpaksa diundur. Tapi rasanya gak asik kalau kelamaan. Akhirnya Happy memutuskan hari Jumat tanggal 12 untuk merealisasikan janji. Kuajak Nunny untuk bergabung. Dikitan saja dulu deh. Nunny bilang, dress code pakai yang gonjreng dong. Baiklah, setelah memilih antara kuning, ungu, dan merah, maka diputuskan si merah delima menjadi warna penanda pertemuan.

Nunny bilang, “Bikin deh trit baru pemberitahuan kopdar.” Oke, aku buatkan di SINI. Tetapi, karena puluhan ribu anggota dengan ratusan komen setiap tritnya, membuat thread aku selalu tenggelam. Apes emang :D Ya itulah kelemahan grup di Facebook. Mari protes pada Mark!

dua orang udah pulang, yang terlambat datang baru nongol :D

dua orang udah pulang, yang terlambat datang baru nongol :D

Tanggal 11, Nicko Krisna membuat thread tentang kopdar dan banyak yang bertanya tentang daerah masing -masing. Aku komentar di sana dan meminta izin memakai logo pada header FB. Nicko mengirimkan e-mail berisi logo yang kuminta dan aku meminta Happy untuk mencetaknya. *kusut* wakakakaka :lol:

Berulang kali aku menyebutkan kopdar Bandung ada di trit lain, teteup yaaaaa… Mereka tanyanya di trit Nicko, membuatku rada pegel untuk mention mereka. Malah di trit keterangan kopdar pun aku gak bisa mention mereka. Oke, gak papa deh kalo ada protes lagi. Soalnya komentator ratusan, dan nyaris gak ada yang menyimak panggilan alamku *halah*

Setelah koordinasi dengan Happy dan Oje, akhirnya bismillah kumpul di Dunkin Donuts Merdeka. Kenapa di sana? Karena faktor jadulnya, apa lagi? :D Maunya sih karena ada fasilitas wi-fi. Tetapi ternyata oh ternyata, gangguan ada pada server. *nangis kejer* Apes, terpaksa menggunakan sinyal dari provider masing-masing.

Pukul 11.15 WIB aku datang (setelah salah angkot, duduls), kemudian datang Happy, Essy, Ritta dan suaminya, Ervien, Elies, Neni. dan terakhir Adi.

Bener banget! Kopdar anak jadul itu beneran luar biasa ikatan batinnya meski baru ketemu pertama kali di Dunkin! Permainan jadul, gosip jadul, film jadul, sampai tentang guru :D Ya ampun, kece banget! Dan satu lagi, kita benar-benar tertawa lepas seperti sedang reunian. Padahal baru saja kenal. Dunia yang indah. Ternyata ada yang temannya ipar, ada yang satu sekolah, ada yang teman satu lingkungan.

Aku sempat buka laptop, maksud hati sih untuk mengecek wi-fi dan shrinking hape. Sayang beribu sayang, aku harus gigit modem! Ya sudah, tutup lagi aja. Ternyata itu lebih mengasyikkan. Baru kali ini aku gak peduli dengan pekerjaanku dan hanyut dalam nostalGILA bersama teman senasib seperguruan *eh :D

Gajet bernama henpon, yang belum ada di tahun 80an itu hanya dipergunakan untuk posting foto dan membalas komentar. Selebihnya kita larut dalam percakapan. Memang benar, saat sedang bersama dalam satu ruangan, berbincang lebih mengasyikkan daripada mata menatap layar :)

Karena kami semua yang hadir sudah menjadi orangtua (minus Adi :D ), kekhawatiran kenakalan remaja masa kini membuat miris dan ngeri. “Rasanya dulu kita nakal gak begini amat deh.” “Kita bandel tapi tetep aja nurut pulang buru-buru.” “Orangtua kita dulu gak khawatir anak pulang telat karena dipastikan ada di sekolah atau rumah teman. Sekarang sih gak tau ada di mana. Baru keluar rumah udah ditanyain aja ke hape.” Beda banget kan? Coba cek perbandingan berikutnya, “Anak orang kaya atau orang miskin dulu sih sama aja. Anak kota atau anak kampung, mainnya lumpur juga. Sekarang kan beda.” Zaman sekarang, ada berapa banyak anak usia SD yang pulang sekolah bermain layangan? Langsung ke warnet untuk bermain online games. Otaknya hanya mencari cara agar bisa mengalahkan lawan dengan cara apa pun. Hm, apakah ini bibit kebrutalan anak zaman sekarang? Coba anak zaman dulu, tantangan kreativitas yang melatih motorik kasar dan motorik halus itu benar-benar membuat otak terpacu dengan baik dan bersaing secara sehat.

Cerita kisah masa kecil dan remaja memang selalu indah. Itu dulu. Kalau anak zaman sekarang seindah apa sih masa kecilnya? Mudah-mudah kita yang memegang peranan sebagai orangtua modern bisa mengambil kearifan zaman dulu yang memang benar adanya. Ortu kolot? Well, pada saat akan tiba sebuah kesadaran bahwa pengalaman orangtua yang membuat mereka bawel adalah agar kita bisa menjadi manusia yang bisa berjalan pada jalur lurus, lempeng, benar, dan tidak tergoda mencari jalan penuh bahaya.

Oke, aku sudah belepotan di sini. Tunggu kopdar selanjutnya yang lebih besar, ramai, dan asyik. Inshaa Allah ;)

Thanks to om Nicko atas izin dan kepercayaannya :)

antara laper dan eksis

antara laper dan eksis

PS: Setelah dari Dunkin Donuts, aku+Essy+Happy+Neni melanjutkan sesi makan bakso di belakang BIP. Lapaaaaarrr :lol:

Dan maafkan kualitas foto karena fotografer yang ditunjuk malah tidak datang pada hari-H. Dodol! *Timpuk Oje*

Cherioooo….

Ustadz Salim A. Fillah Tentang Bidadarinya

Ini kutemukan dalam sebuah postingan blog 3 tahun lampau di SINI dan aku membacanya dengan senyum sambil menerawang… Membayangkan memiliki imam seshalih beliau… Kemudian sadar diri, aku belum memantaskan diri menjadi Khadijah bagi Muhammadku, siapa pun dia kelak. Ah… :(

love happy

—————————————————————————————————

Duhai Cinta; lukaku selalu Allah sembuhkan dengan air matamu. Bahagiaku selalu Allah sempurnakan dengan tawamu.

Duhai Cinta; gelisahku senantiasa tenggelam bersama senyummu; hebatlah kesediaanmu mendampingiku; tanpa syarat, tanpa jemu.

Telah kau insyafkan betapa tak mudah menjadi lelaki; tak pernah sempurna kumemberi, meski kukerahkan segala cinta & daya diri.

Karena tak pernah utuh aku menjadi suami; sebagaimana kau tahu aibku di sana-sini; seperti kau rasa khilafku terulang lagi

Tiap hari, merambatlah usia ini, dan tak ada yang bisa kuberikan padamu, selain doa yang kulantun dengan bersahaja; kadang rahasia

Moga ia tak usang, tak lekang, dan makin lama kian INDAH. Seperti namamu; moga selalu dalam ridha dan barakah.

Tentu saja saat itu, tujuh tahun lalu, kau punya banyak pilihan. Dan aku, he he, sama sekali tak masuk hitungan.

Aku bukan lelaki yang jika kau lihat seakan wujud malaikat. Dan pasti tetap sakit, jika kau tatap wajahku sambil mengiris jemari.

Aku juga bukan pria yang jika diajak bicara; membuatmu merasa ada & berharga. Bahkan aku dijuluki; si penumpah airmata.

Sulit kubayangkan apa yang ada dalam benakmu, -terlebih ayah ibumu-, ketika di acara khithbah, ringan saja aku berkata: “Urusannya ialah segera menikah. Belum soal dengan siapa. Jika tak dapat mertua di sini, insyaaLlah kami cari di pulang nanti.”

Aku tahu, aku terlihat tak waras dan tak tahu malu dengan kata-kata itu. Tapi hebatnya, kau memahamiku.

Dan tertakjub aku, karena kau bisa meyakinkan walimu, bahkan wangsamu; bahwa aku makhluk langka, patut dilestarikan jua;

Ternyata kita memang sejiwa, seakan ketika melirikmu sekilas, hatiku berkirim pesan menyapa & lirih mencintakan taqwa.

“Aku bukannya tak sabar. Hanya tak ingin menanti. Karena ketegasan macam ini adalah juga kesabaran –juga kesiapan diusir pulang.”

“Karena kita tahu, dalam penantian, ada lebih banyak celah syaithan. Lagu nantikanku di batas waktu, tak tercipta tuk kita bukan?”

-aku sadar, sejak peristiwa itu kau mulai mengenalku, dan menyiapkan diri untuk kelaknya, banyak-banyak menyabariku-

Maka kusyukuri hadirmu sebagai penggenap separuh agamaku; penjaga ketaatanku. Bantu aku bertaqwa di separuh lainnya, Cintaku..

Maka segala puji bagi Allah; yang hanya dengan pertolonganNya kita mampu berdzikir, bersyukur, & membaikkan ibadah kita..

Tujuh tahun lalu kita menikah. Aku lalu tahu bahwa kau agak pemarah. Tapi aku suka itu; sebab marahmu selalu di atas alasan jitu.

Dan lagi, kau tak seganas ‘Aisyah yang membanting piring, ketika Nabi menjamu tamu-tamu. Saat itu, mereka terbelalak lalu haru.

Kau juga tak pernah sampai mengatai suami, “Kamu ini hanya mengaku-aku Nabi!”, seperti ‘Aisyah di waktu murka diri

Ah, begitulah ‘Aisyah; begitu besar cintanya pada lelaki sempurna; besar pula cemburunya. Jadilah cermin tuk rumahtangga kita.

Separah-parahnya yang kurasakan saat marahmu hanya tak kau bukakan pintu di larut pulangku.
Jadiku bagai ‘Ali saat dimarahi Fathimah; tidur di luar berselimut tanah. Ketika itu dia dapat sapa cinta dari mertua: Abu Turab.

Dan kau memintaku menjadikanmu Khadijahku. Itu artinya kau akan meneladaninya; misalnya dengan tak bertanya Ketika kau lihat beban menekuk mukaku, menggontaikan tubuhku. Lalu kau mempersilakanku berbaring bukan di kamarmu, Karena begitulah yang dilakukan Khadijah ketika suaminya berjebah; terguncang, gelisah, menggigil, & payah ditimbuni risalah. Tapi menjadikanmu Khadijah artinya juga; takkan ada selain dirimu, sebelum Allah memanggilmu;)

Soal yang ini, doakanlah aku kuat; dan -demi Allah aku berjanji- takkan meminta padaNya agar itu terjadi cepat-cepat;

Duhai, 7 tahun bersamamu Cinta, ada banyak yang tak bisa diungkap dengan kata. Semoga selalu berasa surga sebelum surga.