In Allah We Trust :)

حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

 Cukuplah Allah sebagai penolong dan Allahlah sebaik-baiknya penolong.

✔ Rabbighfirlii (Tuhanku, ampuni aku)
✔ Warhamnii (Rahmati aku)
✔ Wajburnii (Tutuplah aib-aibku)
✔ Warfa’nii (Angkatlah derajatku)
✔ Warzuqnii (Berilah aku rezeki)
✔ Wahdinii (Berilah aku petunjuk)
✔ Wa’Aafinii (Sehatkan aku)
✔ Wa’fuannii (Maafkan aku)

Kelak, Ketika Kita Bertemu

Kelak, Ketika Kita Bertemu

embun-akung

photo credit to: Dedi Sobari

Kelak, ketika kita bertemu akan kutadah
kata-kata yang mengalir dari matamu.
Kutampung dalam helai-helai daun.
Kubiarkan malam menguapkan menjadi
embun. Dan, di suatu pagi akan kau
temukan puisi di samping tempat
tidurmu. Puisi dari kata-katamu sendiri.

2010
~ Lelaki Budiman ~

Kita, Kopi, dan Pahitnya Hidup

coffee

Entah dari mana filsafat kopi level kelurahan itu kudapatkan. Beberapa tahun silam. Bahwa, meski kopi berwarna hitam pekat, panas, dan pahit luar biasa, kita tetap bisa menikmatinya sambil tertawa dan penuh hasrat. Seperti itu pula kehidupan. Seberat apapun masalah yang dihadapi, nyeri yang membuat kita menangis, dan emosi yang tersulut karenanya, justru berakhir dengan senyum kelegaan karena bisa melewati prosesnya meski mungkin kadang sangat sulit.

Rindu juga pahit. Menahan rasa ingin jumpa itu hanya bisa dinikmat dalam secangkir kopi. Jika kau beruntung, sekeping biskuit manis akan menemani. Tetapi tak bisa mengobati sepi. Apapun hiburan yang diberikan oleh semesta, senyum yang mengembang hanya tinggal lengkungan bibir tanpa makna.

Jika pagi membuat mataku terbuka, aroma kopi tetap menggoda meski sudah tahu rasa apa yang akan disuguhkan. Tidak akan ada kapoknya. Begitu pun dengan harapan yang membuncah setiap harinya, meski mungkin akan memberikan hasil yang berbeda dari harapan.

Aku mencintai kopi dengan segala kekurangan yang membuatku tak bisa melepaskan diri. Mungkin, sama seperti mengapa aku tak bisa jauh darimu.

=========

Tulisan manis untuk #DiBalikSecangkirKopi @IniBaruHidup

Twitter: @andiana

FB: An Diana Moedasir 

Merasakan Apa yang Kaurasa

Ah, aku seperti remaja tanggung saja, semua serba dirasa. Tetapi apa mau dikata, bila kau jatuh hati… (langsung nyanyi lagunya Project Pop :D )

Dan kini aku sedang berpikir… Ingatan yang mundur ke belakang. Aku tak pernah bisa merasakan apa yang pasanganku rasakan. Lelah, letih, penat, suntuk, jengkel, jenuh, bahagia, marah, sedih, kecewa, dan apapun bentuk sinyal itu tak pernah sekali pun tersampaikan padaku. Aku hanya bisa kaget ketika diprotes. “Kamu gak bisa ngerasain, gitu?” Aku menggeleng bingung. Haruskah bisa merasakan apa yang pasangan kita rasa? Ya Tuhan, ada apa dengan hatiku? Matikah?

Tak adakah jalinan cinta yang sesungguhnya dalam hatiku kepada pasanganku saat itu? Entah. Ikatan batin macam apa yang pernah kurasa? Sedemikian lemahnya kah? Semakin aku berjuang dan berusaha untuk bisa mengasah batinku, semakin jauh dari kenyataan. Aku tak bisa memaksakan diriku sendiri.

Waktu berlalu begitu cepat. Hari-hari yang membosankan ternyata sudah jauh terkubur di belakang. Sekarang, aku merasakan keajaiban itu. Tanpa diminta, jiwa ragaku merasakan perubahan aneh. Awalnya tak kusadari. Ketika aku melihat sesuatu dari dirimu, mengapa sama seperti apa yang kurasa? Ah, jikalau sekali dua saja, aku tak akan menggubrisnya.

Namun, berkali-kali, setiap kali aku merasa ada yang tidak beres dengan fisik dan psikisku, pada saat yang sama pula hal yang serupa terjadi padamu. Seolah, apa yang kaurasa, berpindah dan terbagi untukku. Hingga akhirnya, jika itu terjadi, aku hanya bisa mengikat doa dan kuterbangkan ke Arasy agar Dia mendengar dan perlindungan-Nya menyelimutimu senantiasa.

Adakah yang lebih pilu dari nestapa? Terlebih bila hal itu terjadi pada pasangan saat jauh dari pandangan… Duhai engkau, lelaki yang ada dalam setiap doa dan sujudku, semoga Dia menjaga kita. Hingga semua mewujud sempurna pada waktu-Nya…

(tulisan keduabelas dari beberapa tulisan)

Look At Me, Dearest

Aku bawel. Banget. Bahkan untuk hal-hal yang terkadang hoax, aku bisa dengan latahnya ikut menyebar berita cupu dan lebay itu. Ah, langsung dapat teguran dari adikku. “Sampai kapan mau dengan mudah percaya berita bohong?” Alamak! Tetapi kebawelan yang lain, mungkin urusan bisnis dan pekerjaan. Saat ini, berita politik sangat menggelitik untuk dibuat ramai :P

Saking gak bisa menahan diri untuk berhenti mengoceh, sampai diprotes S via BBM. “Status kamu yang mana lagi? Kamu tuh kalau bikin status sehari bisa ratusan.” (Waktu aku dengan kalemnya minta dia melihat salah satu statusku) Yah, salah deh :(

Sometimes, aku bisa kok menahan diri untuk gak update status terlalu sering begitu. Sehari sekali aja, misalnya. Itu juga hanya status yang berkaitan dengan kerjaan tok.

Iya, aku memang caper. Tujuanku bawel terkadang karena aku ingin mengalihkan perhatiannya padaku. Tentu saja, selalu khas dirinya yang merasa tak harus semua statusku diberi komentar. Yang jelas, dia memang membaca semuanya. Terkadang, aku yang lupa pernah menulis status apa, dia yang kasih screen shot. “Inget?” Hihihi :D *tutup muka*

Ketika matanya hanya tertuju padaku. Ketika hatinya hanya dipenuhi oleh rindu padaku. Ketika separuh jiwanya adalah aku.

Saat itulah aku berhenti untuk mencari perhatian di muka umum. Aku akan mencari perhatiannya dengan mengajaknya semakin dekat kepada Sang Maha Cinta.

(tulisan ke sebelas dari beberapa tulisan)

10 Kalimat yang Jangan Pernah Diucapkan kepada Penulis

andiana:

nah ini! ini! ngerti ora, son?

Originally posted on :

 writer-rant-1

Berikut adalah daftar 10 kalimat yang sebaiknya jangan diucapkan ke penulis. ^_^

“Buku kamu baru terbit, ya? Aku minta satu ya, yang gratis tis tis! Boleh kan?”

1

Ngarep!

“Wah, sekarang kamu jadi penulis ya? Tulisin kisah hidup aku, dong!”

2

Hmmm…. hidup kamu enggak semenarik yang kamu bayangkan. Sori.

“Gue udah baca ceritalu. Lumayan bagus, tapi kalau endingnya diubah jadi begini dan begitu kayaknya tambah oke.”

3

Oke deh. Makasih.

“Eh, kalau menulis buku dapat royaltinya berapa sih? Hah? Segitu doang?”

4

Iya, emang cuma segitu doang! Terus elu mau ngajakin gue berantem? Gitu?

“Naskah kamu dikirim ke penerbit mana? Oh penerbit itu. Mereka kan penerbit kecil ya?”

5

So what?

“Buku kamu sudah pernah ada yang bestseller belum?

6

Belum ada dan aku masih tetap bahagia.

“Aku kepingin banget jadi penulis, tapi aku enggak pernah punya waktu untuk menulis.”

7

Helloooow, kami juga punya banyak kegiatan kok, dan kami masih punya waktu untuk menulis.

View original 69 more words