Akhirnya, Sedih Tanpa Nama Itu Tumpah

“The wound is the place where the Light enters you.”
Rumi

Entah seperti terempas ke masa lalu, atau ada yang memanggil dari buku kenangan itu, yang pasti dentuman rindu itu tiba-tiba membangunkan saya dari lamunan panjang.

Seseorang bertanya di sebuah grup yang dulu begitu hangat dan ramai, bagaimana kelanjutan nasib grup tersebut? Masihkah menebar manfaat? Memang, grup itu kini tampak dingin, sunyi, tanpa nyawa. Saya tak menjawab. Saya diam, mencoba untuk tidak terpancing untuk langsung bereaksi.

Pikiran saya melayang ke masa yang belum terlalu lampau, bagaimana kelakar, tawa, canda, tangis, emosi, amarah, tumpah ruah di grup tapi semua bisa diselesaikan dengan baik. Kami merasa bisa saling menguatkan dan mendukung kala itu.

Kemudian satu masalah muncul. Hanya satu. Sejak itulah semuanya berubah. Saya pribadi merasa terluka dengan hal tersebut. Termasuk sang ketua yang merasa tak habis pikir dengan masalah itu. Kami mencoba menahan diri untuk tidak tersulut emosi. Mencoba diam. Meredam galau.

it is so deep

Kecewa dan sakit hati kami berdua terkait masalah tersebut tak digubris. Bahkan permohonan maaf pun tiada kami terima. Akhirnya cukup tau, siapa orang-orang di balik masalah itu, bagaimana karakter mereka, dan seperti apa pengekor yang buta arah itu.

“Scars have the strange power to remind us that our past is real.”
Cormac McCarthy, All the Pretty Horses

Grup itu tetap ada. Awalnya sesuai janji, apa pun yang terjadi, kami tetap satu keluarga. Ukhuwah itu harus tetap utuh. Harusnya. Tampaknya, ikatan itu terlalu rapuh. Kini talinya mulai menyerpih. Semuanya berubah. Belum kembali menghangat seperti mula-mula grup itu terbentuk.

Saat menulis ini, saya tidak tau harus mengeluarkan emosi apa. Menangis? Meratap? Tersenyum? Atau tanpa emosi? Satu hal yang pasti, saya beristighfar tiada henti. Saya punya kontribusi atas kebekuan yang terjadi di dalam grup. Ya, saya menyimpan rasa sakit hati itu. Saya belum sembuh. Luka akibat masalah itu masih basah.

Sedemikian lama? Ya. Meski begitu, saya sudah memaafkan mereka yang memperalat teman-teman di grup. Atas ketidaktahuan mereka, saya memaklumi itu semua.

Lembaran kenangan itu masih melompat-lompat dalam pikiran saya. Hati ini pun masih ingin mempertemukan kami lagi. Tapi tampaknya waktunya belum pas. Entah, apakah bisa ada waktu itu?

Not coincidence ketika pagi harinya, saya menghapus semua pesan dalam sebuah grup besar yang terkait dengan grup kecil itu. Kemudian siang harinya, pertanyaan itu muncul.

Ah, ternyata benar. The wounds are still remain. Karena akhirnya, mata saya memanas dan berair. Rindu itu menganak sungai…

Bandung, 13.50 WIB
Sebuah siang nan mendung.

Iklan

3 pemikiran pada “Akhirnya, Sedih Tanpa Nama Itu Tumpah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.