Habis-habisan di Penghujung Ramadan 1439 H.

9 Juni 2018, bertepatan 24 Ramadan 1439 Hijriah, waktu di pagi hari. Pulang dari itikaf dan berniat istirahat seharian sambil beberes rumah.

Fisik nyeri luar biasa. Dada sesak. Kepala pusing. Punggung dan pinggang pegal. Pikiran buntu. Perasaan lelah. Intinya, nyaris ambruk. Lebay. Mungkin.

Kemudian dapat kabar, tepatnya ajakan untuk berbuat kebaikan sekali lagi. “Teh Andi, ikutan. Bagi-bagiin sembako dan takjil yuk.” Waktu kumpul diatur tepat pukul 12 siang. Saya lihat jam di ponsel sudah menunjukkan angka 10.30. Saya merasa tidak sanggup. “Kirain ntar jam duaan. Sekarang mah gak deh. Badan saya gak karuan.”

Kemudian, waktu kumpul diubah menjadi 14.00. Saya merasa ini tanda dari Allah agar saya bergerak. Ditambah lagi, seorang kawan bersedia menjemput. Baiklah, saya siapkan fisik ala kadarnya. Emosi saya sebenarnya tidak siap, tapi saya memaksakan diri. Pasti ada hikmahnya.

Sekitar pukul 15.00, saya menyisir sepanjang Jalan Laswi, BKR, hingga Peta sampai Jamika untuk mencari 10 penerima manfaat sembako yang kami (saya dan kawan) temui.

Dari sepuluh orang, saya menerima dua doa yang menurut saya terbaik di hari itu.

Tidak sempat melepas helm, saya berjongkok agar bisa mendengar doa beliau.

.

Doa pertama lumayan panjang. Kami mendapatkannya di sekitar Jalan Terusan Pasir Koja. Awalnya kawan saya rada ogah karena faktor macet. Ditambah, “Makin jauh ini, Teh.” Protes dia. “Udahlah belok. Inshaa Allah ketemu. Ntar gampang balik lagi,” saya meyakinkan. Bener, kan? Ketemu.

Inti doanya begini, “Sing sarehat, balageur, saroleh, panjang rezeki sadayana. Mugia dipaparin kasalametan, kaberkahan, kabagjaan. JazaakumuLlahu khaiiran katsiiran nya.” Mungkin terdengar biasa. Umum. Tapi jika kamu dapatkan dari seorang kakek dhuafa yang berjalan saja dengan cara (maaf) menyeret kakinya yang lumpuh dan punggung bungkuk, bisa jadi itu yang terbaik bagimu dan beliau.

Saya masih tercenung. Andai saya menolak ajakan berbagi ini, saya gak akan dapat doa terbaiknya. Betapa ruginya saya.

Senyumnya merekah. Semoga lebarannya menjadi semarak.

.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Doa kedua kami dapatkan dari seorang tukang rongsokan di Jalan Burangrang. Saya bilang sama kawan, “Belok sini, inshaa Allah dapet.” Ya, benar. Kami temui beliau sedang diam dengan tatapan kosong entah mengapa. Saat kami hampiri, beliau tampak sumringah. Wajahnya menjadi berseri.

Beliau tanyakan nama saya dan kawan. Lantas berdoa komat-kamit. Sayangnya kami tak begitu jelas mendengar karena suaranya pelan. Saya berharap dalam bisikan (yang saya yakin tak terdengar karena bisingnya suara lalu lintas), sebuah harapan yang sudah tersulam sejak tahun lalu.

Saya kembali ke titik awal keberangkatan dengan perasaan membuncah. Berlimpah doa di sore hari Ramadan. Meski badan terasa remuk, tapi hati mulai basah penuh syukur.

Meski ordean sering ditolak babang Gojek, aku rapopo. 😁

.

Di Jalan A. Yani, persis depan IBCC, saya dan teman-teman membagikan ifthar bagi para pengguna jalan raya. Sisa tenaga yang entah ditopang oleh siapa, saya merasa masih kuat berdiri. Mungkin para malaikat Allah yang menguatkan kaki saya agar tetap berpijak. Mungkin juga doa dari tiga jagoan tercinta. Saya merasa bahagia.

Saya pulang dengan perasaan penuh syukur dan kemenangan. Iya, menang banyak. Doa-doa yang mengalir deras itu penguat saya di penghujung bulan suci. Pelipur lara setelah sekitar tiga mingguan nyaris tanpa henti beredar di jalanan ibukota Jawa Barat untuk meraih berkah Ramadan.

Allah Maha Sayang.

Am blessed. Hamdalah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.