Welcoming 2018: Am Lost

Sudah 10 hari 2018 berlalu. Tapi nyatanya saya masih belum siap meski serangkaian rencana sudah tertulis sejak akhir tahun lalu.

That plot twist which happened on last year made me shock and left so many question why. Meski demikian, saya tetap tidak bisa diam hanya dengan berkubang pada pertanyaan itu.

Sampai kemarin, Fira masih aja nanya, “Gimana?” Iya, saya tau ke mana arah pertanyaannya. Saya pun jawab, “Gatau. Gue blank.” Jadi, apa yang sudah saya lakukan selama 10 hari pertama 2018? Menjaga otak supaya tetap waras.

Bangun pagi, bersyukur pada Allah. Sebelum memejam di malam hari, bersyukur lagi. Apa saja. Apa saja. Tentang teman-teman yang mengajak tertawa di japrian. Tentang telepon yang saya terima dari Panca (setelah bertahun-tahun hanya kontak via chat). Tentang doa-doa baik dari teman-teman baru. Tentang anak-anak tetap sehat dan ceria. Tentang cinta yang selalu terjaga. Tentang apa saja.

Meski rasanya dihantam badai, saya tetap harus berjalan, toh? Bukan meratapi mengapa plot twist itu terjadi. Karena memang harus terjadi. Karena ada skenario langit yang harus dijalankan.

Masih ada sisa 355 hari lagi yang harus dihadapi. Bawa senyum aja. Sesekali menangis, untuk meringankan beban di hati.

Ingat, kalau Allah sayang, kita pasti akan diuji. Tanda perhatian-Nya, tanda bahwa Dia mau kita lebih dekat kepada-Nya. Hanya meminta pertolongan kepada-Nya. Hanya menyebut nama-Nya di saat bahagia atau sedih.

Tentu, kalian juga, para pembaca. Kalian pun punya hal-hal yang perlu dibenahi ketika badai menerjang. Apapun itu, saya doakan segera beres, teratasi, dan kalian bisa bangkit kembali. Allah mengetahui yang terbaik untuk makhluk-Nya.

Jika ada suatu hal terjadi tidak sesuai prediksi atau rencanamu, percaya deh, itu tandanya Allah sedang menyelamatkanmu dari sebuah kemudharatan. Bersyukurlah. Setidaknya itu yang terjadi pada saya akhir tahun lalu.

Ada seseorang datang ke rumah dengan calon istrinya dan bilang berminat dengan rumah saya. Akhirnya mereka membayar uang tanda jadi. Namun seminggu kemudian, mereka membatalkannya. Alasan mereka bahwa sistem yang saya pakai itu ribet. Sistem?

Padahal saya hanya memakai aturan yang biasa dipakai di kantor notaris. Sudah transaksi jual beli, baru tandatangan di depan notaris. Lah, sistem yang dia pakai itu aneh. Semua surat dan berkas rumah saya harus ada di tangan dia dulu, baru dia mau bayar. Itu masuk akal? Kalau berkas rumah saya dibawa lari? Dipalsukan? Dijual lagi tanpa saya tau? Atau segala kemungkinan terburuk deh, silakan sebutkan.

Saya meminta kepada Allah. Tunjukkan jalannya. Jika memang salah dan tidak baik untuk saya, mending batalkan. AlhamduliLlah, mereka membatalkannya. Saya dan anak-anak selamat dari sebuah rencana penipuan. Kami masih di rumah.

Meski shock, tetapi anak-anak bisa menerima dengan lapang dada. “Nanti ada lagi pembeli baru ya?” Mereka mencoba menghibur saya yang masih tak habis pikir. Kejahatan itu bisa aneka macam bentuknya.

Fira, Ichy, dan Vei juga menguatkan saya. Better things are coming. Saya percaya. Sudah sejauh ini saya berjalan. Semoga menjadi lebih kuat, lebih percaya diri, lebih tahan banting terhadap badai berikutnya.

Aamiinn..

Teman-teman juga ya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.