Menghadapi Kepahitan Hidup: Fitnah

Hidup itu penuh liku. Semua orang juga tau. Hidup penuh drama, banyak orang yang tidak sadar. Jadi pingin cerita.

Entah, saya pernah bercerita tentang poin yang satu ini atau belum. Ada satu kisah di masa lalu. Sekitar tahun 90an. Seorang anak perempuan terkena fitnah di sekolahnya. Fitnah yang beredar adalah, “Si Fiona ngerebut pacarnya Kak Yanti.” Sederhana. Fiona, yang tidak tahu apa-apa dan tak mengerti ada apa, menjalani hari-hari dengan cuek. Gosip dan fitnah menyebar. Tapi karena tingkat kepedean tinggi, Fiona santai menanggapi apa yang terjadi (akhirnya dia ngeh karena temannya memberitahu).

Bertahun kemudian. Fitnah kembali menghadang. Di tengah hari bulan Ramadan. Lagi-lagi, meski menangis, Fiona tersenyum dan terus melangkah. Sudah qadaruLlah harus terjadi. Perih. Memang. Kehilangan sesuatu yang menjadi tumpuannya bukan perkara mudah. Akhirnya Fiona hijrah ke kota lain. Dia percaya, Allah punya rencana lebih baik.

Tapi rencana baik selalu memiliki syarat berat. Ujian kenaikan tingkat keimanan, begitu istilah yang pernah Fiona terima. Di tempat baru, belum sembuh dari luka yang masih basah dan menganga, kembali menghadapi rentetan peristiwa yang harus dihadapi dengan senyum meski terasa palsu. Fiona merasa tidak kuat. Tetapi Allah menguatkan.

Terakhir, saya mengetahui Fiona terkena fitnah yang menjatuhkan harga dirinya. Membunuh karakternya. Ini yang dia rasa paling berat. Saya katakan, “Tentu saja lebih berat. Kapasitasmu sudah menjadi lebih dewasa. Melewati tahun-tahun berat untuk menjadi lebih bijaksana. Bukan lagi Fiona saat SD, kuliah, kerja, atau tahun lalu.”

Fiona menghela napas berat. Getir suaranya berbicara. Emosinya terasa dalam setiap kata yang dia pilih. Berusaha kuat. Berusaha menganggap semua sudah berlalu. Tetapi rentetan kenyataan menyapanya saat Fiona merasa sudah lebih baik dan sembuh.

“Aku belum sembuh! Aku meradang!” Fiona berteriak. “Aku gak salah! Aku punya bukti!”

Saya diam dan menunggu emosi Fiona mereda. Tapi nyatanya saya salah. Fiona masih merasa harus siaga. “Dia jahat. Dia menggalang kekuatan untuk menghancurkanku.”

“Lantas?” tanya saya hati-hati.

“Saya akan membalas semua kejahatan dia,” jawabnya penuh keyakinan. Sakit hatinya karena merasa dizalimi itu menjadi kekuatan yang entah.

“Jangan pernah balas kejahatan yang orang lain lakukan kepadamu dengan berbuat sama jahatnya, Fio,” ujar saya lebih hati-hati. “Kamu merasa benar. Mereka juga merasa mereka benar. Tapi lihat bedanya. Kamu benar meski sendirian. Mereka? Merasa benar karena sama-sama salah. Jadinya mereka yakin mereka benar. Membela kesalahan sama sekali tidak dibenarkan. Teruslah maju. Berjalan tanpa harus khawatir.”

Saya melihat Fiona tercenung. Dadanya masih berdebar karena cemas.

“Fio. Lihatlah dirimu sendiri. Meski berulang kali disakiti, dikhianati, ditikam dari belakang, dan banyak orang berusaha berbuat jahat kepadamu, lihat dirimu. Kamu tetap ada. Berdiri di atas kaki sendiri. Di titik ini kamu menang, Fio.

“Sebenarnya mereka malu karena tak bisa mengalahkanmu. Tak bisa membunuhmu dengan mudah. Justru, kasihanilah mereka yang seperti segerombolan serigala yang hanya bisa melolong berbarengan. Jadilah seekor singa. Sendirian, menghadapi semua hal terburuk. There’s only one alpha male. So, that’s you. An alpha woman. Alone but have a dignity. Paham?”

Fiona memejamkan matanya. Saya lihat dia begitu letih. Tapi saya yakin, dia akan bisa melewati semuanya meski sendirian. Rahasia Allah yang lain sedang menanti. Lebih besar, lebih sulit, lebih ganas, tapi juga memiliki solusi lebih indah dan penuh cinta.

Doakan Fiona, ya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.