Ketika Masih Bisa Berjuang, Ketuklah Pintu Langit

Ini tentang hati perempuan. Saya mau membagikan dua kisah. Tentang dua perempuan biasa yang memperjuangkan perasaan mereka untuk lelaki yang dicintainya.

Kisah pertama, sebut saja namanya Vivi. Gadis PNS yang tinggal di pinggiran Jakarta ini jatuh cinta pada seorang pria dari pulau seberang. Vivi si ambivert ini menyukai pria introvert yang untuk sekadar komunikasi saja harus digong dulu agar terjadi percakapan.

Vivi sudah mengenalnya sejak lama, namun baru bertemu kembali dengan pria itu awal tahun 2017 ini. Akhir-akhir ini Vivi galau karena merasa ada di persimpangan perasaannya. Antara dia letih karena tak ada kejelasan sikap dari si pria ini, atau tetap bertahan yang entah sampai kapan.

Vivi sudah bicara pada pria itu dan responnya masih menggantung sampai saya menulis post ini.

Saya ikutan bingung dengan kondisi seperti ini. Saya hanya bisa membantunya dengan berdoa dari jauh. Andai saya bisa bertemu dengan pria itu, tentunya saya juga akan bantu dengan bicara langsung. Kesempatan itu belum ada. Someday, saya yakin saya bisa bicara banyak dengan pria itu. Demi Vivi. Demi mereka berdua.

Kisah kedua tentang Hera, wanita manis mojang Bandung ini jatuh cinta pada pria introvert yang sangat irit bicara dan sedang belajar hijrah dengan sering hadir di kajian salafi.

Hera pertama kali menceritakan hal ini pada saya ketika kami sama-sama menghadiri kajian pagi di Cijagra pada awal tahun ini. Februari atau Maret, saya lupa.

Hera begitu semangat bercerita tentang pria ini karena ternyata teman lamanya yang baru bertemu kembali. (Lah kok mirip kisah Vivi yak? Hihihi)

Awalnya, saya masih bingung ke mana arah hubungan mereka akan berkembang. Hingga suatu hari, saya bilang, “Kamu harus tentukan sikap. Beranikan diri. Zaman sekarang gapapa wanita ngomong duluan.”

Sebulan, dua bulan, akhirnya dia berkata di WA, “Aku sudah ngomong sama dia.” Wow. A big WOW. Saya terpana. Kompor saya berhasil. Hahahaha. Akhirnya, sekarang si pria sudah mulai berani untuk memulai percakapan dengan Hera. Bahkan, tema-tema seputar pernikahan pun sudah semakin sering dibahas.

Doa saya untuk Hera, semoga segera dipinang dan saya bisa menyaksikan akad nikah mereka.

Doa saya untuk Vivi, semoga si pria segera bisa menentukan sikap agar Vivi tak semakin galau karena usia pun sudah sangat cukup untuk menikah.

Duh, saya jadi tak bisa basa-basi di tulisan ini. Geregetan sendiri. Dengan semakin seringnya mengirim doa ke langit, menambah ilmu tentang pernikahan, sekaligus berusaha, tentunya akan mendapat hasil terbaik suatu saat nanti. Benar, kan?

Sekian random saya pagi ini. Tulisan mengendap 2 bulan hanya untuk melihat perkembangan hubungan mereka semua itu.

Allah, bantu mereka… Aaamiinnn yaa Rabb…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s