Tentang Jodoh dan Cinta, Sebuah Misteri Setua Usia Bumi

Judulnya heboh? Biarin. Bingung mau kasih judul apa. Gak setua usia bumi juga sih. Minimal seusia hubungan Adam dan Hawa saat mulai berada di bumi. *dijelasin.

Jadi gimana?

Saya kasih ilustrasi di bawah ini.

Kapan menikah? Sudah ketemu sama calon pendampingnya? Sudah cocok sama dia? Bagaimana cara tahu kalau kalian itu berjodoh?

Saya dan sahabat janjian ketemu dengan seseorang selepas kajian. Setelah menunggu tujuh purnama, akhirnya ketemu dengan beliau. Kemudian kami duduk menyimak perlahan, agar tak salah menafsirkan apa yang akan disampaikan oleh si penanya, yang nota bene seorang kawan lama. Selanjutnya taushiyah diselingi obrolan ringan itu mengalir selama sejam, sambil makan malam yang kemalaman.

Berhubung dengerin beliau bicara itu, daya tangkap saya sudah tersisa 50%, jadi ini yang saya tulis sangatlah random sekaligus seadanya.

Pola Asuh dan Karakter

Dalam mencari pendamping hidup alias jodoh, tentu saja perhatikan kriterianya. Apalagi kalau sudah pernah gagal berumah tangga sebelumnya. Tentunya pengalaman terdahulu menjadi patokan, apa yang tak diinginkan dari calon yang sekarang, dan apa yang dibutuhkan darinya.

Mana yang bisa jadi harga mati dalam sebuah kriteria calon dan mana yang masih bisa ditolerir? Harga mati misalnya, gak boleh merokok. Hal yang bisa ditolerir ini banyak. Terutama kalau sudah tahu calon pasangan ini jika marah pasti lempar piring, misalnya. Harus siap, apakah nanti kalau dia marah setelah menikah, lantas lempar piring, bisa terima?

Tidak peduli pria itu lulusan Mesir, ilmunya tinggi, dan baca banyak kitab, kalau sejak kecil atau remaja jika marah suka lempar barang, maka ketika menikah pun akan demikian.

Kalau sudah tahu seseorang itu suka lempar piring jika marah, apakah bisa ditolerir ketika setelah menikah? Jika ya, perlu siasat. Ganti semua piring beling dengan piring plastik. Aman.

Karakter terbentuk sejak lahir sampai usia 15 tahun. Lihat masa kecil dia dari orang-orang terdekatnya. Apakah dekat dengan ibu atau bapaknya. Karakter itu termasuk pola asuh dari keluarga.

Jangan pilih calon yang gelasnya selalu penuh. Dia tak akan pernah bisa menerima nasihat dari ustaz mana pun. Selalu merasa benar dan mencari pembenaran. Ini juga bagian dari karakter.

Masa Lalu dan Masa Depan

Penting mana sih, bagi seseorang saat memilih calon pasangan hidupnya? Mengenal masa lalunya atau mengharapkan masa depannya?

Tidak terlalu penting melihat visi dan misi calon pasanganmu ke depannya nanti bagaimana. Justru lebih penting melihat masa lalunya. Hal ini kembali lagi ke pola asuh saat kecil yang membentuk karakternya.

Banyak wanita yang terbuai dengan visi misi pria saat pedekate hingga lupa apakah si pria ini capable atau gak saat menjadi pilot rumah tangga. Banyak yang bilang, “Nggak penting masa lalunya seperti apa, yang penting masa depannya gimana.”

Pria pun kadang lengah melihat wanita hanya dari sisi cantik, seksi, dan menarik perhatian. Lupa bahwa ibu adalah ummul madrasah alias sekolah pertama bagi anak-anak. Kalau mendidik anak saja sudah ngasal, bagaimana bisa menjadi generasi unggulan kelak?

Mencari Nafisah dan Maisarah

Seperti apa yang dilakukan Maisarah dan Nafisah pada perjalanan pernikahan Ibunda Khadijah dan Baginda RasuluLlah, carilah Nafisah san Maisarah zaman sekarang. Untuk memuluskan hubungan sampai ke jenjang pernikahan.

Tanya lewat teman terdekat. Eh, teman dekat itu harus dilihat dari 3 kriteria utama.

  1. Sudah pernah safar bareng. Kalau belum pernah, bukan teman beneran. Teman nongkrong doang itu. Jika sudah pernah safar / rihlah bareng, dipastikan akan melihat karakter teman seperjalanan.
  2.  Sudah pernah memberi  / diberi amanah (pinjam uang, misalnya). Akan ketahuan karakter orang kalau mengenai uang.
  3. Sudah pernah bermuamalah. Transaksi jual beli / berbisnis dengan si teman.

Kalau belum pernah melakukan ketiganya, minimal satu saja. Jika satu pun belum, mungkin hanya mengenalnya di tongkrongan ngopi.

Pilih Nafisah dan Maisarah berdasarkan kriteria itu. Dia benar-benar mengenal karakter calon pendamping hidupmu. Jika tidak ada, lakukan dengan cara lain. Apa? (Eh, bagian ini apa ya?😅)

Perempuan butuh kepastian. Jadi yang pasti-pasti sajalah memilih calon pendamping. Laki juga harus segera memastikan pilihannya, jangan ngegantungin anak orang kelamaan. Ntar keburu digebet pria lain, kan tinggal gigit jarinya.

Nah, yang merasa dapat tugas menjadi Nafisah dan Maisarah, jalankan amanah ini dengan baik. Pahalanya gede, lho. Aaaamiiiinnn…

menikahimu

Dia Jodoh Atau Bukan?

Bagaimana cara mengetahui seseorang itu jodoh kita atau bukan, adalah ketika kita langsung bisa klik dan nyaman pertama kali. (Ini yang saya rasakan ketika pertama kali bertemu dengan #MyA, langsung klik dan nyaman.)

Karena pernikahan itu bukan untuk waktu sebentar. Jika sejak awal sudah tak nyaman, buat apa diteruskan lebih serius?

Pola Pikir Perempuan dan Laki

Bagaimana cara seorang lelaki berkomunikasi, jelas beda dengan perempuan. Kalau perempuan mikirnya dari A, B, C, D… Lelaki sudah sampai Z.

Perempuan terbiasa berpikir detail hingga terkesan lamban saat baru berpikir sampai D, lelaki sudah memikirkan Z. Ketika si perempuan belum siap, dia akan protes. “Lho? Kok begitu? Kan kemarin begini?” Lelaki akan berkata, “Sudah. Saya sudah pikirkan itu.”

(Ini persis pengalaman almarhumah Mama dan almarhumah Bapak yang baru saya sadari, pola komunikasi dan berpikirnya ya begitu)

Jika Pasanganmu Adalah Introvert

Apakah pasangan pilihanmu memiliki kepribadian introvert? Kawan saya bilang, introvert pun dibagi lagi, ada agresif dan pasif.

Ciri introvert agresif adalah punya benteng diri yang cukup kuat dan tipe penganalisis yang baik. Dia berpikir jauh ke depan dan berbicara dengan orang lain menatap matanya. Beda dengan introvert pasif, tak pernah mau menatap mata lawan bicaranya karena ketidakpercayaan dirinya.

Untuk membuat si introvert ini nyaman, maka pasangannya yang extrovert harus mengajaknya ngobrol dan bercerita terlebih dahulu tentang dirinya sendiri. Si extrovert memang suka berbicara, itu sebabnya menjalin hubungan dengan introvert harus dimulai dengan dirinya sendiri.

Si Introvert tak mudah bercerita kepada orang lain. Tak tepat juga apabila pasangannya mengajaknya berbicara dengan model menjadi KPK dengan segala pertanyaan interogatif.

Dari dulu, masalah cinta dua anak manusia ini sangatlah seru untuk dibahas. Tak akan cukup waktu sejam sambil mengunyah seblak dan minum kopi puntang.

Jadi, bagaimana kisah cinta Bapak Adam dan Ibu Hawa? Romansa keduanya memiliki hikmah luar biasa yang patut dijadikan pelajaran bagi anak cucunya kini dan nanti.

Mohon maaf ya jika ilustrasi di atas kurang rapi dan tidak pas. Namanya juga ngalor ngidul dengan mata sudah 5 watt.

Tunggu cerita selanjutnya.

 

Iklan

4 pemikiran pada “Tentang Jodoh dan Cinta, Sebuah Misteri Setua Usia Bumi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s