Bandung dan Dinamika Hijrah Kota Kembang (4)

Menilik karakter warga yang tinggal di Bandung, bisa dilihat dari komunitas yang diikutinya. Setidaknya ini survei sotoy yang sudah saya lakukan secara iseng dan gak bisa dipertanggungjawabkan. 😂

Entah bagaimana, tetapi seperti menjadi seleksi alam, siapa yang cocok di komunitas A, B, dan C. Tidak semua orang pas, tidak semua orang pantas, tidak semua orang bisa mengikutinya. Tapi, ada juga yang memaksakan diri demi sekadar eksis dan dilihat orang. Ada. Serius.

Oke, sekarang saya mau bicara sesuatu yang sedang hits. Siapa yang belum tahu soal keributan antara transportasi online dan konvensional di Bandung di awal bulan Oktober ?

Ini masalah yang sangat kompleks. Sama seriusnya dengan apakah kamu cocok ada di komunitas A atau komunitas B.

Jadi, gini.

Karena karakter dan latar belakang warga Bandung itu berbeda-beda banget (dan meski daerah pegunungan, sebagian warganya adalah pendatang dari pantai. no wonder kan?), sangat wajar yang namanya gesekan hampir pasti terjadi untuk beberapa masalah sensitif.

Terutama masalah perut alias rezeki alias ladang mata pencaharian.

Ramainya masalah antara ojek online dan ojek pangkalan ternyata meluas hingga ke taksi online (yang sebelumnya juga berseteru dengan taksi konvensional tapi tampaknya mereda. malahan Blue Bird pun ada di aplikasi GOJEK dengan Go-Blue Bird kan?), dan angkot.

Nah, yang disebutkan terakhir ini lho. Angkot. Masalah selalu ada dari zaman pertama kali angkot ada. Bener, kan?

Saya tak perlu berpanjang lebar mengenai angkot dan segala masalahnya. Silakan googling. Masalah angkot di Bandung semakin pelik di bulan ini. Sampai harus banget ya pihak Dishub Bandung pun mengeluarkan hestek #BandungTransportVolunteer agar para karyawan dan anak-anak sekolah tidak terlantar lantaran tidak tersedianya angkot yang ingin demo mogok (walau akhirnya tidak jadi, tapi tetap ada yang bandel mogok).

Bandung terbuat dari kekompakan. Itu sebabnya, #BandungTransportVolunteer muncul karena tergerak untuk bisa saling membantu.

Hijrah itu tak pernah mudah. Nah, ketika penumpang memilih yang bisa membuatnya semakin nyaman dan aman, moda daring itu jadi pilihan. Lah kenapa angkot yang riweuh dan rempong? Kalau mereka tetap ingin menjadi pilihan, berbenah lah. Berubah menjadi lebih baik. Jangan diam di zona nyaman. Jangan galak sama penumpang. Jangan tembak tarif seenaknya. Jangan ngetem. Jika angkotnya sudah tak layak untuk menarik penumpang alias butut, ya diremajakan atau ganti baru atau gimana deh itu.

Taksi dan ojek online juga bukan tanpa masalah. Sama aja. Ada supir yang nakal dan memanipulasi sistem atau data aplikasi. Ada.

Inilah yang sedang dihadapi Bandung. Belajar menjadi kota pintar. Menjadi kota metropolis. Menjadi kota ramah anak, ramah lingkungan, ramah wisatawan, ramah pada warganya sendiri. Bagaimana? Yaaaaa… Semua warga baik yang menetap ataupun pendatang, wajib menjaga Bandung dengan baik.

Susah? Gak lah. Tergantung kemauan warganya.

Komunitas pencinta angkot, pencinta Damri, pencinta becak, pencinta moda daring, semuanya harus saling menghormati. Kalau gak cocok dengan salah satu angkutan, gak usah memaksakan diri dan gak usah memaksa orang lain untuk setuju dengan kita.

Jangankan dengan orang lain, dengan saudara sekandung aja bisa beda pendapat kan? Nah, belajar menjadi warga yang baik itu dimulai dari kemauan diri sendiri untuk berubah. Bisa kok.

Yuk, hijrah!

Salam sayang dari Kota Seblak dan Princess Cake.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.