Memisahkan Diri, Menjaga Kewarasan

Setiap keputusan memiliki risiko. Segala sesuatu yang dipilih, seringkali tak bisa diralat. 

Termasuk keputusan saya untuk mundur. Mengalah. Sudah cukup banyak hal saya perjuangkan dan Allah meminta saya mundur.

Saya seperti salah seorang penghuni Gryffindor yang terjebak di lingkungan Slytherin. Daripada nekat melawan keangkuhan mereka sendirian dan mati konyol, mending cari jalan keluar dan menyelamatkan diri.

Seperti biasa, ketika saya bertanya pada Allah, “Why me?“, Dia pasti menjawab lembut dengan tangan-Nya yang tetap mempersiapkan kejutan untuk saya, “Why not?

Sudah selesai semua perjuangan saya di sesi sekarang. Saya masih mendengar tawa sinis, pandangan merendahkan, celaan menjatuhkan, dan tudingan tanpa bukti dari pihak Tuan Voldemort dan teman-teman Draco.

Apa peduli saya? Mereka akan selalu merasa benar. Semakin saya berjuang mempertahankan diri, semakin mereka semangat menjatuhkan saya ke jurang. Saya merasa ada yang salah. Tetapi saya tak bisa memperbaiki sesuatu itu. Saya frustrasi.

Peace is better

Allah menjawab dengan cinta-Nya. Saya harus mundur. Sebulan terakhir, saya menghabiskan banyak energi untuk melakukan hal yang menurut Allah tak perlu saya lakukan. Saya nekat. Hasilnya bisa terlihat. Saya kecewa. Sedih. Marah. Luka. 

Saya mengadu pada-Nya. Saya mengakui kesalahan karena tak mengindahkan insting yang sudah melarang saya bergerak sejak awal Juli.

Kedamaian jiwa saya terusik. Kemudian, bisikan penuh cinta dari Allah pun menyapa di ⅓ malam. “Aku sudah memperlihatkan apa yang membuatmu penasaran. Jalanmu bukan di situ bersama mereka.”

Saya merasa seperti anak kecil yang dimusuhi satu sekolah. Seolah trauma masa lalu menyergap kembali. Luka lama menganga.

Mengalah. Seperti yang saya lakukan 28 tahun lalu. Jika akhirnya saya berhasil memenangkan pertarungan harga diri itu bertahun-tahun lampau, saya yakin kali ini pun bisa.

Jika ada yang bertanya, berapa banyak teman saya, cukuplah saya mencontoh sayyidina Ali yang menjawab, “Nanti saya hitung ketika saya mendapat musibah.”

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Because I was born for being awesome, not perfect.

*pantulan pecahan kaca yang terinjak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s