Sel Kanker Ganas Itu Mematikan Harapan

Saya punya dua cerita. Pertama tentang ular. Kedua tentang kanker.

Pertama.

Seekor ular datang ke sebuah rumah. Tak menyerang siapapun. Dia hanya diam, memantau.

Tak berapa lama, ular itu mulai menguasai rumah dan membuat penghuni rumah merasa semakin tak nyaman.

Alih-alih membunuh ular itu, pemilik rumah mengusirnya. Penghuni rumah lain mengikuti apa maunya sang pemilik rumah.

Snake shades skin
Snake sheds skin

Selang beberapa waktu, ada ular masuk lagi ke rumah. Penghuni rumah mengira itu ular baru. Salah, itu ular lama yang berganti kulit.

Sekali lagi, ular itu mengganggu kenyamanan di dalam rumah. Dia berani menunjukkan taring yang menyimpan bisa, mendesis, dan akhirnya menggigit beberapa penghuni rumah, termasuk pemiliknya.

Ular itu sudah puas. Ia memilih pergi setelah berhasil menyakiti seisi rumah. Sementara itu, para penghuni rumah mulai sekarat.

Kedua 

Sebuah tubuh yang sehat ternyata divonis memiliki bibit kanker. Sudah diberitahu agar bibit kanker itu dibersihkan, dibuang, dan dicabut sampai ke akarnya. Tetapi, karena merasa bibitnya tak berbahaya, maka tubuh sehat itu pun membiarkan si bibit diam di dalam tubuh.

Siapa sangka, virusnya berkembang ganas. Pilihannya ada dua: membiarkan virus itu menggerogoti tubuh karena yakin tetap mati, atau berjuang mengobatinya dengan risiko yang sudah diketahui: 50-50.

Pilihan kedua. Diobati maksimal dengan segala risiko. Ternyata semua tak mmembuahkan hasil. Sudah habis-habisan berjuang, namun tak diberi kesempatan untuk menuntaskan usaha pengobatan.

Life ends

Virus mengganas. Ketika dokter sudah memutuskan untuk mengangkat sel kankernya, dokter malah mengambil keputusan sepihak tanpa memberi kesempatan pasien berargumen.

Euthanasia. Kankernya sudah merusak organ inti: jantung, paru, ginjal, dan otak.

Pasien mati seketika. Anehnya, seiring matinya tubuh penuh luka itu, ternyata para susternya tertawa. Tak ada kesedihan di wajah mereka. Tampak puas menertawakan sesosok tubuh yang sudah terbujur kaku.

Kamu percaya reinkarnasi ? Biarlah tubuh rusak karena serangan virus itu menyatu dengan tanah. Ketabahan berjuang melawan kanker teruji. Ia kelak akan menjadi sesuatu yang baru. Lebih indah, tangguh, kuat, dan bahagia.

Biarlah virus itu menang. Biarlah dokter dan para perawat itu mematikan harapan si pasien. Tak mengapa. Ada hikmahnya.

Karma does shit happen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s