Karena Perempuan Butuh Mendengar…

Dapat tulisan menarik di Facebook. Berulang kali dengan redaksi yang berbeda. Sekarang mau disalin di sini.

Seorang pria mendapat julukan lelaki lebay oleh teman teman kantornya karena dalam sehari bisa beberapa kali menelepon istrinya dan terdengar sering memuji istrinya.

Oleh teman-teman dekatnya, dia diledek seperti ini, “Pasti nih, yang lebay-lebay muji istrinya begini, abis selingkuh kamu kan ya? Biar balance, nutupin dosa.”

Akhirnya karena terlalu sering diledek hal yang sama, di sela waktu makan siang dia bercerita ke beberapa teman dekatnya.
“Kalian tahu kan? Ibuku meninggal 2 tahun yang lalu setelah berjuang melawan kangker pita suara 5 tahun lamanya. Setahun terakhir hidupnya, ibuku cuma bisa berkomunikasi dengan jarinya atau tulisan. Karena sudah tidak bisa berbicara secara lisan.

“Sampai suatu hari dengan bahasa isyaratnya, saat sedang dirawat inap di rumah sakit, pukul tiga pagi ibu memintaku yang sedang menjaganya untuk menelepon ayah dan meminta ayah datang lebih pagi menjenguknya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau hari itu adalah saat terakhir ibu berinteraksi dengan kami.

“Aku menyuruhnya sabar menunggu ayah datang, seperti biasa bersama supir. Pukul enam pagi kondisi ibu tiba-tiba memburuk. Semua tanda vitalnya drop, sementara ayah baru jalan menuju rumah sakit. Saat ibu di ICU dan aku kembali ke kamar ibu untuk mengambil sesuatu terjatuh di samping bed ibu sebuah kertas. Aku pun membaca tulisan tangan yang ditulis ibu seadanya buat Ayah:
Suamiku sayang,

Maafkan kondisiku yang semakin memburuk setiap tahunnya.

Maafkan aku yang sudah sejak lama tidak lagi bisa membahagiakan kamu.

Melayanimu dan memanjakan kamu seperti dulu.

Sayang,

Sepertinya saatku tidak lama lagi.

Aku tenang karena aku telah menitipkanmu pada anak-anak kita yang telah sukses meraih segala inginnya. Anak-anak yang aku yakin sangat menyayangi kita.
Sayang, sudah sejak lama sekali… Mungkin sudah berpuluh tahun lamanya.

Sudah sering juga aku ucapkan dalam candaanku.

Aku ingiiiin sekali kamu puji. Pujilah aku seperti dulu. Berpuluh tahun lalu saat kita pacaran.

Dan kau selalu mengabaikan nya dengan alasan menyayangi itu gak perlu pujian.

Tapi, Sayang… Saatku sudah tidak lama lagi. Kau sudah mengabulkan seluruh permintaanku kecuali satu: Pujilah aku, Sayang.

Meskipun sekarang kulitku tinggal berbalut tulang, rambutku habis, kulitku hangus, bauku amis, dan aku tidak menarik seperti dulu saat kau jatuh cinta pada ku. Berbohonglah padaku kali ini, Sayang. Puji aku. InsyaAllah itu akan jadi kenangan terakhirku sambil menunggumu di surga nanti.

Aku menyayangimu selamanya. Terimakasih untuk segalanya.’
“Berlinang air mataku membaca tulisan ibu. Sambil berlari menuju ICU, kucari ayah dan berharap dia sudah di sana. Di saat bersamaan kami masuk ke ICU, kuberikan surat dari ibu kepada ayah.

“Kubiarkan mereka berdua dalam bahasa yang penuh airmata. Tanda vital ibu menghilang dan ayah masih sesenggukan di sana,  berusaha mengajak ibu bicara. Tapi ibu sudah tidak ada. Semoga ibu sempat mendengar hal terakhir yang dia ingin dengar dari Ayah.”
Itulah kenapa penting mengucapkan hal-hal baik kepada pasangan. Kepada istrimu.

Perempuan adalah makhluk yang sejak kecil sudah terbiasa bahagia dengan pujian ayahnya. Sekalipun dia tidak cantik, pasti ayahnya selalu memuji dengan “Cantiknya anak Ayah”, “Kesayangan Ayah”, “Manisnya anak Ayah”, “Harumnya anak Ayah.”

Lalu dia jatuh cinta juga padamu yang membuatnya bahagia karena pujian-pujianmu padanya.

Pujilah wanitamu.

Itu memang tidak tidak terlalu penting bagimu.

Tapi pancaran rasa senangnya karena kauhargai fisiknya akan kembali padamu. Membuatmu bahagia dan enak memandangnya, mengalahkan syahwatmu pada godaan wanita bukan muhrim di luar sana.

Pujilah, karena kau tak tahu kata-kata terakhirmu kapan yang akan dia dengar sebelum salah satu dari kalian dipanggil terlebih dahulu oleh Sang Maha.


Pujian pada istri adalah bagian dari berbuat maruf yang diperintahkan dalam ayat

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 228).

Pujian pada istri tanda baiknya seorang suami padanya.

Karena perempuan butuh mendengar…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s