Kekuatan Doa Seorang Ibu (Dengan Bipolar)

Saya termasuk orang yang percaya keajaiban. Sesuatu yang tampak mustahil, yang hanya bisa diwujudkan oleh Allah. Saya masih percaya dan tetap akan percaya.

Ketika orang lain berkata mustahil, saya merangkak untuk menerobos segala ketidakmungkinan, meski berisiko terhadap nyawa sendiri. Lebay, mungkin. Tapi saya yakin Allah melihat saya, karena Dialah yang ingin saya mendekat. Sedekat-dekatnya.

Saya tahu, saya juga berperan terhadap kecelakaan yang menimpa Salman pada tanggal 18 Mei 2017 lalu. Saya meninggalkannya di rumah, karena saya harus pergi sebentar membeli beras. Nyatanya, Salman keluar rumah dan bermain. QadaruLlah, kecelakaan itu terjadi.

Saya masih percaya, bahwa Salman sebenarnya tidak apa-apa. Tak ada luka serius. Saya sebenarnya masih tenang ketika teman-temannya menggotong Salman dengan kain sarung. “Salman ketabrak mobil!” “Salman kelindes mobil!” Saya, dengan santainya, hanya menengok sekilas seolah hal tersebut biasa saja.

Melihat kondisi kakinya, saya masih ingin percaya bahwa anak itu baik-baik saja. Hanya kakinya nyeri dan luka akibat trauma terkena benda keras. Saya masih berusaha tenang. Tetapi justru tetangga yang panik. Mereka berhamburan masuk ke dalam rumah dan semuanya kompak, “Bawa ke Cimande aja! Gak usah ke dokter!”

Saya, yang saat itu malas ke mana-mana dan masih yakin bahwa Salman tak usah ke mana-mana, mencoba menghilangkan rasa penasaran dengan pergi ke praktik patah tulang Cimande dekat Desa Cipadung.

Di sana, tukang urutnya bilang bahwa tulang kaki anak saya retak. Saya masih tidak yakin. Bahkan ketika tanggal 21 Mei kembali ke sana untuk ganti kapas balutannya, saya masih percaya Salman tak memiliki kerusakan apapun pada tulangnya.

Ketika ke dokter ortopaedi tanggal 23 Mei, selain diomelin dokter karena tak langsung ke IGD pada hari kecelakaan, ternyata dokter pun menduga  adanya keretakan di tulang kaki kanan Salman. Saya? Masih tak percaya bahwa hal itu terjadi.

Rontgen pun dilakukan di hari yang sama. Hasilnya bisa diambil tanggal 24 Mei. Namun saya ada kegiatan lain, sehingga saya baru bisa mengambilnya tanggal 26 Mei.

Tanggal 25 Mei, seharian, hati dan pikiran saya tak karuan. Ditambah, saya masuk depression episode. Hal yang paling meletihkan jiwa raga. Dibanding ketika manic episode, saya sering tak bisa diterima orang lain ketika depresi mencapai puncak minusnya.

Tanggal 25 Mei pagi hari, saya mulai merasa tak nyaman. Saya merasa masuk sesi manic. Saya tertawa, over excited entah kenapa, merasa penuh semangat, dan bahagia berlebihan. Tetapi siang hari, perubahannya mulai terjadi. Sore hari semakin parah, dan malamnya saya masuk depression.

Memikirkan Salman dan memikirkan apalagi entah. Saya merasa gagal sebagai manusia. Saya kelelahan lahir batin. Saya berusaha menghubungi Ichy. Padahal dia di Pamulang, Ciputat. Tanpa saya bilang, dia sudah langsung  ‘menuduh’ seperti biasa, “Are you okay?” Saya tak menjawabnya langsung. Saya panik.

Saya masih ingin memfokuskan diri bahwa Salman sehat, bahwa besok ketika masuk ruang dokter, diagnosanya berubah 100%. Salman sehat, Salman tak cidera. Saya meminta itu kepada Allah, di tengah kepanikan saya yang entah karena apa.

Tanpa saya bicara atau menuliskannya, saya ‘bilang’ pada Ichy kalau saya mau bunuh diri. Saya tidak sedang becanda. Dia menulis di chat, “Mbak, setel murottal.” Saya tidak menurutinya. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya hanya merasa gagal jadi ibu, gagal sebagai manusia.

Orang normal akan berpikir hal ini receh dan penuh drama. Sungguh, ini memakan energi luar biasa. Saya sangat takut, jika besoknya hasil rontgen Salman jelek, urusan akan bertambah panjang.

Saya memohon sambil memukul lantai berulang kali. “Sembuhkan Salman yaa Rabb. Pindahkan sakitnya padaku, Rabb. Engkau Tahu jika aku tak akan sanggup menanggung lebih lama lagi.” Cutter sudah ada di tangan. Bukan becanda. Ichy punya fotonya. Saya hanya memberikannya pada cewek tukang galau itu.

Pikiran saya antara waspada dan hilang akal, entah. Saya masih sempat istighfar berulang kali hingga akhirnya cutter itu saya lempar dan saya merebahkan diri.

Saya hanya ingat, saya meminta pada Allah agar ada keajaiban pada kaki Salman KARENA SAYA TAK MAU LAGI BERURUSAN DENGAN MEREKA. TRAUMANYA TERLALU MENYAKITKAN.

Dan…

Saat mengambil hasil rontgen dan melihat fotonya, saya mengucap syukur tak berkesudahan. Saya bukan orang tanpa pengalaman melihat rontgen kaki, karena saya pernah puluhan kali difoto pada kaki yang sama, duapuluhan tahun lalu.

Saya bilang pada Salman dengan dada berdebar, “Kamu sembuh. Kamu sehat. Kamu gak papa.” Salman bingung. “Maksudnya gak patah?” Saya tersenyum. “Tak ada patah, Nak. Tak ada retak. Kaki kamu normal!” Salman masih bingung. Saya tak peduli.

Saya menggendongnya ke ruang tunggu poli ortopaedi. Saya dipanggil suster dan akhirnya berbicara pada dokter. Amazingly, dokter bilang, “Ternyata gak apa-apa ya? Ternyata gak ada yang retak atau patah, tuh.” Dia sendiri kebingungan. Padahal analisa di kunjungan sebelumnya, dia yakin ada yang retak atau bergeser.

“Oke, dirawat di rumah aja. Jalannya pelan-pelan. Jangan napak dulu. Obati luka luarnya saja dulu.” Dokter tersenyum. Meyakinkan saya dengan menggoyangkan kaki Salman, kemudian berlalu keluar ruang praktiknya. Dua suster di ruangan itu pun terlihat lega dan tak percaya.

“Ih, Salman hebat nih! Kuat! Bentar lagi bisa main,” ujar suster berjilbab.

Saya ingin menangis. Saya tahu. Saya tahu sejak hari pertama Salman kecelakaan, bahwa sebenarnya dia tak apa-apa. Meski dua dokter bilang ada kemungkinan retak, saya tetap tak percaya.

Hasil rontgen mungkin akan memperlihatkan bagian yang retak. Mungkin. Jika saja saya tak memohon sampai di titik terendah saya semalam.

Saya masih gemetar saat menulis post ini. Saya tahu Allah pasti memberikan keajaiban itu. Iya, memang amazing. Hasil rontgen membuktikan dan memperlihatkan seolah tak pernah ada kecelakaan itu.

Sekarang, yang tersisa tinggal sakit hati karena tak ada penggantian kerugian moril. Saya sudah terlalu lelah. Saya tak mau menjadi pengemis. Selama Salman dan Umar sehat, aman, terlindungi, dan dicintai, saya yakin kami bertiga baik-baik saja.

 

Terima kasih sepenuh cinta ♥:

  1. Keluarga besar Soeraatmadja
  2. Om Adie dan Tante Intan
  3. Tante Vei dan Tante Fira
  4. Tante Gita dan Tante Herty
  5. Tante Ichy dan Tante Susi
  6. Keluarga besar Mualaf Center Bandung
  7. Para rasul Grup Sejarah Telegram
  8. Para Om dan Tante yang turut mendoakan Salman
  9. Papapnya Salman

 

Thank You, Allah.

PS: Saya masih hidup, makanya bisa menulis post ini. Once again, I knew that I can through it all.

Iklan

2 thoughts on “Kekuatan Doa Seorang Ibu (Dengan Bipolar)”

  1. Hai, Kak!

    Saya pembaca baru, panggil aja Ay kelahiran 2000 hehe.

    Btw kak aku bener-bener speechless habis baca cerita ini. Cuma bisa nyebut “Subhanallah” dan bilang “Hebat, kakak itu ibu yang kuat”💙

    Semangat ya kak! Kakak pasti bisaa!!!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Halo, Ay. Salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya 😉

      Saya hanya seorang ibu biasa 🙂 Anak-anak yang membuat saya kuat. Suatu saat, kamu pasti mengerti. Terima kasih atas dukunganmu, Ay 🙂

      Ibumu pun seseorang yang luar biasa. Salam untuk beliau ya 🙂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s