Cara Membalas Cinta Sang Maha

Allah mencintai makhluk-Nya dengan cara yang tak pernah bisa diduga.

Saya baru menyadari, beberapa bulan terakhir, saya merasa ‘eungap’ dengan semua yang saya lakukan. Saya bingung mau gimana. Mau piknik, lagi kanker alias kantong kering. Mau beli buku baru, duitnya juga nggak ada. Saya ingin istirahat sejenak, sambil mengambil langkah mundur dan duduk di bahwa pohon.

Allah mendengar permintaan saya. Allah mencabut segala yang membuat saya pening dan kesal. Sejak 11 April, Allah mengambilnya seketika. Awalnya saya kaget luar biasa dan bertanya sebuah pertanyaan receh, “Why me?” Allah tak langsung menjawab. Dia membiarkan saya untuk tenang terlebih dahulu. Dia sudah siapkan jawabannya. Dia hanya mau melihat seberapa sabar saya menghadapi semuanya.

Kemudian, perlahan Allah memperlihatkan beberapa hal yang membuat saya tersenyum. Penyaringan yang Allah lakukan benar-benar luar biasa, sesuai dengan apa yang saya butuhkan tanpa perlu ribet meminta. Allah Mahatahu.

Facebook dan Instagram, dua media yang membuka segalanya. Allah melihat saya dari langit, apa yang saya lakukan dengan kedua media itu. Mengetuk pintu rumah orang. Tak ada yang menjawab. SATU ORANG PUN! Saya membalikkan badan, berlalu menjauh sambil berpikir. Ada yang salah.

Beberapa kali, setiap saya habis shalat, membuka secara acak lembaran surat cinta dari-Nya, dan menemukan beberapa ayat yang menyentil saya. Allah ingin saya mengingat kembali apa tujuan saya melakukan semua hal yang terjadi di Bandung. Sekaligus, Allah juga menunjukkan kepada saya, hal-hal yang perlu saya kurangi dan jauhi.

Beberapa komunitas memperlihatkan perubahan secara signifikan. Saya mencernanya berhari-hari selama masa hening ini. Berulang kali saya bertanya kepada diri sendiri dan Allah, bagaimana cara saya mundur dari komunitas itu? Saya melihat, sudah banyak yang berubah. Munculnya kepentingan-kepentingan pribadi berbalut ‘semangat untuk masyarakat luas’ membuat saya jengah dan merasa tak cocok lagi.

Allah mengulurkan bantuan. Allah mencintai saya dengan cara-Nya.

Saya jadi ingat, tujuan pertama pindah ke Bandung adalah mencari ketenangan setelah badai maha dahsyat di Depok. Saat ini saya berada di titik nol itu lagi. Saya diberi ketenangan. Saking tenangnya, saya sampai sempat membuat banyak rencana dan ide untuk diri sendiri dan anak-anak.

Saya merasa sudah siap untuk kembali berjalan setelah rehat di bawah pohon selama lebih dari dua minggu ini. Tetapi Allah tampaknya masih ingin saya duduk tenang. Masih ada yang belum diperlihatkan kepada saya. Entah apa.

Ramadan sebentar lagi. Saya berharap sangat banyak pada bulan terbaik ini. Semoga masih bisa membalas cinta-Nya meski mungkin hanya seperti butiran marimas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s