How Can You Handle An Emergency Call From Stranger?

Situasinya adalah, kamu harus menghubungi seseorang untuk sebuah hal darurat. Kamu ada di tengah keramaian (katakanlah di pusat perbelanjaan) atau di jalan raya yang sepi, tak ada telepon umum atau pom bensin terdekat.

Di tahun 80an / 90an, kamu berharap ada keajaiban. Seseorang menyapamu, mengenalmu, dan menawarkan bantuan. Atau, seseorang tak dikenal, melihat wajahmu panik kebingungan, kemudian menawarkan bantuan. Kamu pasrah pada Tuhan.

Di tahun 2016, kamu masih berharap keajaiban. Ponsel habis daya, lupa bawa charger, berharap seseorang mau meminjamkan charger miliknya atau menawarkan ponselnya untuk kamu pakai menghubungi orang lain. Atau, dengan konyolnya kamu berharap orang yang akan kamu hubungi memiliki cara lain untuk dihubungi selain WA atau SMS. Kamu tahu dia tak memiliki Line atau Path, tapi kamu merasa bisa untuk menghubungi dia lewat dua media itu.

Tapi akhirnya, kamu menghubungi orang lain yang punya Line, instead of menghubungi orang yang menjadi tujuanmu. Pusing? Ya.

emergency call

Selama tak ada ponsel, saya dipinjamkan tablet (tanpa kartu SIM) oleh teman. Tapi saya hanya bisa install Telegram dan Twitter. Pusingnya, banyak yang hanya bisa dihubungi via WA dan BBM atau SMS. Solusi saya adalah : hubungi teman yang punya Telegram untuk menghubungi orang yang saya butuhkan via SMS atau WA.

Setidaknya, saya berhasil menghubungkan dua sahabat tercinta nan sabar sesabar-sabarnya dalam menghadapi saya selama ini. Yoay, Vei dan Fira. Selama ini mereka hanya mendengar nama yang lain jika saya sedang ngobrol. Saya menyebut nama Fira saat ngobrol dengan Vei. Begitu pula sebaliknya. Sekarang mereka terhubung, karena ulah saya. Iya, saya merepotkan mereka berdua di saat bersamaan.

Tenang ya ladies. Eikeh emang ngeselin. Ntar kalian kangen, lho! Hahaha!

Saya sebenarnya hendak menguji sebuah pernyataan bahwa masih ada orang asing nan baik di dunia ini. Ketika saya kebingungan di pusat perbelanjaan di jam makan malam, saya berputar tak karuan, melihat sekeliling dengan kepala pusing. Saya tak bisa melihat banyak orang berkerumun dalam ruangan super besar, berisik, polusi suara sangat tinggi, dan saya sendirian.

Alih-alih panik, saya mencoba untuk berpikir, hendak menghubungi siapa di saat genting seperti ini. Saya menyingkir ke pojokan agar bisa meredam polusi suaranya, kemudian mencoba menghibur diri dengan baca linimasa Twitter. Saya mencoba bertanya di sana, apakah ada seseorang yang sedang membaca dan bisa menolong saya untuk menelepon seseorang? Tak ada satupun yang menjawab.

Saya lupa. Saat itu malam Minggu, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Ditambah, ternyata sedang #PersibDay. Saya menyerah. Tetapi Allah tak mau saya menyerah. Dia memberikan sedikit clue untuk saya. Secara spontan, saya menghubungi seorang teman untuk menghubungi sahabat saya. Setelah itu, saya didera sakit kepala teramat sangat. Sepertinya efek panic attack.

Allah loved me. He always loves me. Dia tentu saja tahu bahwa saya pasti bisa melewati hal remeh temeh recehan seperti itu. Dia tahu saya pasti akan menyebut nama-Nya untuk meminta tolong.

Di samping itu, orang yang mengenal saya pasti tahu, saya gak akan mudah menyerah meski harus berakhir dengan meluapkan emosi sedemikian rupa. Saya gak akan menyerah.

Saat di tengah keramaian itu, saya memikirkan dua hal: diam menunggu sambil bengong bego di dalam mall hingga jam tutup, atau nunggu di pinggir jalan, berharap orang yang ingin saya temui melihat saya menggigil kedinginan. Hahaha, itu memang drama. Tapi saya akan memilih satu antara dua itu. Been there done that. Saya pikir akan mengulanginya lagi. Kemudian, Allah memberi jawaban. Tiga puluh menit kemudian, saya menangis. Rasanya ingin bersimpuh di hadapan-Nya. Menyodorkan rasa terima kasih ini meski yakin tak layak.

Sekarang kita berpindah posisi. Bagaimana kalau kamu yang berada di posisi orang yang membaca pesan singkat permintaan tolong dari seseorang. Orang asing. Totally stranger. Kamu bahkan gak tau dia jahat atau baik. Pokoknya ada yang minta tolong. Wanna pick a chance? Atau berlalu dan berpikir, ‘bukan urusan gue’. Gimana?

Saya pernah, melihat seseorang yang butuh menghubungi seseorang. Saya bingung karena pulsa habis. Saya tanyakan, apakah orang tersebut punya akun medsos yang bisa saya hubungi? Dia jawab tak tahu. Dia hanya tahu nomer ponselnya, sementara hape dia kehabisan daya. Saya meminta maaf padanya karena tak bisa membantu banyak, mengajaknya ke tempat lebih aman dan ramai, kemudian memberinya sedikit uang untuk membeli minum atau apalah, dan mencari tempat dengan colokan agar dia bisa mengisi daya ponselnya. When I saw into her eyes, saya tahu dia merasa lega.

Kamu pernah merasa panggilan daruratmu tak terbalas? Atau tak menemukan jalan keluar? Berbagilah dengan saya di kolom komentar. Terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s