Janjian Dengan Orang Lain Di Era LTE

Kamu pernah hidup di tahun 1990? Atau jauh sebelum itu? 1970, mungkin? Pernah janjian dengan orang lain? Sering? Ketemuan sama teman sepulang sekolah di toko buku? Jemput pacar untuk nonton bioskop? Mau berkunjung ke tempat baru dan tidak tahu di mana lokasi persisnya?

Tahun 1990.

Telepon orang, sebutkan tempat, jam, dan tanggal janjian. “Jangan lupa, ya. Di depan KFC Jalan Sabang. Saya pakai kaos berkerah warna biru tua dan celana jeans. Oh, saya berkacamata. Jadinya tanggal 1 Maret. Pukul dua siang ya? Jika dalam waktu 30 menit tidak muncul, saya anggap batal dan saya pulang. Sudah jelas?”

Atau pas ketemuan untuk membuat janji. “Hari Senin, pukul lima sore. Catat saja alamat saya di Jalan ABC No. 1. Cat pagar rumah hijau dan tembok warna putih. Ada sangkar burung beo dan pohon mangga arum manis. Setelah masuk Jalan XYZ, nanti ada warung kopi dan pos siskamling. Kalau bingung, tanya sama ibu warung, di mana rumah Pak Burhan.”

Dua percakapan di atas dengan asumsi yang diberi alamat tidak punya telepon rumah atau tidak bisa dihubungi. Kemungkinan kedua, yang memberi alamat tidak punya telepon rumah. Keduanya memastikan percakapan tersebut menjadi sebuah konfirmasi.

2016.

Menghubungi via SMS. “Lusa ada janjian nonton di Ciwalk. Ketemu di sana aja.”

“Alamatnya di Jalan Diponegoro. Nanti ada Alfamart, di sebelahnya ada gang. Masuk ke situ. Ada tukang bubur 50 meteran deh.”

Pikirkan juga kondisi berikutnya :  pulsa habis, hape hilang, lupa nomer kontak yang diajak janjian, dan gak tau daerah yang dimaksud.

Pernah membayangkan ada di posisi orang yang mencari alamat minimal sejam dan maksimal sampai ngamuk lempar mercon (oh, gak ya? hahaha)?

make an appointment

Jadi gini…

Biasakan untuk memberi informasi serinci dan sejelas mungkin. Jangan memposisikan diri sebagai orang yang sudah tahu lokasi janjian. Bayangkan kamu menjadi mereka yang bahkan tak tahu lokasi itu ada di barat, timur laut, atau tenggara.

Saya pernah membuat seseorang asal Lampung ngamuk-ngamuk ketika janjian dengan saya di Jakarta. Dia menelepon saya via ponsel (di zaman yang hanya bisa dipakai untuk menelepon dan mengirim pesan singkat alias SMS. belum ada MMS lho ya.) dengan nada putus asa, “Please, Diana! Aku bahkan gak tau mana timur dan mana utara. Yang jelas dong kasih arahannya!”

Akhirnya saya mencoba mengganti posisi menjadi dirinya. Saya memberi arahan yang jelas, patokan, nama jalan besar, bus yang melintasi tempat dia menginap, hingga mentok ke taksi berikut kisaran argonya. Ketika kami bertemu, dia nyaris menggaplok saya saking jengkelnya. Hahahaha! Miss him so much!

Orang di zaman serba canggih ini, menganggap semua orang punya ponsel dan mudah dihubungi. Sehingga, terkadang memberi informasi tak lagi lengkap seperti zaman Maria Mercedez menemani sore Mama ngeteh dulu. Lebih putus asa lagi, kalau media komunikasi yang dipakai berbeda satu dan lainnya. Misal saya pakai Line, kamu pakainya BBM. Sampai zaman ikan lele bisa berenang di laut juga gak akan ketemu.

“Besok ketemuan di foodcourt.”

“Lusa jangan lupa di alun-alun.”

“Pukul sepuluh pagi di Jalan Sudirman.”

Informasi sepotong tak akan membawamu ke mana-mana. Pernah hidup di tahun 90an ketika mengirim pesan darurat menggunakan telegram harus sesingkat mungkin (salah satu pertimbangannya adalah biaya kirim)? Oke, kalau gak pernah, balik ke masa kini dan cobalah menggunakan Twitter yang (masih) terbatas 140 karakter. Bisakah menulis twit dengan singkat, padat, jelas?

Misal : McDonald’s Thamrin. 24 Mei. 9 pagi. Dekat pintu masuk. Bawa botol minum biru.

Jika tak bertemu hingga pukul 10 pagi, artinya janji dibatalkan. Entah kamu terlambat datang (sebagai yang ditunggu), atau kamu ada janji lain di tempat lain (kamu yang menunggu).

Hidup itu harus efektif. Kamu tidak hidup di dunia ini sendirian. Kamu pun bukan satu-satunya yang punya kesibukan. Pertimbangkan waktu orang lain yang sangat berharga dan tentu saja waktumu yang tak kalah bernilai.

Kalau menerima pesan tak jelas, gini deh. Mending gosah dateng, daripada makan ati. Mending makan seblak. Kenyang, hati senang, pikiran tenang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s