When Life Felt Lighter Yet Complicated

Perasaan saya merasa campur aduk.

Pertama. Hari ini, 16 April, 20 tahun yang lalu, adik kelas saya tewas akibat motornya mencium truk muatan pasir dalam kecepatan tinggi. Saya masih ingat setiap detail ketika kabar kejadian itu mampir ke telinga hingga ucapan banyak orang yang mencoba menguatkan dan menyabarkan saya. His life was too short.

Kedua, kematian di usia muda tak hanya milik manusia. Usia yang pendek tak hanya monopoli manusia. Benda mati lainnya di dunia ini pun memiliki usia berbeda. Contoh sederhana, mainan adik saya dulu. Baru dibeli, seminggu juga sudah dibongkar. Juga mainan krucil. Bahkan bisa lebih parah, sehari berwujud utuh, keesokan harinya, si mainan sudah tak berbentuk.

Contoh terbaru adalah ponsel Lenovo saya. Benar-benar tak disangka, usianya hanya 14 bulan. Serius. Setelah mengisi daya 100%, tak sampai 5 menit, dia mati. Tanpa bilang apa-apa atau ngasih tanda apapun. Mati. Begitu saja. Saya bingung. Kaget. Sedih. Kecewa. Persis ketika saya mendengar kabar kematian seseorang yang saya kenal.

Tanggal 11 April. Mati total. Di hari yang sama, ada tawaran kerjaan dan saya baru tahu tanggal 15 April, itu juga setelah laptop bisa terkoneksi dengan router lama yang diisi pulsa lagi. Yha. Ketika menyalakan laptop, banyak sekali notif yang terlewatkan.

Selama empat hari, saya banyak menulis menuangkan isi kepala dan perasaan saya di buku catatan. Manually. Jadi seperti menulis diary kala sekolah dulu. Banyak hal saya tulis. Termasuk selintas ide untuk pindah ke Jogja.

Termasuk pikiran yang bertanya-tanya, kenapa gak ada yang dateng ke rumah ya? Gak ada yang penasaran saya kenapa-napa, gitu? Padahal saya pernah bilang di medsos, kalau saya masih bisa dihubungi via telepon atau SMS, artinya saya baik-baik aja. Kalau saya gak ada kabar 3 hari, silakan khawatir.

Ternyata gak ada yang khawatir. Hahahahahahaha!

Oh, kecuali adik saya dan Fira. Mereka saya beritahu langsung ketika ponsel mati. Caranya? Saya ke warnet dengan sisa uang terakhir, mengabarkan mereka via Yahoo Mail bahwa saya tak akan bisa dihubungi sampai ada ponsel baru. Itu artinya, saya akan melewatkan kesempatan pekerjaan menulis yang mungkin datang via SMS atau telepon…

Saya juga menghubungi Vei mengenai kondisi saya, justru baru tanggal 14 April. Harusnya tanggal 12 April. Tapi karena saya panik pas di warnet (takut uangnya gak cukup), begitu keluar warnet baru inget. Itu juga diingetin sama Umar, “Tadi sekalian ngehubungin Tante Vei gak?” Yah! Lupa!

Seperti biasa, tiga manusia hadiah dari Allah ini lah yang mengulurkan tangannya ketika saya merasa terpuruk, sedang ada kesulitan, dan paling bisa diandalkan. My miracles. My precious ones. Makanya, ketiga nama ini pula yang paling sering dan selalu hadir dalam doa-doa sepertiga malam saya. Di samping nama orangtua dan krucil, tentu saja.

Bukan tentang uang. Tapi kehadiran mereka itu oase. Sesuntuk apapun saya, cukup dengan menghubungi dan say hi, menjaga agar hati selalu terhubung dengan mereka. Saya tahu, Allah tak akan mempertemukan saya dengan mereka tanpa alasan.

Mereka, adalah alasan saya bertahan hidup. Mereka yang berani menegur ketika saya berbelok dari rel hidup yang benar. Apalagi Fira, kenyang banget dia dapat curhatan tangis saya kalau soal mati.

Di surel kemarin, saya sampai menulis bahwa kalau saya mati pun tak akan ada yang datang ke rumah. Baru ponsel mati saja sudah bisa dijadikan test case. Mungkin karena saya terlalu tangguh dan terlalu cuek, jadi semua orang yakin kalau saya bisa survive, no matter what. Makanya gak ada yang merasa penting untuk datang melihat kondisi saya.

Kalau Fira, saya paham situasinya karena ada Katniss. Lagian, mata batin dia juga udah bisa tau kalau saya baik-baik saja. Dia malah ketawa di surel. Kan nyebelin yak? Hahaha!

Vei, menjawab dengan elegan, seperti biasa. Meski kalau di japri WA, mungkin dia akan bawel bertanya macam-macam. Dia tahu, kondisi saya tidak sedang dalam level aman untuk hal-hal receh.

Adik saya? Meski terlihat seperti tak punya hati saking terlihat dingin dan jarang memperlihatkan ekspresinya, dia juga yang paling repot kalau saya rewel. Mungkin saja dia menggerutu karena kemanjaan saya. Tapi dia juga paling tahu, saya sangat bergantung padanya.

Tanpa ponsel, hidup terasa lebih ringan. 70% ketenangan itu menguasai batin. Enak juga ya tanpa notif-notif itu. Tapi kemudian saya sadar, saya hidup di era millenia. Ketika segala urusan tampak lebih tergesa, harus terjawab saat itu juga, dan dunia tak menunggu manusia siap untuk sebuah peristiwa yang baru terjadi.

Ini bukan tahun 1990, ketika membaca koran bisa dihabiskan berjam-jam, menikmati setiap kata, baris, dan kolom. Sekarang, saya membeli koran belum tentu dibaca. Berakhir menjadi pembungkus barang sebelum sempat saya buka selembar pun.

Ini zaman ketika anak telat pulang sejam, dicari sampai ke mana-mana. Beda dengan dulu, saya berlibur seminggu, gak dicariin.

Saat ini, mencari pekerjaan dan mendapat pekerjaan lebih mudah lewat media sosial. Maka, ketika terlambat membacanya, kesempatan akan lenyap begitu saja.

Itu sebabnya, memiliki ponsel saat ini seperti lebih penting dari makan nasi. Eh, benar gak ya? Hihihi.

We never know the future.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s