Meninggalkan Bandung (Lagi)

Dulu saya pernah yakin, bahwa saya akan menghabiskan masa tua dan menutup usia di Bandung. Tetapi tampaknya saya harus meralat hal tersebut.

Pertama, (mungkin) gak akan ada yang kangen sama saya kalo saya menjauh dari kota ini. Saya bisa bertahan di Bandung, qadaruLlah, dengan mengenal Fira. Saya memohon kepada Allah ketika kaki ini pertama kali menginjak Bandung, “Allah, pertemukan saya dengan orang yang memahami kondisi saya, bagaimana pun sulitnya.” He gave me her. Mashaa Allah.

Saya tahu, saya tak bisa mengandalkan siapapun kecuali Allah. Tapi Allah juga Mahatahu bahwa saya penakut yang butuh teman bicara. Dia begitu mencintai saya, sampai Dia memberikan Fira kepada saya.

Setelah saya menemukan Ve di Cirebon, menemukan Vei saat tinggal di Depok, kemudian menemukan Fira di Bandung, siapakah yang akan saya temui di kota lain?

Bagi saya, Bandung lebih luas dari Jakarta. Kenapa? Karena di Bandung, saya tak pernah bertemu seseorang yang saya kenal di jalan kecuali sengaja janjian. Tapi di Jakarta, saya sering banget ketemu dan dengan girangnya bertanya, “Elu ngapain di sini?” dan berakhir dengan gosip sambil ngemil. Di Bandung? Sampai saya menulis post ini, belum pernah sekali pun. Emang kudu janjian. Bahkan, saya tak pernah merasakan naik bus atau angkot dengan orang yang sama tanpa sengaja. Di Jakarta? Sering.

Di Bandung, gudangnya orang kreatif dalam kesenian dan teknologi. Saya kenal banyak orang yang tinggal di Bandung, melakukan aktivitas kreatif sesuai passion mereka. Entah kenapa, saya melihat hobi Salman terhadap musik menjadi lebih berisik, sementara kesenangan Umar menggambar di laptop juga makin terasah. Saya? Sama sekali tidak kreatif. Hahaha!

Bandung perlahan berubah di mata saya. Sejatinya, semua yang ada di dunia ini berubah setiap hari. Suka tak suka, nyatanya demikian. Tak perlu menunggu semua makhluk hidup siap menerima perubahan, waktu yang akan menggerus semua yang tak siap.

Waktu memang kejam. Tak pernah memberi kesempatan bagi yang santai untuk menerima keadaan terbaru setiap saat. Mungkin aku terlalu santai? Mungkin aku terlalu kaku? Sehingga aku mengalah untuk menjauh dari Jakarta, kemudian mencoba untuk menetap di Bandung, dengan harapan bisa menata hati dan pikiran dengan tenang.

Nyatanya, Bandung justru lebih kejam bagi saya. Atau, saya yang terlambat datang ke kota ini? Untuk urusan pekerjaan, persaingan di dunia freelancing amat sulit dicari di sini. Sementara untuk pekerjaan kantoran, sebagian HRD masih lumayan kaku menerapkan beberapa syarat.

Pemberi kerja di Jakarta, yang pernah saya temui, melihat apa pengalaman kerja dan apa yang bisa dikerjakan. Terakhir, baru berdiskusi tentang fee or salary. Tidak di Bandung. “Pernah kuliah di mana? Pernah kerja di mana?” Seolah sebuah institusi memerankan hal penting dalam menentukan sebuah posisi dan harga pekerjaan tertentu.

Apakah saya harus meninggalkan Bandung? Gak juga. Tetapi jika ada kesempatan untuk hijrah, tentu saja saya ambil. Memperluas wawasan, ilmu, pertemanan, dan feeding my emotion as well.

Lagian, saya menunggu keajaiban ucapan seseorang di Depok bertahun silam, “Kamu akan bertemu jodoh lebih baik nanti di Bandung.”

Doa bisa mengubah takdir, kan? 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s