(Berniat) Bunuh Diri Memang Caper

Saya hening lagi saat hendak menulis ini. Belum hilang rasa kaget karena kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri beberapa waktu terakhir. Saya membaca status teman di Facebook. Cukup panjang. Saya kutip sebagian dengan suntingan sedikit.

Begini tulisannya:

Emile Durkheim dalam bukunya yang berjudul “Suicide” mengemukakan bunuh diri sebagai fakta sosial. Maksudnya, meski bunuh diri merupakan tindakan individu yang dampaknya pun yang merasakan juga individu, pemicunya adalah sekelilingnya. Yaitu fakta sosial itu tadi. Fakta sosial sendiri yaitu faktor-faktor di luar individu yang memicu individu untuk melakukan sesuatu.

Terkait penyebab bunuh diri, Durkheim membaginya ke dalam 3 kategori.

Pertama, yaitu anomie. Anomie ini maksudnya adalah jika individu tersebut tidak memiliki pegangan, identitas, kelompok, dan sebagainya. Pemahaman gampangnya, si individu ini adalah orang “ga jelas” yang nggak ngerti buat apa dia hidup di dunia ini. Ketidakjelasan itulah yang mendorong dia untuk melakukan bunuh diri.

Yang kedua, yaitu terlepas dari ikatan sosialnya. Karena terlepas dari ikatan sosialnya itu, orang tersebut jadi tidak punya tujuan, bingung, dan akhirnya memicu bunuh diri. Kategori kedua agak mirip dengan yang pertama (anomie). Bedanya, di kategori kedua ini pelaku bunuh diri tadinya memiliki “sesuatu”, lalu hilang dan itu memicu rasa tidak berharga, tidak berguna, dan sebagainya yang dapat memicu bunuh diri (sedangkan kategori anomie itu orangnya memang dari awal tidak punya identitas/sesuatu yang dipegang).

Contoh untuk kategori kedua ini, misalnya orang yang keluar dari agamanya (murtad) sehingga kehilangan pegangan. Kemudian misalnya orang yang kehilangan pekerjaannya atau orang yang dipaksa mutasi, itu juga bisa memicu bunuh diri. Contoh lainnya lagi, orang yang diusir dari keluarganya, orang yang bercerai dari pasangannya, orang yang di-DO dari sekolahnya, dan lain-lain. Pendeknya, orang ini tadinya memiliki ikatan sosial dengan sesuatu/memiliki sesuatu, kemudian sesuatu itu terlepas/hilang sehingga membuat orang ini menjadi merasa tidak berharga. Lalu terdorong untuk melakukan bunuh diri.

Kategori ketiga, yaitu kebalikan dari kategori kedua: terlalu terikat dengan lingkungan sosialnya. Dalam hal ini, lingkungan sosialnyalah yang justru memaksa individu untuk bunuh diri. Contoh paling gampang yaitu harakiri dalam budaya Jepang.

Kesimpulannya adalah, meski bunuh diri merupakan tindakan individu dan yang menerima dampaknya adalah individu juga, faktor sosial memegang andil sangat besar. Maka dari itu, janganlah menuding-nuding pelaku bunuh diri apalagi menghakimnya.

Okelah itu dosa. Tetapi masyarakat di sekelilingnya yang membiarkan orang depresi memangnya tidak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat sana? Pengambil kebijakan yang mendorong orang stres memangnya tidak akan dimintai pertanggungjawaban? Jangankan himpitan ekonomi, terjebak macet berjam-jam setiap hari saja juga bisa membuat orang mengalami gangguan kejiwaan, stres, depresi, yang bisa memicu bunuh diri.

Masalah kesehatan mental itu nyata. Gangguan kejiwaan itu nyata. Mau penyanyi ganteng ataupun supir taksi, semua punya kemungkinan untuk melakukan bunuh diri. Termasuk juga Anda, saya, dan semua yang ada di sini. Entah yang rada sekuler maupun ahli ibadah, semua memiliki kemungkinan sama.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Mau tidak mau ya harus aware dengan orang-orang di sekeliling. Apalagi terhadap orang yang memiliki gejala depresi. Minimal luangkan waktu untuk mendengar curhat. Tidak perlu menghakimi mereka dengan tudingan seperti mungkin kurang ibadah, kurang dzikir, sholatnya bolong-bolong, kitabnya ga pernah dibuka, dan tudingan-tudingan sejenis. Percayalah, ini sama sekali tidak membantu, sebaliknya justru bisa membuat orang yang sudah depresi itu semakin kehilangan ikatan sosialnya. Jangan memberi cap jelek juga terhadap orang yang berkunjung ke psikolog atau psikiater. Lha kalau memang butuh bantuan profesional, gimana?

Terakhir, mungkin tarif konsultasi ke psikolog atau psikiater bisa dikurangi kali ya? Kan ga lucu kalau niatnya konsultasi untuk mengatasi depresi, eh malah tambah depresi demi melihat jumlah tagihannya…

Sekian review bahan kuliah pagi. Padahal bukunya sendiri belum pernah saya baca

*Eh iya, satu lagi tentang kasus bunuh diri live di Facebook yang kemarin, itu semakin membuktikan kalau bunuh diri adalah fakta sosial. Pernahkah terpikir pesan tersirat apa yang ada di balik aksi live tersebut?

Yes! He was asking for help!

Dalam hati kecilnya sesungguhnya dia berharap ada yang mencegahnya bunuh diri dari ribuan viewer yang menonton. Semoga dia sudah tenang beristirahat di alam sana. No need to judge. Karena Allah itu Maha Baik. Kasih sayang dan ampunan-Nya sangat luas. Dan pastinya, Dia adalah yang maha mengetahui segalanya, termasuk isi hati pelaku bunuh diri itu. Yang perlu kita lakukan adalah aware dengan orang-orang di sekeliling kita, bukan nge-judge macam-macam.

=-=-=-=-=-=-=

Saya, bukan sekali dua kali memikirkan hal konyol ini. Alih-alih minta tolong, saya menangis sesugukan di sudut masjid, di sudut kafe, di kamar, bahkan di depan laptop.

Saya mencoba untuk tidak menghubungi siapapun. Saya berusaha hanya berjuang meminta tolong pada Allah. Saya minta dikuatkan untuk bisa bertahan demi Dia. Saya bahkan sudah memasrahkan krucil kepada-Nya. Saya merasa tak lagi pantas menjadi ibu yang baik bagi mereka. Saya lemah. Saya menangis sampai tak bisa bernapas lega.

Saya baru kirim surel ke Fira. Isinya draft surat wasiat. Iya, no kidding. Saya minta tolong ke dia, kalau ada anything bad happens to me, dia bisa menghubungi adik saya untuk menyelesaikan segala hutang duniawi agar anak-anak tidak terbebani.

Kenapa kirim ke Fira? Karena dia di Bandung. Terdekat dengan saya. Satu-satunya yang bisa saya percaya, selain Jetrin. Vei, Rizal, dan Ladrang sangat jauh. Di titik ini, saya merasa sangat sedih, selain kaget dengan kenyataan.

Saya punya banyak teman. Tetapi jika saya sedang membutuhkan kekuatan moril, saya bahkan tidak bisa menumpahkan kekalutan pikiran dan kebimbangan hati kepada sembarang orang (oh, tentu saja!). Untuk hal menye-menye seperti menangis tanpa sebab, hanya orang-orang tertentu yang memahami saya. Tanpa harus bertanya “kenapa?” yang justru membuat saya semakin ingin berteriak jengkel tak karuan.

Suicide isn’t a joke. At all. Seperti tulisan teman saya di atas, harus lebih aware dengan orang di sekitar kita. Siapa pun itu. Dan, suicide bukanlah keputusan simsalabim semalam. Berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun, seseorang berpikir. Dari tidak mungkin, tidak jadi, ragu, hingga akhirnya segala ketakutan itu menjelma menjadi kenyataan.

Jangan pernah meremehkan ancaman bunuh diri seseorang. Jangan meledek, apalagi menghina.

We never know the future.

Iklan

2 thoughts on “(Berniat) Bunuh Diri Memang Caper”

  1. Wow! Aku kaget juga bacanya. Tapi untung dirimu nulis ini, krn aku juga pengen share sesuatu.

    Actually, aku juga termasuk orang yang pernah mikir bunuh diri, lho. Udah lama, sih. Sejak jaman kuliah malah. Penyebabnya, aku tuh suka uring-uringan, mood-swing, suka tahu-tahu emosian ga jelas, pengennya serba marah, ngamuk, dan ujung-ujungnya jadi kaya punya keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Dan penyebab uring-uringan itu? Memori tentang OSPEK. Alias OPT, alias sarasehan kalo dijuruan saya. Ya yang fakultas, apalagi yang jurusan.

    Konyol, ya? Tapi itulah yang terjadi pada diriku. Padahal pas selesai OPT-nya sendiri (pas tahun 1999 maksudnya) aku nggak apa-apa. Tapi pas tahun 2000 dan seterusnya, pas lihat angkatan di bawahku di-OSPEK, memoriku langsung muncul dan disertai dengan luapan emosi ga jelas. Antara marah, takut, mangkel, ga terima, dan lain-lain yang ga bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan kalo itu udah muncul, sikapku jadi ga karu-karuan. Bahkan muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Dan orang lain juga. Pokoknya ga jelas deh. Dulu sempat ada teman di kampus buat curhat. Tapi lama-lama dia ga tahan dan akhirnya hubungan kami malah rusak karena dia ga tahan dengan saya.

    Dan uring-uringan ini berlangsung bertahun-tahun lho. Even setelah lulus. Pokoknya setiap kali aku lihat sesuatu yang mengingatkan soal OSPEK, mood-swing-ku pasti kumat. Misalnya lihat berita soal perpeloncoan, itu pasti aku langsung uring-uringan lagi. Pelampiasannya ke tembok kamar. Wah, tu tembok dah jadi saksi bisu deh, dah berapa kali jadi korban karena saya coreti dengan makian atau saya pukul-pukul meskibyang sakit dan lecet ya tangan saya. Dan paling parah itu tahun 2008. Padahal pas yang tahun 2008 itu sebelumnya aku baru aja senang-senang lho, habis makan di luar sama keluarga. Entah ada kejadian apa yang bikin aku keingetan, yang jelas pulangnya aku kambuh. Dan parah. Karen besoknya masih kumat. Bahkan aku sampai ambil cutter dan mulai melukai tangan sendiri. Untungnya, malamnya kok ya aku kepikiran buat nelpon temen. Seriusan, aku nelpon temenku sambil nangis-nangis. Temenku kaget. Dan karena dia kenal baik sama ortuku, dia langsung telpon . Ortuku tahu, tapi ga ngomong apa-apa. Tapi langsung ambil langkah antisipatif. Soalnya setelah itu aku tahu-tahu diajak bokap yang mau pergi dinas ke Korea. Eh, tapi biayaku ditanggung duit pribadi bokap ya….bukan pakai duit kantor, hehehe…..kamar hotel ya nebeng bokap yang di kamar selalu sendiri kalo dinas luar.

    Sepulang dari Korea, kondisiku lumayan. Tapi belum sembuh juga. Masih suka uring-uringan kadang. Dan pada saat itulah aku baru tahu soal “bipolar disorder”. Yang ngasih tahu temenku itu sehabis nonton Oprah, trus bilang jangan-jangan gue bipolar.

    Anyway, ternyata gue memang kambuhan. Karena setelah itu ternyata kumat lagi. Penyebabnya, aku baca berita soal OSPEK maut di ITB yang makan korban jiwa. Bahkan yang ini bikin gue ditendang dari grup BEM karena postingan gue yang asli kasar. Untungnya kasus itu terselesaikan dengan adanya sanksi ke pelaku (dan lucunya lagi, wakil rektor ITB yang nanganin kasus itu ternyata jadi dosen pembimbing tesis saya bertahun-tahun kemudian 😀 ).

    Tapi lagi-lagi ternyata saya belum “sembuh”. Karena setelah itu saya pernah nulis ini di Facebook: “Maybe suucide is the best way to end suffering”. Hebohlah temen-temen Facebook. Dan temen kantor juga. Akhirnya tu status saya hapus.

    Kondisiku mulai membaik pas aku mulai kenal sama suamiku. Itu pun juga sempat agak tegang karena ternyata salah satu sohib suamiku itu istrinya salah satu senior di jurusan yang dulu sempat ngospek aku. Tapi alhamdulillah itu berangsur-angsur mulai ga apa-apa karena aku justru temenan sama istrinya seniorku itu.

    Sembuh 100%? Ternyata enggak juga. Karena di kantor kan temen-temenku kadang suka nostalgia masa kuliah, dan yang diceritain termasuk OSPEK itu. Ya kadang aku suka sebel. Tapi alhamdulillah keinginan untuk emnyakiti diri sendiri ga ada lagi. Lalu di kantor sebelum aku lanjut kuliah ngadain acara outbond yang rada “keras”, aku ikut meski agak deg-degan, tapi ternyata itu justru berdampak bagus buat trauma-ku. Minimal, aku ga punya keinginan untuk menyakiti diri sendiri karena memori soal OSPEK. Tapi mungkin itu juga karena aku ngalamin masalah yang lebih “keras” lagi juga kali ya di dunia kerja. Soalnya penyebab uring-uringanku sekarang bukan lagi masalah OSPEK, tapi yang lain. Ya misalnya masalah di kantor yang bikin gondok. Ga tahu juga apakah keinginan menyakiti diri sendiri itu akan muncul lagi atau tidak. Ya mudah-mudahan sih tidak.

    Nah, dari yang aku alami sendiri, dan juga dengan melihat sekelilingku, aku mikir kalo kasus bunuh diri itu adalah masalah kita bersama. Orang punya keinginan untuk itu karena ga tahu lagi mau cerita ke siapa. Kalo dibilang cari perhatian, ya memang cari perhatian. Dan pemicu bunuh diri itu bisa jadi hal “sepele” lho. Padahal mungkin jangan-jangan itu hanya puncak akumulasi yang dia rasakan. Robin William, Tommy Page, sampai Panghigar, kita nggak ngerti apa yang mereka rasakan. Mungkin juga jangan-jangan orang terdekat kita yang kita lihat biasa-biasa saja ga tahunya sedang menyimpan masalah. Makanya aku bilang, ketimbang nge-judge, mending mulai aware dengan orang di sekeliling kita. Jangan remehkan curhat mereka meski mungkin menurut kita cemen. Karena kita nggak tahu, kan, apa yang terjadi setelah itu, jangan-jangan itu malah bisa jadi pemicu karena tumpukan beban mental yang dia rasakan sebelumnya.

    Wah, komennya kepanjangan, ya? Hehe……sori ya….. 😛 Btw, saya ga pakai akun WordPress ya…..biar orang pada penasaran siapa saya…..ups….. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s