Selamat Melamar, Ukhti 

Mendapat broadcast dari WA tentang hukum perempuan melamar lelaki, tulisannya menarik walau singkat. Saya sunting sedikit.

=-=-=-=-=

woman proposes man

Syariat Islam sendiri tidak melarang wanita melamar lebih dulu pria idamannya. Bila sudah menemukan calon yang tepat (shalih), tidak ada salahnya bila kita melakukan first move.

Dari Tsabit al-Bunani bahwa Anas bin Malik pernah bercerita,

جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِى حَاجَةٌ

Ada seorang wanita menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah Anda ingin menikahiku?”

Mendengar ini, putri Anas bin Malik langsung berkomentar,

مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَاسَوْأَتَاهْ وَاسَوْأَتَاهْ

“Betapa dia tidak tahu malu. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.”

Anas membalas komentarnya,

هِىَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا

“Dia lebih baik dari pada kamu, dia ingin dinikahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari 5120)

Berikhtiar untuk mendapatkan jodoh tentu merupakan amal shalih, seperti juga menikah yang merupakan perbuatan mentaati syariat agama. Dan Allah telah berfirman bahwa setiap perbuatan baik (amal shalih), baik laki-laki maupun wanita akan diganjar dengan pahala yang sama. “Siapapun berbuat kebaikan, laki-laki atau perempuan sedang ia beriman, mereka akan masuk surga dan sedikitpun mereka tidak teraniaya.” (Q.S. An Nissa : 124)

Namun di sebagian besar masyarakat Indonesia, misalnya, inisiatif untuk melamar dianggap lebih sopan jika datang dari pihak laki-laki. Masalah gengsi juga kerap kali menghalangi wanita untuk melamar pria idamannya. Padahal jika syariat Islam saja tidak menghalangi, mengapa harus gengsi? Hanya saja, sama saja halnya seorang lelaki juga harus “siap mental” jika lamarannya ditolak, maka seorang perempuan yang melamar juga harus siap siaga menerima kemungkinan ditolak.

Selamat melamar, wahai ukhti. 🙂

=-=-=-=-=-=

Di bawah ini, saya mengutip dari laman Ar-Rahman tentang bagaimana Ibunda Khadijah melakukan ta’aruf hingga lamaran dan akhirnya menikah dengan Baginda Rasulullah.

bagi kalian yang ingin mengikuti jejak Rosul dalam berta’aruf, begini nih caranya:

1. Ta’aruf Pasif

Ta’aruf Pasif ini dilakukan tanpa melakukan interaksi langsung dan salah satu pihak hanya mendengar mengenai pihak yang lain. Pada kisah Nabi dan istrinya, Khadijah mulai menyimpan rasa pada Muhammad karena mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak yang beliau miliki. Dan pada saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, yang tak lain adalah seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran hati, sementara pada saat itu para pemuda lain pada umumnya suka berfoya-foya. Dari hal itu, Khadijah jelas saja menyukai Muhammad bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya, karena ia juga belum pernah bertemu apalagi melihatnya.

2. Ta’aruf Aktif.

Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui perbincangan dalam tatap muka langsung. Pada mulanya, ketertarikan Khadijah kepada Muhammad bukanlah dalam rangka kepentingan asmara, melainkan untuk kepentingan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya pada saat itu. Dan Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan yang sangat dikuasai oleh Muhammad yang tak lain adalah pemuda miskin saat itu. Dengan melakukan perbincangan seperti ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad berakhlak mulia.

3. Tanazhur atau Ta’aruf Interaktif.

Khadijah dan Muhammad menjalin kerja sama pengembangan bisnis perdagangannya.
Melalui perbincangan tersebut, Khadijah kemudian bisa mengambil kesimpulan dan menganggap bahwa Muhammad adalah sosok yang ia butuhkan untuk berdagang ke negeri Syam. Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati. Melalui interaksi seperti ini, Khadijah dapat melakukan pengujian terhadap Muhammad sebelum benar-benar yakin bahwa Muhammad memang berakhlak mulia.

4. Ta’aruf Langsung.

Pada saat itu, seorang Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin kebersamaan dengan Muhammad yang berakhlak mulia. Sepulangnya Muhammad dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari beliau mengenai tugas berdagang yang ia jalani. Khadijah sangat gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan dari Muhammad. Secara demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau dan dari hari ke hari, cinta Khadijah semakin mendalam pada pemuda yang usianya jauh lebih muda darinya itu.

5. Ta’aruf Berjaring.

Jenis atau tahapan ta’aruf ini adalah saat Khadijah memanfaatkan jaringan untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad. Maisarah ialah orang kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke Syam pada saat itu. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad menjadikan Khadijah semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. Ta’aruf Bermedia.

Khadijah mengerahkan seorang perantara untuk memperlancar hubungannya dengan Muhammad. Dalam tradisi Arab ketika itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang pemuda untuk meminta menikahinya, maka itu akan dipandang memalukan. Untuk menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya lainnya, untuk membujuk Muhammad supaya mau melamar dirinya.

7. Khitbah.

Pada akhirnya Muhammad melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau. Di depan keluarga Khadijah, Muhammad melamarnya. Dengan mahar 20 ekor unta, lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Usia Muhammad saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.

Beberapa cara Ta’aruf Siti Khadijah dengan Nabi Muhammad di atas patut kita teladani, dari awal sampai khitbah sangat terjaga hubungan beliau berdua. semoga kita bisa menerapkannya. Aamiinn…


PS: Will you marry me?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s