Menikah : Ambil Kesempatan Atau Gigit Jari?

Ini lucu sebenarnya. Masalah jodoh, selalu menjadi perdebatan sendiri. Yang nikah siapa, yang ribut siapa.

Pernikahan Haqy Rais dan Selmadana yang menghebohkan itu memicu dua pokok gosip yang jamak :

  1. Haqy anak Amin Rais, jadi orang menilai Selma mata duitan.
  2. Pacarnya ditinggal begitu saja, orang menilai Selma gak setia.

Sederhana. Dua itu saja. Ujungnya, Selma yang salah. Padahal perempuan kan selalu benar. #eh

Benar, jodoh di tangan Allah. Tetapi kalau gak diambil, ya keburu disamber orang. Pacarnya Selma (siapa sih namanya? gak nemu) gak ambil kesempatan itu, ya disamber dong sama Haqy. Padahal Allah sudah kasih Selma untuk pacarnya agar segera dinikahi. Tetapi dia diem aja. Tidak membaca pertanda langit. Gak iqra. Selma mau nikah segera. (membaca sebuah komen, Selma ‘ngebet nikah’. ya wajarlah, cewek. punya batas masa subur. gak paham?) Haqy datang. Mereka menikah. Happy ending? Gak juga. Ada pihak yang tersakiti.

Siapa bilang mudah untuk memutuskan? Saya juga kalo jadi Selma bakalan stres. Cinta sama pacar yang tak kunjung melamar, atau pilih pria yang baru dikenal tapi mantap menikahi (sekaligus menafkahi)?

Sudah lama saya ingin menulis tentang hal semacam ini, tapi gak nemu contoh kasus yang pas. Nah, kisah Haqy dan Selma ini menarik. Pokoknya Selma salah. Pokoknya Selma matre dan gak setia. Pokoknya Selma cewek jahat.

Ya, bebas sih. Saya juga gak kenal Selma, gak bisa menilai dia gimana. Dia yang jalani hidupnya toh? Pria bisa memilih wanita mana pun yang dia mau sebagai pendamping hidupnya. Tetapi wanita punya hak untuk menentukan dan memutuskan siapa pria yang akan menjadi pemimpin rumah tangganya kelak.

Masalah ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Haqy dan Selma nikah sirri duluan. Menghindari zina, benar. Sudah sah secara agama. Tinggal dicatat di KUA. Agak bingung aja penulis di artikel asli itu ada tulisan “nikah beneran” seolah nikah sirri itu pura-pura. Apa kabar nikah mut’ah yang dilarang agama?

….. akhirnya Selma menerima pinangan Haqy. 7 bulan setelahnya, tepatnya 5 Maret 2017, mereka menikah ‘beneran’. Menikah secara sah yang dicatat di KUA.

Bacanya gimana ya ada kalimat seperti ini. Sirri dianggap tidak sah. Ya, sudah. Biarkan saja pendapat penulisnya, yak?

Haqy gercep? Ya, bagus. Hidup hanya sekali. Kalau tak ambil kesempatan, apakah akan ada kesempatan kedua? Ketiga?

Pria, kalau kebanyakan pertimbangan, ya akan melewatkan banyak kesempatan juga. Menunggu bus yang tepat, hanya karena bus yang lewat ‘sudah penuh’, bukan jurusannya, atau berpikir masih ada bus lain di belakang. Waktu terbuang percuma. Usia semakin tergerus. Jatah di dunia kian menipis.

“Menikah itu untuk apa?” Ini pertanyaan seorang pria yang saya kirimi sebuah nasihat tentang pernikahan. Saya menantangnya untuk membuat satu tulisan berkaitan dengan pertanyaannya sendiri. Saya menunggu.

Saya hendak mengutip sebuah renungan dari seorang ustaz, dengan sedikit suntingan :

Soal Rezeki dan Jodoh yang sering dikhawatirkan

Rezeki kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Mau diambil lewat jalan halal ataukah haram, dapatnya segitu juga. Yang beda, rasa berkahnya.

Jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Mau diambil dari jalan halal ataukah haram, dapatnya yang itu juga. Yang beda, rasa berkahnya.

Keduanya bukan tentang apa, berapa, atau siapa; tapi BAGAIMANA Allah memberikannya; diulurkan lembut & mesra, atau dilempar penuh murka?

Maka layakkanlah diri di hadapanNya untuk dianugerahi rezeki & jodoh dalam serah terima paling sakral, mesra, penuh cinta, berkah, & makna.

Rezeki & jodoh di tangan Allah. Tapi jika tak diambil-ambil, ya di tangan Allah terus. Ikhtiyar suci & doa menghiba mendekatkan keduanya.

Setiap orang memiliki jodohnya. Jika takdir dunia tak menyatukannya, atau malah melekatkan pada yang tak sejalan; surga kelak mempertemukan.

Jodoh Nuh & Luth bukan isteri mereka. Jodoh Asiyah isteri Fir’aun bukanlah suaminya. Maryam ibunda ‘Isa pun kelak bertemu jodohnya.

Jodoh Abu Lahab itu agaknya Ummu Jamil; sebab mereka kekal hingga neraka. Jodoh Sulaiman agaknya Balqis, bersama mereka mengabdi padaNya.

Dalam QS An Nuur: 26; diri ialah cermin bagi jodoh hati. Yang baik-baik jadilah jodoh yang suci-suci. Yang nista-nista jumpalah yang keji-keji.

Tentu makna ayat itu adalah peringatan & kerangka ikhtiyar: cara menjemput jodoh terbaik adalah dengan membaikkan diri di tiap bilang hari.

Yang menjemput pasangan dengan menggoda matanya; bersiaplah mendapatkan ia yang tak tahan atas jebak kejelitaan lain.

Tiap masa lalu buram yang tersesal dalam taubat suci; semoga jadi jalan mengantar kita pada kelayakan mendapat jodoh yang terbaik.

Jodoh tetap misteri. Syukuri ketidaktahuan itu dengan merencanakan & mengupayakan yang terbaik menuju pernikahan suci di dunia nan fana.

Selanjutnya, tugas besar kita adalah melestarikan perjodohan itu hingga ke surga; meniti rumahtangga, sabar-syukur dalam barakah & ridhaNya.

Berharap akan sosok boleh saja; tapi jika Allah pilihkan yang lebih baik, lebih kaya, lebih rupawan darinya dampingi kita, jangan menolak.

Nabi anjurkan nazhar; melihat calon pasangan sebelum nikah. Tentu untuk temukan hal nan menarik, bukan cacat-cela. Tajamkan mata batin kita.

Dalam hidup bersama di ikatan suci nan kita ikrarkan bersama ‘jodoh’ kita, hijrahkan cinta dari kata benda menjadi kata kerja, kalimat amal.

Di titian hari-hari setelah akad suci; hijrahkan rasa dari jatuh cinta menjadi bangun cinta; pastikan jadi megah istana, tinggi gapai surga.

Isteri & suami sejatinya tak saling memiliki. Kita hanya saling dititipi. Maka salinglah menjaga dalam menggenapkan , menaatiNya.

=-=-=-=

Demikian. Apakah langkah yang diambil Haqy dan Selma itu sudah sesuai tuntunan Rasulullah? Saya, dari sudut pandang awam, iya. Singkirkan dulu tentang “kecerobohan” Selma meninggalkan pacarnya dan kenekatan Haqy merebut pacar orang lain.

Ini tentang kemantapan hati untuk beribadah kepada-Nya. Ini tentang kepatuhan menjaga diri. Menikah adalah soal memilih, kamu ingin mendampingi atau didampingi siapa?

Cintailah yang kamu nikahi, bukan nikahi yang kamu cintai. Di sini, agaknya Haqy dan Selma telah memilih.

****

Cinta bisa tumbuh belakangan, katanya. Meski entah, di sisi ini, saya kerap meragukan. Tetapi, siapalah saya yang bisa sok mengatur kuasa Allah? Jika Allah sudah berkehendak, saya tak bisa menentukan kepada siapa saya akan jatuh cinta. Tetapi, saya masih diberi pilihan untuk bisa menentukan dengan siapa saya akan menikah.

Cinta bukan perkara 1+1=2. Pernikahan pun tak semudah memecahkan 5% x 9 +23 – 100 ÷ 8 ¾.

Menikah bukan masalah siap atau tidak siap. Berapa persen manusia yang menikah karena siap? Banyak yang tidak siap. Tetapi mereka menikah karena yakin Allah akan menjaga, melindungi, menguatkan, dan memberi rezeki terbaik. Itu.

Sudah panjang? Ya, baiklah. Segini saja.

PS: #kamu, kapan memutuskan berani seperti Haqy? Iya, kamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s