But Why, Tom? – RIP Tommy Page

3 Maret 2017.

Hari terakhir dan penentuan, seorang Tommy Page memutuskan untuk mengakhiri hidup. Sampai posting ini ditulis, belum ketauan kenapa dia sampai nekat melakukannya. Ini bukan sekadar alasan receh.

Karirnya termasuk cemerlang. Perlahan tapi pasti, Tommy jadi orang penting yang dinantikan banyak penyanyi dan industri rekaman suara.

Saya, mengenal suara dan sosok Tommy Page dari sepupu yang membeli album pertamanya. Kemudian, saya jatuh cinta pada lagu Minetta Lane. Entah, dibandingkan A Shoulder To Cry On atau I’ll Be Your Everything yang kesohor itu, Minetta Lane memiliki daya magis tersendiri. Ada sesuatu yang gak bisa dijelaskan di sana.

Cowok manis itu pernah membuat saya termehek-mehek di masa remaja. Wajahnya terlalu cantik untuk ukuran cowok. Saya pernah tidak percaya kalau dia lebih memilih bersama pria daripada wanita. Ternyata benar. Di akhir hidupnya, dia hidup hampir jauh dari gosip bersama Charlie dan tiga anaknya.

Tapi gantung diri? Tapi kenapa? “It’s a shock to everyone because he was always so happy. There was no sign anything was wrong. Ya, gimana? Kamu pikir orang dengan mental illness itu baik-baik aja? Gak! Mereka berjuang sampai di titik bahwa mereka pikir udah gak sanggup lagi menahan beban.

Artis lain meninggal, saya gak sampe bikin post di blog. Tapi Tommy beda. Saya menghabiskan masa kecil dengan lagu-lagunya. SD, SMP, SMA. Gak ada hari tanpa mendengar suara dia. Sampai kaset saya ada yang rusak atau hilang dan gak nemu lagi di toko kaset zaman itu, saya pun request ke radio untuk memutarkan lagu-lagunya. Setiap pulang sekolah. Sampe segitunya.

Bangun tidur, saya membuka mensyen Twitter dari Jetrin. Kepala masih pening karena kurang tidur, kemudian membaca tweet dari Debbie Gibson, Tiffany, Jon Knight, Donnie Wahlberg, dan beberapa media macam ABC, NBC, hingga Billboard, tempat dulu dia pernah berkarir.

Fix. Hari-hari saya gak akan sama lagi. Tak ada Tommy Page. Tetapi mental illness yang akan terus menghantui saya. Sampai kapan pun. Hingga Jetrin pun menguatkan saya, “Teruslah berada di lingkungan yang menguatkan ya, Ndi.”

Saya gak sekuat itu. Tetapi ada orang-orang yang menguatkan saya. Ada anak-anak saya. Ada sahabat-sahabat saya yang selalu menemani dari jauh. Thank you  Fira, Vei, and  Jet. Kalian benar-benar A Friend To Rely On. Cuma kalian yang ngerti gimana saya berjuang jungkir balik demi menjadi ‘normal’ with that cliche mark : “Am fine.” Sok kuat. Hahaha! Hard To Be Normal.

Ah, Tom. Saya pernah bermimpi bertemu kamu. SEKARANG SAYA MENYESAL, KETIKA KAMU KEMBALI LAGI KE INDONESIA, SAYA TAK AMBIL KESEMPATAN ITU! Bodoh.

Kesempatan tak datang dua kali. Ah, sudahlah!

Bye, Tom. I can’t see heaven in your eyes again. But really, I’ll never forget you. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s