Ketika Aku Butuh Diyakinkan

Teruntuk : Kak Mayya.

Aku masih limbung saat menulis surat ini. Aku masih merasa berada di persimpangan. Aku menangis, menekuk lutut, membayangkan langkah apa yang harus kuambil. Ke mana arah yang harus kutempuh. Kanan? Kiri? Lurus? Satu yang pasti, aku tak akan berbalik arah ke masa lalu.

Sudah lama aku ingin bertanya kepadamu tentang kita. (ecie) Tentang apa yang pernah kita pilih. Tentang masa depan anak-anak. Tentang bagaimana Allah mengatur segala skenario-Nya dengan sangat sempurna, meruntuhkan keangkuhan dan kebrutalan ego yang selalu mengatasnamakan eksistensi diri.

Ah, Kak Maya.

Aku beruntung mengenalmu. Meski untuk pertemuan, kita baru hitungan jari sebelah tangan saja. Tetapi apa yang sudah kamu lakukan terlebih dahulu dibandingkan aku, menjadikan aku kembali mempertanyakan tujuanku hidup.

Untuk apa aku ada di dunia ini jika hanya untuk memamerkan sesuatu yang tak semakin mendekatkanku pada Allah? Apa yang harus kubanggakan dengan semua itu?

Aku sudah diberi tanda oleh-Nya, berkali-kali. Tetapi aku abai. Aku egois. Aku merasa malu jika aku mengakui bahwa aku salah. Bahwa hanya Dia tempat aku mengadukan semuanya. Hingga di satu titik, aku benar-benar ditampar keras dan aku hanya bisa diam. Bahkan, aku malu untuk menangis.

Terima kasih ya, sudah selalu sabar mengingatkan lewat media sosial (karena jarak membuat kita sulit bertatap muka).

Jangan pernah bosan untuk terus mengingatkan dan memberi dukungan doa karena aku masih harus terus belajar arti sabar dan patuh pada ketetapan Illahi.

Salam sayang dari Bandung untukmu dan ASus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s