Bau Laki

Kepada kecintaanku : Umar.

Kamu, setelah hadir menemaniku selama 11 tahun terakhir, ada yang berubah. Beberapa bulan terakhir, aku menyadari satu hal unik, khusus, dan membuatku tergelak saat menemukan hal apakah itu.

“Hm, Abang udah bau laki,” bisikku ketika mencium kepalanya.

“Apaan, Bun?” tanyamu bingung.

“Bau laki,” ulangku pelan. Tersenyum. Kemudian… Tergelak.

“Ah, Bunda! Bingung!” Kamu kesal karena tak mengerti.

Aku menjelaskan bahwa tubuhmu mulai mengeluarkan aroma keringat khas lelaki, bukan lagi bau bayi atau bau kanak-kanak yang selama ini kuendus. Kamu tersenyum. Memelukku.

Kemudian kamu berbisik, “Iya, aku udah gede. Bunda juga tambah tua.” Kamu tertawa puas telah meledekku. Akhirnya, kita berdua berderai tawa. Ah, kecintaanku.

Kamu sudah semakin besar. Kelak, kamu akan keluar dari rumah, menjemput impian, berbuat semakin banyak untuk ummat, dan akhirnya memiliki keluarga sendiri.

Aku, saat itu tiba, sedang duduk sendiri di taman, membaca buku. Mendoakanmu dalam keheningan.

Terima kasih sudah memberikan warna pada kehidupanku. Aku banyak belajar darimu, sosok tangguh dalam tubuh anak kecil yang mulai beranjak remaja.

Aku mencintaimu tanpa tapi.

-bunda-

Iklan

2 thoughts on “Bau Laki”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s