Selalu Berada di Garis Depan

Kepada: A For Anon.

Selamat pagi, siang, sore, dan malam.

Belum 24 jam pertemuan terakhir kita, aku melihatmu lagi. Tetapi tidak langsung. Sebuah rekaman kompilasi video, jelas memperlihatkan sosokmu. Salah satu potongan video berdurasi sekitar lima menit itu menampilkan sekilas dirimu. Hanya sekitar sepuluh detik.

Aku spontan tersenyum melihatnya. Aku langsung menyadari dirimu meski hanay lewat media lain, bukan bertatap muka langsung. Video itu berulang diputar seharian. Alih-alih terpaku pada seluruh isi video penuh makna itu, aku menanti di menit ketika sosokmu muncul.

Mengingatkanku bahwa kamu selalu menjadi orang di garis depan untuk menyuarakan di mana tempatmu berdiri. Kamu yakin dengan pilihanmu, meski dengan risiko akan dibenci, difitnah, dan diancam bunuh banyak orang. Kamu malah tertawa santai. “Biarin aja.” Begitu selalu tanggapanmu.

Ah,surat ini tak lama. Anggap saja telegram. Aku hanya ingin mengabarkan, bahwa ternyata, meski aku bosan melihatmu, masih tak mengapa menemukanmu dalam bentuk lain. *maksudnya?

Salam dari Bandung, tempat kamu selalu ada meski terlambat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s