Ketika Aku Tak Berharap Keajaiban

#KepadaA.

Tanda pagar itu sudah kugunakan sejak 2010 di Twitter. Lupa, tepatnya kapan. Aku biasa menggunakannya untuk seseorang. A. Anonim. Entah siapa, yang saat itu membuat hatiku ingin berpuisi.

Iya, awalnya, tagar itu untuk bikin puisi di Twitter. Kemudian berkembang. Tak sekadar puisi. Kadang fiksimini. Kadang cerpen (Oh, ini di Instagram akhirnya.)

Aku jarang menggunakan tagar kesayanganku itu. Akhirnya, saat ini, kugunakan lagi. Untuk kamu.

Iya, kamu yang sudah jarang menggunakan media sosial. Jadi, aku merasa aman untuk menulis apapun tentang kamu. Oh, kecuali temanmu itu mengirimkan screen shot tulisanku. Beda soal.

Kamu mungkin tak akan pernah ingat kapan pertama kali kita bertemu. Kamu juga tak akan pernah peduli. Fokusmu bukan kepada perempuan, kecuali berniat untuk mengenal dan menikahinya, kan? Sudah empat tahun sejak pertemuan pertama kita, yang aku sendiri juga tak terlalu peduli padamu saat itu. Tetapi, suaramu yang bervolume cukup lantang, pilihan katamu yang membutuhkan kamus untuk mencernanya, dan curhatan seorang wanita tentangmu, membuatku mau tak mau… Menoleh kepadamu.

Aku tak akan ada di Bandung, bila bukan karena ingin menyembuhkan luka batin yang sudah terlalu merusak jiwa ini. Kemudian, perlahan, aku ingat kata-kata seseorang di Depok, “Kamu akan mendapatkan jodoh terbaik di Bandung.”

Oh, tenang. Aku tak pernah berharap bahwa jodohku adalah kamu. Tak pernah terbersit sedikit pun harapan itu. Aku tahu, itu sama saja seperti mimpi makan malam dengan Leonardo diCaprio. Jauh pake banget.

Namun, aku kembali terpaku pada pertemuan pertama kita setelah berpisah dan sama sekali tak pernah komunikasi hampir dua setengah tahun. Kamu mengubah segalanya. Kamu membuatku terenyak pada kata-kata bijak, “Kalau kamu mau mendapatkan jodoh yang baik, maka kamu harus berubah menjadi baik terlebih dahulu.” Merujuk pada kalam Illahi dalam surah An-Nur ayat 26.

Padahal aku tak lagi menaruh harapan padamu. Aku bahkan mencoba untuk mencari cinta yang lain. Aku berkelana dalam kekosongan hati dan pikiran yang tak menentu. Aku tak menemukan apapun. Sampai saat kita bertemu dan aku kembali mendengar suara tawamu yang pernah kurindukan.

Tak ada yang luput dari skenario Allah, kan? Iya. Termasuk pertemuan kita.

Termasuk pada akhirnya aku mulai mencoba belajar berubah, sesuatu yang dulu sangat kutentang karena termakan satu kata sederhana : GENGSI. Ketika dulu aku bertanya pada diri sendiri, untuk apa berubah? Am not impressing anyone at all. Aku pun tak ingin lagi mencari pendamping hidup. Tetapi pertemuan kita yang selanjutnya, yang berikutnya, yang akan terjadi… Membuat rasa percaya diri itu muncul. Aku juga bisa dan aku ingin membuatmu jatuh cinta kepadaku.

Meski, aku sadar, cinta tak bisa dipaksakan. Jatuh cinta bukan perkara seperti melihat sepatu bagus di etalase toko dan membelinya seketika. Setelah sepatunya sering dipakai dan menjadi rusak, dibuang. Ya, aku tak mau seperti itu.

Maka, salahkah aku berharap keajaiban untuk kali ini? Maukah kamu menjawabnya untukku?

-an-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s