Missing My Parents

Kepada : Bapak dan Mama. 

Saya tahu, surat ini tak akan pernah kalian baca. Saya tahu, rindu-rindu ini hanya bisa dilangitkan dengan doa-doa lirih. 

Hanya sesuatu yang bisa saya rindukan? Sebentar. Saya punya beberapa hal yang sangat saya rindukan. Kalian mau tau, Pak? Ma? 

Saat dipukul pakai rotan sama Mama. Sering. Bukan hanya sekali. Iya, saya bangor dan ndablek. Ngeyel. Stubborn. Saya gak pernah lihat Mama merotan adik. Hanya saya. Kadang, pakai sapu lidi. Peureus, kata orang Sunda. Apa ya? Pedes panas, melebihi rasa nyeri dan sakit dan meriang setelahnya. Kapok? Gak tuh!

Melihat Mama menangis karena ulah saya. Hanya menangis karena saya. Adik saya anak baik, gak pernah kena marah. Hanya saya yang nekat, seenak jidat sendiri, dan selalu bikin Mama menangis karena (mungkin) malu punya anak seperti saya. Tapi saya membalas air mata Mama dengan nilai baik di sekolah. Mungkin belum cukup.

Ditampar Bapak karena saya dianggap melawan titahnya. Saya hanya tersenyum tipis, tanpa suara, dan masuk kamar. Bukan untuk menangis, tapi setel musik untuk menghilangkan rasa malu. Iya ih, malu tauk, ditampar di depan banyak orang.

 Ketika Bapak berkata dengan suara bergetar menahan amarah, “Jangan pernah datang lagi ke rumah Bapak!” Mata Bapak basah karena tangis yang ditahan. Saya ingat ucapan itu karena apa. 

Akibatnya, delapan tahun saya menderita lahir batin. Ah, andai saya bisa sungkem dan meminta ampunanmu sebelum engkau menutup mata, Pak… 

Saya rindu saat kalian marah. Betapa berat beban sebagai orangtua. Kini, saya merasakan apa yang pernah kalian lalui saat memiliki saya dan adik. 

Saya tak pernah bisa meminta wejangan kalian tentang kehidupan sebagai orangtua. Namun saya belajar dari kenangan bersama kalian. Suatu ketika, Mama berkata, “Zaman kamu nanti lebih berat dari sekarang. Zaman anakmu nanti bahkan lebih rumit, Teh. Didik anakmu dengan bekal terbaik. Agama.” 

Maka, saya tak pernah peduli jika anak-anak tak terlalu menguasai ilmu matematika atau seni rupa. Tetapi bila tak mau ke masjid untuk belajar mengaji, saya akan sangat marah. Saya masih terus belajar bagaimana mendidik  mereka.

Andai kalian ada, mereka tentu akan punya tempat bertanya. Mereka punya minat tentang sejarah, terutama sekitar perang dunia. Saya selalu bilang, “Eyang kakung dan Nien yang mengalami. Bunda gak. Jadi gak bisa ngebayangin.” 

Pak. Ma. 

Terima kasih untuk semua yang pernah kalian berikan pada saya. Maaf, ternyata saya tak cukup baik untuk disebut anak berbakti. 

Merindu kalian teramat sangat. Dari kota kelahiran Mama. 

-an-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s