Lu Doang Relationship

Ini salah satu kepahitan hidup selain mendapat nilai C dari dosen killer. Serius. Nyatanya, saya mengalami LDR (Lu Doang Relationship) ini dua kali di era sebelum 2005 dan dua kali setelah 2012.

Bedain ya dengan friendzone. Kalau ini, saya gak pernah terjebak. Karena saya tahu, cowok yang dekat dengan saya gak punya perasaan khusus terhadap si tomboy ini, jadinya ya kembali ke masalah awal : LDR. Haseum!

lu doang relationship
lu doang relationship

Nyeri, bray. Etapi tunggu. Saya mau bahas yang lawas sebelum 2005 itu.

Dulu, sekali saya ngarep pada senior kampus. Sekali saya ngarep sama junior. Keduanya beda fakultas. Satu MIPA, satu Ekonomi. Senior kampus ini selalu sukses bikin saya geer, nyangka kalau dia juga punya perasaan yang sama dengan saya. Tapi duh, harapan tinggal harapan. Terakhir ketemu, dia ke rumah saya, cuman mau bilang kalau dia pindah tugas ke Kalimantan. Nyesek.

Kalau yang junior, ini juga sama aja geernya. Siapa sih yang gak akan tertarik sama cowok pinter, cakep, baek, dan humoris? Favorit banget. Sayang, nasib baik gak berpihak pada saya. Ya, beginilah LDR. Sudah ada sejak zaman purba. Halah.

Oke. Sekarang maju ke era 3G. Saya sempat jatuh cinta pada sahabat sendiri, sebelum menyadari bahwa tipe yang dia mau itu sudah sangat jelas: bening binti kinclong, seksi, cerdas, langsing, aktivitas segudang, sekelas selebwtit dan kalo bisa selebritis sekalian, plus jangan lupa cewek itu harus gadis lebih muda dari dia. Saya dan dia jelas tidak ada di zona teman, karena dia gak suka sama saya. Getoh.

Satu lagi, sohibnya teman. Ini juga cowok yang mematok kriteria lumayan bikin saya jiper. (Tampaknya kudu) cantik, shalihat, sukses, sekelas ustazah, dan minimal harus sudah selesai tesis. Berat ya? Etapi ini perkiraan, karena saya gak tahu aslinya bagaimana. Kan saya berdasarkan kabar burung perkutut saja.

Kembali saya berkaca pada penilaian teman sekolah dan sahabat. Mereka bilang, saya ini terlalu seterong alias terlalu (sok) kuat, mandiri, dan sulit dilembutkan.  Meski mereka tau saya sebenarnya rapuh, tapi mereka berpendapat, “Orang lain gak lihat itu, An. Mereka menilai elu kan dari keseharian yang mereka lihat atau dengar dari orang. Bukan karena mereka mengenal elu dari dekat.” Saya nyengir.

Akhirnya, kata mereka, “Makanya banyak cowok mundur teratur kalo kenal elu, An. Elu susah dideketin.” Saya nyengir lagi. Kali ini miris. Kemudian mikir, apakah empat orang di atas itu pernah sedikit saja punya niat mendekati saya lebih dari sekadar teman? Entah.

Sudahlah, jangan dibahas. Nanti saya baper. Mending minum kopi sambil makan cireng.

Iklan

2 thoughts on “Lu Doang Relationship”

  1. Coba itu dapet C dianggap cobaan hidup, saya aja yg langganan dapet D dulu nganu.. hahaha saking seringnya dapet C sdh kebal dan nyaris matirasa ama nilai, untunng akhirnya lulus *malah curcol :v

    Dan yaa smoga mendapatkan yg terbaik deh yaa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s