That Damn Sweet Feeling

Saay tidak tahu, kapan tepatnya mulai menyukai lawan jenis. Sependek ingatan saya, ketika kelas tiga SD (ulangi: KELAS TIGA ESDE) saya mengenal kata ‘naksir’ dan tertarik pada kakak kelas enam. Hadeh, saya gatau kenapa. Pokoknya suka aja. Kenapa? Kakak kelas itu lucu. Tinggi pula. Tetapi untouchable. Saya bahkan tak pernah bertegur sapa dengannya. Sampai dia lulus dan menghilang dari kehidupan saya selamanya. Halah.

Saya gak tau cinta itu apa. Saya sudah lelah mencari tau. Biarin aja, apapun namanya, saya gak peduli. Saya ngeliat cowok lucu, atraktif, wangi, udah deh langsung naksir. Masalah saya harus saingan ama cewek lain, kalem aja. Gak sante itu kalo kudu saingan sama cowok. Yha. 😌

Saya pernah pacaran. Saya pernah menikah. Sampai detik menulis ini, entah berapa kali mengklaim diri jatuh cinta pada Mr. I-hope-he-is-the-right Prince Charming. Lebay, memang. Putus cinta dan patah hati berulang kali. Perih? Banget. Ngerasa bego? Pasti. Kapok? Gak. 😂

Setelah 2012, saya beberapa kali ditawari bantuan untuk mencarikan jodoh. “An, kirim CV ya. Siapa tau jodoh.” Saya tersenyum. Saya kirim. Sampai terhenti tahun 2015. Saya lelah. Jujur, lambat laun saya semakin menikmati kesendirian.

Saya juga sempat mendaftar ke beberapa online dating website dan bahkan sempat install aplikasi kencan daring lokal. Bertahan sebulan. Merasa lucu aja. Seperti menjadi pengemis cinta. Emangnya kehidupan saya segitu sepi dan menyedihkan?

Saya jatuh hati pada seorang pria baik dan inshaa Allah shalih. Tapi he isn’t into me at all. Saya menyadari kekurangan diri ini. Lebih tua darinya dan sudah punya anak. Saya jadi ingat, Rizal sahabat saya pernah bilang, “Cowok nyari yang lebih muda, An.” Hati saya mencelos dan makin jiper. Saya memutuskan mencoba menjauh dari pria itu. Saya takut terlalu jauh berharap.

Usia tak lagi muda. Masa produktif untuk hamil dan melahirkan juga semakin menipis. Masa iya saya tega menjadikannya seorang suami tanpa bisa menjadi seorang ayah bagi anak kandung? Siapalah saya bisa sejahat itu. Saya gak mau egois pada hati saya yang menggantungkan asa padanya.

Dia gak akan pernah membaca post ini. Dia orang sibuk yang memegang ponsel saja jarang. Buka laptop hanya untuk bekerja. Katanya, “Saya hanya butiran debu. Bekerja begini untuk mencari cinta Allah.”

Sekali lagi saya patah hati. Tetapi kali ini serius, kehilangan tanpa air mata lebay seperti yang sudah-sudah. Hanya mendadak sepi.

So, why bother? 

Iklan

2 pemikiran pada “That Damn Sweet Feeling”

    1. Aaamiiinn… Terima kasih banyak 🙂 Semoga, doamu sampai ke Arsy’ Allah. Semoga malaikat mengamini doa baikmu.

      Semoga, segala yang baik-baik penuh berkah pun terjadi padamu dan keluarga 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s