Some Things I Miss

Banyak, banyak sekali hal yang saya lewatkan dalam hidup. Bahkan hal-hal yang nyaris saya lewatkan.

Seperti, saya melewatkan konser NKOTB saat dulu pertama kali mereka datang ke Indonesia. Kenapa? Gak berani bilang sama Bapak. Udah bilang Mama dan dijawab, “Ngapain ke sana sendirian?” Ew. Ya, emangnya mau ngajak siapa?

Saya melewatkan cinta seseorang yang memberi sinyal berkali-kali. Kala itu, saya tidak menyadarinya. Akhirnya, saya pun menyalahkannya karena tak bicara blak-blakan. Dia menjauh hingga ke Kalimantan, sementara saya terjebak cinta palsu di Depok.

Ketika saya terpaksa melewatkan kesempatan belajar bahasa Inggris sambil liburan di Melbourne karena Bapak tak memberi izin saya pergi sendirian ke luar negeri. Mama sudah kasih sinyal oke.

Saya bimbang dan akhirnya melewatkan tawaran kerja di Jogja. Galau dengan pekerjaan yang saat itu sedang ditekuni. Akhirnya, pekerjaan itu habis masa kontraknya dan tidak diperpanjang. Kesempatan pun menguap. Kesel? Jangan ditanya.

Oke, sekarang bagian nyarisnya.

Saya pernah nyaris ketinggalan kereta api karena menunggu tante di Stasiun Gambir. Sekitar tahun 1999. Saya menunggu di lantai dua, tante di lantai dasar. OMAGAH! Announcer sudah bilang, “Kereta api Cirebon Express akan segera berangkat sepuluh menit lagi” membuat saya sakit kepala mendadak. Saya jelas bilang, “Tunggu ya di depan Dunkin Donuts.” Saya cari ke konter DD tidak ada. Khawatir tante kenapanapa, saya menelepon sepupu saya dan dia bilang tante sudah di Gambir. Lord, saya panik. Asli. Tetiba saya menyadari sesuatu. Ada logo Dunkin di bagian lain! Saya berlari, dan mendapati tante saya berwajah bingung kelelahan di berdiri di tiang besar dengan tulisan Dunkin di atasnya. Allah… Miskom. Saya membantu tante untuk segera ke jalur empat. Baru duduk semenit di kursi kami, keretanya berangkat. Duuuuhhhh….

Saya nyaris melewatkan kesempatan kuliah di salah satu tempat bergengsi di Indonesia. Saya pernah mengincar Unpad karena ingin merasakan tinggal di Bandung, tetapi akhirnya saya tak memilih. Saya sempat terpikir mau ke IPB dan tinggal di Bogor, juga saya tampik. Jika akhirnya saya mendarat di UI Depok, semata karena ingin membayar sedikit saja rasa terima kasih kepada kedua orangtua yang ngebet ngeliat anaknya masuk kampus keren. Sampai akhirnya salah satu sepupu bilang, “Akhirnya ada juga cucunya Aki Bakrie masuk UI.” Saya nyengir. Prestasi adik saya masuk UI tiga tahun kemudian malah lebih membanggakan.

Saya nyaris melewatkan saat seru berenang di Ancol untuk pertama kalinya. Penasaran rasanya berenang di air laut, saya nyebur tanpa bilang Mama. Kemudian, saya memberanikan diri dan…. hampir tenggelam di pantai Ancol 20an tahun lalu. Baru di pantai lho! Entah, saya merasa kaki saya ada yang menarik dari dalam air hingga sekitar dua-tiga menitan gelagapan di bawah air itu rasanya horor. Panik. Saya menyebut dua nama dalam hati seketika, “Allah! Mama!” Ketika akhirnya saya bisa keluar dari pantai, saya menggigil. Bukan karena air. Tapi ketakutan karena saya tak menemukan bukti atau mengetahui tangan siapa yang menarik saya. Karena saya ingat, ketika masuk air, di dekat saya tak ada orang lain yang berenang. Jaraknya lumayan jauh semua. Spooky enough?

Saat ini, saya nyaris melewatkan kesempatan untuk bisa menemukan cinta lagi. Ahay. Sudah ya, bagian ini ada saatnya sendiri untuk diceritakan nanti. Waullahu’alam.

Kamu, sudah melewatkan apa saja?

Iklan

6 pemikiran pada “Some Things I Miss”

  1. Ah iya juga, terimakasih banyak, tak salah rupanya saya mendaratkan diri di blog ini. Seringkali saya memang perlu diingatkan dgn kalimat2 singkat tp bisa utk ngaca begitu. Sekali lg terimakasih

    Suka

    1. terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. perjalanan panjang proses perubahan diri agar menjadi lebih baik 🙂

      saling mengingatkan. saya pun kalau blogwalking, selalu mendapatkan pencerahan 🙂

      Suka

  2. saya jd tak sabar menunggu kelanjutan ceritanya di atas jadinya, dan bagian yang nyaris2 itu seringkali malah jadi terbayang2 seumur hidup dan kadangkala mengesalkan begitu? hehe

    kalau saya wah banyak yang saya lewatkan rasanya, yang paling saya ingat adalah melewatkan masa-masa belajar main gitar lebih bener sama seorang kawan, lagi-lagi faktor kemalasan selain ketidakpunyaan gig menjadi kambinghitam, tapi yaudahlah

    Suka

      1. masa-masanya sudah lewat euy, skarang menikmati yg ada saja lah, btw saya ga pernah berani bahkan sekedar ndaftar ke UI, menurut saya itu universitas yang levelnya jauh di atas kemampuan saya, bayangan saya selalu begitu dan sepertinya nyatanya memang begitu hehe

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s