My Morning Routine

Kegiatan rutin pagi, menyenangkan untuk dibahas. Harapan ada di pagi hari, ketika membuka mata, menyadari masih ada kesempatan sekali lagi dari Allah untuk saya dan anak-anak bersyukur.

Dibangunin alarm, wudhu, salat, dan berterima kasih pada Allah. Kemudian mengecek ulang apa yang harus dikerjakan hari ini. Tulisan, dagangan, makan krucil, dan membereskan rumah adalah to do list utama harian.

Lelah adalah manusiawi. Makhluk Allah mana yang tidak merasakan capek setiap hari setelah berjuang untuk menjemput rezeki, menggali ilmu, hingga untuk satu tarikan napas berikutnya. Bagaimana semua makhluk-Nya menyikapi hari barunya, itu yang menentukan akan seperti apa jam-jam berikutnya.

Jika bangun tidur dengan gerutuan, seharian akan terasa berat. Sebaliknya, apabila membuka mata dengan senyum dan rasa terima kasih, seberat apapun tantangan hari ini, akan dihadapi dengan perasaan lapang.

Tak mudah. Memang. Siapa yang bilang dan menjamin bahwa semua akan baik-baik saja? Allah. Hanya Allah yang menjamin.

Lihatlah hewan dan tumbuhan memulai hari-hari mereka dengan harapan bahwa rezeki sudah ditetapkan Allah. Bagaimana dengan manusia yang diberi akal? Berapa kali ketika bangun tidur, mengucap, “Misteri apa lagi hari ini? Bakalan ada apa hari ini?” Kemudian menggerutu panjang pendek saat menyadari gak punya pekerjaan, isi dapur kosong, dan anak sakit? Sudah merasa sempurna penderitaan di pagi hari?

Dulu, saya termasuk orang yang mudah jengkel dan mendadak bete ketika bangun pagi menyadari bahwa saya masih harus mencari pekerjaan, bagaimana pun caranya. Kirim via POS, via surel, sampai nitip pada teman. Apapun. Lucu ya, meski bete, tetap saja dilakukan. Soalnya butuh. Butuh apa? Duit? Duit buat apa? Makan. Makan supaya apa? Kuat kerja.

Kelar idup lo! Hahaha!

Gak gitu. Heup ah! Intinya, saya mengubah pagi saya, inshaa Allah lebih baik. Gak ngedumel bete kalau lagi jobless. Justru harus bersyukur, dikasih kesempatan istirahat sambil tetap ikhtiar mencari. Soalnya, kalau sudah dapat pekerjaan, biasanya sibuk dan rumah keteteran. Alias masak, nyuci, ngepel bisa kapan tau deh. Saya juga menikmati masa jobless dengan lebih banyak membaca buku dan mengasah hobi menulis agar otak tetap waras.

Dulu, rutinitas pagi adalah sarapan bersama Mama, meski hanya setangkup roti atau sepiring nasi goreng dan teh hangat. Mencium tangannya dan meminta restu agar berkah seharian. Sekarang, giliran krucil bangun pagi dan memelukku erat. “Morning, Mom! I love you!” Mereka berdua mengecup pipi saya penuh semangat.

Sekarang, rutinitas pagi saya bertambah. Rajin minum infused water agar hidup bisa seimbang. Kebiasaan makan junk food mulai dikurangi, jadi banyakin minum yang sehat-sehat aja. Makannya juga sekarang lebih banyak nasi merah dan havermut / oat. Nasi putih kalau pas ke warteg aja. Hehehehe…

Thank You, Allah.

Jadi, apa rutinitas pagimu?

Iklan

4 thoughts on “My Morning Routine”

  1. terimakasih atas tulisan ini, saya malu kalau hari ini bangun dengan kepala terasa sedikit berat, dan tulisan ini membuatnya lebih ringan dan lega. Saya ijin masukin blognya dalam feedreader saya ya 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s