Three Pet Peeves

Apa ya, hal paling menjengkelkan dari semua kucing saya di rumah?

Sebentar, flashback  ke puluhan tahun lalu, saat di Cirebon, mulai suka ada kucing ke rumah. Dulu sih, pokoknya bagian saya hanya main dengan kucing-kucing itu. Bagian kasih makan, tante. Bagian mandiin, sepupu.

Kucing di rumah aneka rupa. Ada betina dan jantan, berbulu warna-warni. Ada yang hanya putih, ada belang dua, ada belang tiga, ada yang coklat, ada yang kuning.

Kesayangan saya ketika kecil dulu, namanya Marsha. Belang tiga, cantik, penurut, lucu, dan bersih. Dia mati terlindas truk yang lewat di jalan raya depan rumah. Perih banget pas tau, ngeliat mayatnya ada di sebelah pembuangan sampah.

Ada kucing-kucing lain yang diberi nama unik oleh sepupu: Charles, Cynthia, Claudia, Clara, dan Cindy. Nasib kelima kucing tersebut, terpaksa dibuang jauh ke pasar karena tetangga marah. Soalnya 5C ini suka masuk rumah tetangga dan iseng. Huft!

Waktu di Depok, sama sekali gak ada kucing yang dipiara. Karena memang gak ada yang dateng ke rumah. Saya gak pernah adopsi, gak pernah beli, gak pernah dikasih. Selalu mungut dari jalan.

Saat ini, di Bandung, ada kucing-kucing yang diambil krucil dari jalan. Tamtam, Sapi, Pipi, Sasa, dan Mitmit. Sebelumnya pernah ada Mutmut, Kobeng, Tumtum, Timtim, Putri, Aslan, dan banyak lagi. Lupa deh siapa aja. Ada yang mati karena sakit, yang pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan, dan yang pergi lama trus balik lagi cuman buat minta makan. Dih!

Saya paling jengkel kalau semua kucing itu :

  1. Naik ke kasur, langsung dari luar. Itu kaki bawa jutaan kuman. Apalagi kalau tanah habis hujan. Hadoh! Belum lagi berakhir dengan pup atau pepsi atau muntah di kasur. Rasanya mau tarik ekor mereka sampe putus. Kesel!
  2. Rebutan makanan seolah gak bakalan kebagian. Padahal udah ada jatahnya semua. Keplakin kepalanya satu-satu. “Bunda udah kasih sama rata, sama banyak. Nurut semua atau diambil lagi makannya!” Pada diem dah.
  3. Lari-larian di dalam rumah, seolah lapangan sepakbola. Kalo nyenggol kursi, meja, dan lainnya, diem sebentar trus lari-larian lagi. Kadang, lagi enak makan atau minum, kesenggol atau keinjek mereka yang lagi kejar-kejaran. Aaaaarrrggghhh…

Tapi, biarpun sering ngeselin, mereka semua ngangenin. Apalagi, kalau ada yang sakit atau mati. Sediiiihhh banget! Sampe, saya suka berbisik pada mereka, “Nanti, kalau kamu mati, trus ditanyain Allah, apakah yang sudah Bunda lakukan padamu, bersaksilah. Love you!” Kemudian saya cium wajahnya. Trus saya dapat pelukan atau gelendotan mesra mereka.

Udah, ya. Mau main sama anak-anak berbulu dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s