My Earliest Memory

Saya tipe pelupa. Jangankan untuk sebuah kejadian yang pernah ada di sepuluh tahun ke belakang, apa yang terjadi minggu lalu saja saya bisa lupa semua.

Tetapi jika ada satu hal yang bisa membuat saya ingat siapa saya pertama kali, kejadian apa yang pertama muncul di ingatan yang saya ingat hingga hari ini adalah…

Pulang entah dari mana, naik becak, lupa dengan siapa, yang pasti bertiga.

Tahunnya sekitar 1984. Naik becak pulang menjelang sore hari. Saya duduk di tengah, karena badan kecil dan ogah dipangku. Sekitar 10 meter dari belokan ke kiri mau ke gang rumah (Saya bahkan lupa nama gangnya!), sandal saya lepas. Saya agak teriak, “Mang, sendal jatoh itu!” Becak berhenti dan mengambil sandal saya. “Makasih, Mang,” saya nyengir. “Lagian pake sendal gak bener.” Asli lupa ini siapa yang ngomong. Mungkin Mama. Saya nyengir lagi.

Di belokan ke kanan masuk gang rumah, saya menengok ke rumah di hook, sambil berharap yang ada di becak gak ngeh. Di rumah itu, ada cowok (mungkin sekitar usia 17 tahun, entah) sedang mencuci mobil jeep warna biru/hijau. You know kan ya gimana bentuk jeep tahun 80an? Cowok itu menoleh ke arah becak dan tersenyum. Saya membalas senyumnya. Saya baru sadar sekarang, dulu saya udah centil juga ya? Hahahahaha… Parah!

Itu adalah kejadian pertama dalam hidup yang saya ingat sampai sekarang. Saya berusaha keras mencari ingatan sebelum adegan sandal jatuh itu. Gak ada lagi.

Ingatan ini ada di sebuah gang di daerah Klayan, Cirebon. Adik saya baru berusia setahunan. Di gang itu pula, saya terkenal sebagai anak bangor, keras kepala, gak mau kalah, meski gak pernah bully anak lain. Saya berani sama anak laki lain. Saya sering main sama anak laki. Makanya terbiasa main fisik. Gontok-gontokan, tendang-tendangan, dan rebutan mainan. Tetapi sekalinya main dengan anak perempuan, saya yang sudah memiliki setting tomboy, menjadi terlihat terlalu galak dan kuat untuk mereka. Duh, euy.

Saya ingat, beberapa lama setelah kejadian sandal itu, saya ingin main gitar-gitaran punya teman. Tapi saya tidak tahu itu punya siapa. Mainan itu sedang cukup beken karena beberapa anak tetangga lain juga punya. Ya, saya main dong. Sedang tergeletak begitu saja. Baru juga mau genjreng-genjreng, terdengar suara anak perempuan menangis kencang. Katanya, “Maenan aku diambil An-an.” Mukaku datar dan bingung tapi cuek, melanjutkan main. Tangisan anak itu makin kencang. Ibu anak itu, karena sedang melayani pembeli warungnya, meminta gitar itu pada saya dan tidak saya kasih. Akhirnya, seorang ibu datang tergopoh-gopoh membawa gitar yang sama. “Ini, kamu main yang ini aja.” Si anak perempuan itu masih nangis kejer. Si bitu yang membawa gitar mendekati saya, “An, mau tukeran?”

Saya, dengan tatapan dingin cuek (halaaaahhhh) menggeleng dan menaruh gitar yang saya pegang itu ke lantai. Keinginan main sudah menguap. Saya pulang ke rumah dengan selow.

Ngeselin? Banget! Hahahaha!

Tapi saya ingat, ada satu anak, tubuhnya kecil dan ringkih (beda dengan tubuh saya yang bongsor dan sok kuat), justru senang berteman dengan saya. Sering main ke rumah. Namanya Ai. Ibunya juga sering ngobrol dengan Mama. Kenapa dia senang main dengan saya? Entah. Saya jarang ke rumahnya. Dialah yang sering datang ke rumah. Padahal teman dia itu banyak. Kenapa memilih menemani saya?

Sejak kecil, saya sulit bergaul. Terutama dengan anak perempuan. Namun jika anak laki yang mengajak main, saya semangat. Meski begitu, saya tak punya teman dekat lain selain Ai. Ketika saya pindah rumah, seketika itu pula kontak saya dengan Ai terputus.

Rasanya ada foto saya berdua dengan dia, tapi entah di album foto yang mana dan ditaruh di mana.

Nah, karena menulis tentang earliest memory, saya baru sadar. Saya memang aneh sejak kecil.

Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s