5 Problems With Social Media

Oke, ini tampaknya masalah bagi beberapa orang yang memiliki gawai masa kini.

Merunut lagi beberapa waktu silam, ketika saya mulai berkenalan dengan Friendster, salah satu media sosial lawas di tahun 2003(?). Saya sendiri lupa kapan persisnya. Kemudian Multiply. Lalu Facebook. Berturut-turut Twitter, Plurk, Path, Line, Instagram dan Telegram.

Mengawali dunia sosial di ranah maya, saya lebih dulu belajar  chat melalui Yahoo! Messenger sejak awal 2000an, mIRC sejak 1999, dan forum diskusi semisal di rileksdotcom.

Tidak semua media sosial saya aktifkan, meski memiliki akun di banyak media tersebut. Bahkan, salah satu media sosial yang sempat diklaim sebagai pesaing Twitter, yaitu Subjot, hanya saya pakai tak lebih dari setengah tahun.

Saya juga sempat sok kekinian dengan membuat akun Periscope (sebelum dicolek Twitter untuk bersatu *halah) dan Snapchat. Bertahan sebulan sebelum akhirnya saya depak dari ponsel.

Kini, saya hanya mengaktifkan Twitter, Facebook, Line, dan Telegram. Tentu saja di luar WhatsApp yang saya gunakan untuk komunikasi aktif hampir 18 jam. Bagaimana dengan BBM? Media chat ini sudah semakin jarang saya pakai.

Bagi saya, masalah dengan media sosial lumayan banyak. Not to mention, ngabisin data internet.😂 

Pertama, jelas masalah kecanduan. Ini ternyata lebih bahaya dari kecanduan kopi. Perlahan, otak berpikir dengan pola yang berubah drastis. Akhirnya, temperamen saya yang sudah dicap jelek karena bipolar semakin tak karuan . Itu sebabnya saya mulai mengurangi kecanduan ini.

Kedua, lack of communication with real people. Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Masa kecanduan terparah saya di tahun 2013-2014, ketika saya sibuk dengan gawai, anak-anak terlantar. Bahkan si bungsu pernah saya marahi karena dianggap sebagai gangguan. Ketika akhirnya dia bilang sambil nangis, “Bunda lebih datang laptop”, seketika itu juga saya merasa diempaskan ke jurang. 

Ketiga, kehilangan waktu membaca buku. Iya, saya bodoh. Media sosial menjerat saya hingga rasa kepo menguasai. Kemudian, ada yang tanya, “An, udah berapa buku kamu baca minggu ini?” Saya hening dan terenyak. Gosh! 

Keempat, kesehatan menjadi jelek. Di poin pertama, mental saya berantakan. Nah, ini soal fisik. Mata semakin mudah lelah. Jantung kadang nyeri. Pinggang dan punggung pegal. Internet jahat. Kata saya.

Kelima, saya menjadi banyak tahu hal yang seharusnya tak perlu saya tahu. Less is better. Ini asli nyebelin. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan orang. Semakin banyak drama di media sosial, membuat saya seperti 😓:?😒😪😨😰dan bergumam, “Harusnya gue gak baca.” 

Sekarang, saya mengurangi kecanduan media sosial dan mulai kembali belajar hidup seperti sebelum punya E-mail . Menikmati dunia.

Hmmmm… Kapan kita ke mana?

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s