Masa Panen Raya dan Paceklik Freelancer

Namanya juga manusia, gak pernah ada puasnya, gak pernah ada berhentinya mencari.

Ada kerjaan, capek. Gak ada kerjaan, ngeluh.

Ada duit, bingung. Gak ada duit, bengong.

Jadi sebaiknya gimana, dong? Tetap bekerja atau pekerjaan tetap?

freelancer

Di tengah semrawutnya pikiran dan lompatan-lompatan ide tak beraturan, serta ketiadaan pekerjaan yang justru membuat jiwa raga semakin lelah, saya menghabiskan banyak waktu selama hampir 3 minggu ini dengan membaca. Kembali membeli koran dan buku. Terkadang membaca rangkaian huruf dan angka yang mungkin tak akan menarik bagi yang lain seperti halaman terima kasih di sebuah buku atau iklan baris peninggi badan di koran.

Seorang tenaga paruh waktu atau freelancer, ketidaktetapan penghasilan karena memang tergantung pada proyek dan keberuntungan. Setidaknya bagi saya dan beberapa orang yang saya kenal.

Sekalinya ada proyek, kerjaan bisa sampai begadang, lupa mandi, telat makan, dan rumah semakin berantakan. Hasil kerjanya tentu saja harus memuaskan klien, karena itu berpengaruh pada proyek selanjutnya atau rekomendasi untuk calon klien lain.

Sekalinya tanpa proyek, bukan bilangan hari menganggur. Berminggu-minggu dan kadang berbulan-bulan. Kalau suda begini, kepala bisa makin sakit. Bukan karena pusing mikirin gimana cara bayar cicilan panci semata, tetapi lebih karena ide di kepala tak tertuang dan tersalurkan. Penuh dan menumpuk begitu saja di ruang kreasi otak.

Jika sedang mengerjakan proyek, merasa lelah itu wajar. Tetapi karena kerjanya dengan hati riang, jadi tetap semangat. Nah, ini yang membuat sebagian pekerja paruh waktu terlena. Dia (dan juga saya) harus menyiapkan portofolio untuk proyek selanjutnya, mencari klien baru, dan ‘menjual diri’ demi tetap eksis dan bertahan sementara masih mengerjakan proyek.

Saya, pernah kepedean akan langgeng di sebuah perusahaan. Yakin banget itu klien bakalan pake jasa saya untuk jangka waktu lama. Nyatanya? Saya dikeluarkan dari sana tanpa alasan. Bingung, kan? Sudah tanya ke teman-teman satu tim, salah saya apa? Kekurangan saya apa? Mereka malah gak ngerti. Mereka bilang pekerjaan saya bagus dan rapi. Tapi, “Bos emang gitu. Kalo prilen udah pinter kerjanya, ya ditendang. Mungkin karena gak mau naikin fee kamu, Mbak. Mending cari newbie aja yang bisa dibayar murah.” Ealah.

Tapi saya gak mau larut dalam sedih (halah) dan memetik pelajaran berharga dari sana. Jangan terlena. Jangan terbuai. Jangan lengah.

Bagi saya, sebagai pekerja paruh waktu, penting untuk tetap bisa ‘menjual diri’. Caranya cukup sederhana, menulis sesering mungkin. Ditambah dengan berinteraksi dengan semakin banyak orang. Tak hanya dengan lingkungan penulis (yang dulu lebih sering saya lakukan dan ternyata membuat persaingan dunia menulis semakin jenuh dan sumpek), saya belajar mencari kenalan di bidang lain. Saya berkenalan dengan dokter, teknisi, praktisi hukum, apoteker, jurnalis, tukang masak, pengamat politik, guru, dan siapa saja.

Jika ditanya oleh mereka, “Pekerjaanmu apa, An?” maka saya menjawab, “Menulis. Freelance.” Mereka pasti akan mengajukan pertanyaan kedua, “Tentang apa aja sih biasanya?” Saya menjawab, “Tergantung pesanan. Sering tentang dunia cowok dan cewek, parenting, traveling, health, relationships, dan terkadang diminta trending news.” Ujungnya, mereka pasti akan menanyakan rate card saya. Untuk hal ini, saya meminta mereka untuk melanjutkannya via surel.

Mungkin bukan mereka yang akan memakai jasa saya. Biasanya memang, mereka punya kenalan atau info, “Ada temen gue nyari content writer nih, An.” Atau, “Lu masih jadi social media admin, An? Gue ada klien nih.” Asyik, ya?

freelancer

Iya, serunya adalah saya jadi memiliki jaringan pertemanan baru. Bahkan, meski tak sering, saya dihubungi oleh pihak yang mewakili brand tertentu dengan bahasa pembuka, “Hai, Mbak Andi. Saya X dari perusahaan Y yang handle brand Z. Saya tahu kontak Mbak dari A (atau malah hasil stalking di medsos saya). Ada undangan untuk blogger nih. Mau, gak?”

Jadi, sekali lagi, ‘jual diri’ itu penting.  Jangan lupa perbarui rate card dan intip harga terbaru dengan bisik-bisik pada teman yang juga berprofesi serupa dengan kita. Jangan sampai kudet, ya!

Percaya deh, rezeki gak akan tertukar. Gak akan ke mana-mana. Tapi bakalan ilang kalau kamu gak bergerak mengambilnya. Jadi, tetap berusaha yang terbaik.

Ingin rasanya menjadikan masa panen raya dan paceklik freelancer  (terutama saya) menjadi menyenangkan. Dunia semakin cepat berubah. Maka, bila kau tak mengikutinya, kamu akan terlindas zaman.

Salam!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s