Ke Mana Perginya Masa Lalu?

Terkadang, saya jengah bila disodori notifikasi dari Facebook -> “You have memories with X,Y,Z.” Sering saya melewatkannya agar tak terlihat oleh kedua mata ini. Terkadang saya sedikit penasaran, membukanya, kemudian menutup laman Facebook seolah tak pernah membacanya.

Bagi saya, masa lalu cukup ada di belakang saja. Tak perlu ikut ke masa depan. Meski memang, masa lalu membentuk saya yang sekarang. Saya ingin lepas dari masa 2003-2011 (sedikit di penghujung tahun 2014) selekasnya. Saya butuh 4 tahun lagi untuk bebas dari bayangan itu.

Saya berterima kasih pada masa lalu yang banyak mengajarkan banyak hal. Terkadang, saya beruntung memiliki ingatan pendek. Saya tak perlu repot mengenang masa lalu. Ajaibnya, jika krucil bertanya sesuatu seperti, “Dulu eyang kakung kerjanya gimana, Bun?” Kerinduan saya kepada Bapak membuka semua kenangan masa kecil dengan lengkap dan cerita saya membuat krucil memiliki bayangan tentang eyang kakung mereka.

masa lalu
memories

Repotnya, karena ingatan pendek, ketika saya ingin mengingat beberapa hal, tapi tak ada satu pun yang muncul di memori kepala, membuat saya bertanya heran, “Ke mana perginya masa lalu itu?”

Saya lebih banyak perihnya membaca status Facebook 2-6 tahun ke belakang. Tagging orang lain untuk saya, alhamdulillah, semuanya menyenangkan. Saya bisa tersenyum. Tapi seketika senyum saya menghilang kala membaca status yang menyertakan nama akun orang lain. Karena pastinya, memori itu akan muncul juga di notifikasi mereka.

Kemudian saya berpikir, “Apa yang mereka rasakan ketika membaca kenangan bersama saya itu?” Meski, kebanyakan status dengan tagging itu bukan berisi hal buruk, tapi saya merasa masa lalu sedang menertawakan kebodohan saya.

Oh, thank you, Facebook. You make my past time seems so bad. But then, I read it:

You can’t look back – you just have to put the past behind you, and find something better in your future.

— Jodi Picoult

 

So, I prefer to smile and walk away. Masa depan, semenakutkan apapun, akhirnya akan datang. Maka, ketika ada di masa depan, saya bisa berkata, “Been there done that. I still survive.” 

Hidup ini indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s