Ketika Ketakutan Saya Diingatkan Kembali 

Judulnya mungkin lebay. Norak. Tapi saya baru sadar ketika hari ini saya kembali teringat pada seseorang. 

Nuniek Tirta
Post Instagram Nuniek Tirta

Berawal dari post Mbak Nuniek di IG, saya terdiam lama. Bukan karena bingung mau menyebut nama siapa, tetapi karena merasa Allah menarik kesadaran saya. Saya tetiba memikirkan satu nama. 
Saya ikut komen, bukan faktor hadiahnya. Murni, saya ingin sekali berterima kasih pada orang tersebut. 

Aria, namanya beberapa kali muncul di blog ini. Seorang arsitek asal Kalimantan yang kini sedang mengembangkan sayap bisnisnya di Bogor. 

Seolah hari ini jam berputar lambat bagi saya. Ketika hujan deras pada jam makan siang, saya pikir sudah menjelang maghrib. Hari yang lumayan mendistraksi saya dengan berbagai hal.

Saya ketakutan tentang beberapa hal. Saya memegang kaki dan meringkuk sambil menangis. Saya bingung harus bagaimana.  

Setelah maghrib, saya menonton kembali film 🎥 PK yang dibintangi Aamir Khan. Film tahun 2014 itu menyisakan pertanyaan bagi saya. Persis skenario di dalamnya. 

Tuhan tak perlu dilindungi. Dia bisa melindungi diri-Nya sendiri. 

Lantas saya menemukan post Mbak Nuniek itu. Hubungan dengan film PK, apa? 

Ketakutan saya. Ketidakberdayaan saya. Kelemahan saya. Hingga di titik paling rendah dan hina, saya sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. Saya lah yang harus berlindung kepada-Nya. 

PK bilang bahwa manusia hanya butuh menyembah satu Tuhan, yang menciptakannya. Bukan Tuhan ciptaan manusia yang harus disembah. 

Aria di Instagram
Respon Aria di Instagram

Saya pernah bilang bahwa saya ketakutan. Maka Itulah jawaban Aria. Sederhana. Mengena. 
Setiap saya merasa down dan menggigil sehabis shalat tahajjud, mendoakan Aria dan para sahabat menjadi semacam mood booster. 

Mereka yang mengenal saya luar dalam, bahkan lebih paham lompatan – lompatan pikiran saya daripada saya sendiri, tahu bahwa saya butuh lebih dari sekadar berjuang hidup. Saya jungkir balik untuk tetap waras. 

Menulis seperti ini, menenangkan saya. Mendoakan mereka, membahagiakan saya. Hal remeh seperti ini di mata orang normal, perjuangan untuk saya. 

Aria berpikir saya lebih optimis sekarang. Alhamdulillah, ya. Delapan tahun sejak Aria bilang itu, menjadi perjalanan luar biasa untuk saya. 

Sukses secara materi memang belum. Tapi saya merasa sukses bisa mulai berani mengambil keputusan sulit. 

Untuk semua itu, saya sangat berterima kasih pada Aria. 

God pushes us
God pushes us

Dan karena post Mbak Nuniek, saya berterima kasih juga pada wanita cantik berhati baik itu. Saya diingatkan untuk bersyukur kembali. 

Kepada Allah, yang kepada-Nya saya sangat membutuhkan, segala keajaiban itu datang dan mengubah hidup. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s