Seberapa Dalam Rindu dan Cintamu Pada Rasulullah?

Pagi. Membuka Twitter. Menemukan satu twit yang melecehkan guru agama saya, K.H. Abdullah Gymnastiar, biasa disapa Aa Gym. Twit apa? Silakan cari. Sudah banyak beredar di akhir bulan Oktober 2016 ini.

Sedih. Ya. Sakit hati. Banget. Tersinggung? Yup. Tapi alih-alih marah, saya mencoba kembali kepada diri sendiri. Berkelana di alam pikiran sendiri. Sudahkah saya mencintai Rasulullah sesuai adab? Sudahkah saya menghormati para ulama sebagai penerus ilmu beliau? Patuh para umara yang mengikuti cara Rasulullah memimpin, sudahkah saya?

Kemudian, saya berceloteh sendiri. Monolog. Sambil sesekali beristighfar. Sungguh, cinta saya masih tersangkut di tenggorokan. Sanubari saya masih kotor. Jiwa saya masih mencari selain beliau. Hingga, kerap saya masih melakukan dosa-dosa kecil secara sadar maupun tidak.

“Aku mencintai Rasul dengan cara sendiri.” ehm. Cara yang dicontohkan beliau atau cari pembenaran sendiri? 😉

Saya bertanya kepada diri sendiri. Berikut twit-twit saya:

  1. Rasulullah memanggil ummatnya sebelum wafat. Tanda beliau sangat sayang pada mereka yang dilihat sehari – hari dan yang ada di masa kini.
  2. Rasulullah, dengan seizin Allah tentu saja, mengetahui bagaimana kondisi ummatnya kelak. Beliau memikirkan. Beliau cinta.
  3. Tapi ternyata, saat ini, terlalu banyak yang mengaku ummatnya. Hanya mengaku. Tidak disertai tindak tanduk sesuai ajaran Rasulullah.
  4. Saya, salah satu yang masih harus banyak belajar mencintai Rasulullah dengan sebenar – benar cinta berbalut taqwa.
  5. Pernahkah kamu, mencintai seseorang melebihi cintamu pada anak, istri, dan suami? Cinta tanpa syarat. Hanya berisi kepatuhan semata.
  6. Makan seperti Rasulullah. Minum seperti beliau. Tidur, mandi, hingga urusan muamalah telah diajarkan Rasulullah. Sudahkah kamu ketahui?
  7. Jika sudah tahu semua cara hidup harian Rasulullah, sudahkah dipraktikkan? *sambil ngaca
  8. Banyak yang ngaku cinta Rasulullah, tapi terang-terangan melecehkan, menghina, menyakiti beliau. (pastilah saya juga, dengan tak sadar).
  9. Perih jika ingat betapa Rasulullah mencintai saya, tapi apa balasan saya pada beliau? Bagaimana bisa saya mengaku cinta tanpa rasa hormat?
  10. Setiap mendengar berita kematian, saat itu pula terbaik untuk sadar dan ingat bahwa Allah bisa memanggil makhluk-Nya kapan saja.
  11. Misteri terbesar adalah, apakah kamu akan mati dalam keadaan mencintai Rasulullah atau sebaliknya? *self reminder*
  12. Sudahkah kamu mematuhi Rasulullah tanpa tapi, seperti kamu tunduk pada resep dokter saat sakit?
  13. Sudahkah kamu menghujani Rasulullah dengan shalawat seperti kamu doakan keluarga di rumah?
  14. Saya masih banyak salah dan dosa. Mengaku ummatnya tetapi masih sering abai dengan sunnah beliau. AstaghfiruLlah… 😞
  15. Di akhirat nanti, kamu akan dikumpulkan dengan orang yang kamu cintai. Maka, cintailah Rasulullah agar kelak bisa bersama beliau.
  16. Itu pun, jika memang kamu mencintai beliau sepenuh jiwa. 😊 Kembali lagi, benarkah kamu termasuk ummatnya? Waullahu’alam.

Benarkah saya merindukan Rasulullah? Benarkah saya ingin benar-benar bertemu dengannya di jannah nanti?

Jika saya mencintai Rasulullah, tentu tak akan menyakitinya dengan cara melecehkan para ulama penerus ilmu beliau… Sebenar-benar ilmu dari Rasulullah.

Perbanyak istighfar.

Tak pernah tahu umur sampai kapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s