Mengapa Teknologi Baru Semakin Berumur Pendek?

Saya bukan ahli kimia, biologi, fisika, atau matematikawan. Bukan. Saya hanya seorang perempuan biasa yang sering jengkel dengan rapuhnya teknologi yang-katanya-canggih-tapi-bikin-boros-kantong.

Contoh sederhana, peralatan masak di dapur. Daftarnya mungkin bisa panjang, tetapi saya hanya memberikan beberapa. Misal: pisau. Sampai saat ini masih ada pisau yang pernah dibeli almarhumah Mama di zaman 90an. Masih bisa dipakai jika diasah. Gagangnya saja patah entah kenapa, lupa. Lalu saya membeli sebuah pisau tahun lalu. Dengan cara pakai yang sama, pisau baru justru lebih sering terasa tumpul. Gak tau deh. Pegel mengasahnya, saya beli baru lagi.

Kedua, fry pan 18 cm saya beli dua tahun lalu. Dua bulan lalu saya hibahkan pada abah sampah RW dengan satu alasan :  gagangnya patah. Lebih tepatnya, sambungan gagang dan pan longgar. Suatu saat hendak saya pakai. Jatuh karena ternyata gagangnya lepas. What? Mereknya K. Saya beli di Mutiara Kitchen Ujung Berung.

Saya menoleh pada fry pan 16cm merek Maxim yang dibeli Mama di tahun 90an. Masih awet. Lapisan teflonnya saja sudah terkelupas. Tapi masih bisa menghasilkan masakan enak, menurut saya. Dua bulan lalu saya beli merek Maxim juga demi membuktikan ketangguhan teknologi sekarang. Minggu ini, gagangnya mulai goyang. WTF. Pemakaian normal, lho.

worst technology
via Forbes.com

Sepatu. Dulu, saya beli sepatu bisa awet 4-5 tahun. Sudah termasuk nginjek lumpur, keujanan lupa dicuci, kepanasan, bla bla. Sekarang? Enam bulan sudah tak layak pakai.

Sandal. Sama saja dengan sepatu. Kalau beli yang murahan, okelah wajar. Lah, beli yang mahal dengan harapan akan sekokoh batu karang (oh, salah), ternyata … Usianya belum genap 6 bulan pun. Rapuh nian.

Pensil. Dulu, diraut sedikit, sudah runcing dan tak mudah patah. Sekarang, diraut berulang kali karena selalu patah. Akhirnya jadi boros. Kudu nyetok. Duh, lemah sekali kayak hati ababil.

Celana panjang. Baru dua kali pakai, ada saja bagian jahitan yang terlepas. Perasaan gak dipake buat jungkir balik, deh. Satu celana baru beli bulan lalu. Saya terpana melihat kualitas jahitan yang ah-yang-penting-laku itu.

Saya punya satu jaket yang dulu dibeli sebagai hadiah naik kelas ketika SMP! Sampai sekarang masih saya pakai, jahitan masih kuat. Meski bagian karet sudah mengendur, tapi ternyata masih memberikan kenyamanan yang hampir mirip dengan awal membelinya dulu. Jaket kelas IPS SMA juga masih awet. Seneng deh! Nah, tahun 2014 beli jaket baru di Bogor. Mau ngetes, sampe kapan tahannya. Sengaja sering dipake.

Pernah punya magic jar merek Cosmos dan awet sampai nyaris 10 tahun. Sebenarnya masih bisa dipakai. Masih enak nasi hasil masaknya. Hanya karena kabelnya terbakar dan saya takut (iya ih, parnoan), saya berikan pada abah sampah (lagi). “Lho, masih bisa dipakai, Bunda?” Saya mengangguk. “Sayang atuh?” si abah masih bingung. “Gak apa-apalah buat Abah. Barangkali ada yang bisa benerin kabelnya. Sekalian. Saya ada yang baru.”

Dan ya, saya membeli yang baru. Mereknya sama. Tetapi…. Baru dua bulan, thermofuse-nya rusak! WTF! Asli bingung. Pemakaian normal. Setiap hari dicuci, dibersihkan, dan dirawat dengan baik. Kok begini?

Akhirnya, saya berpikir. Ada yang salah dengan teknologi sekarang. Harga semakin mahal, kualitas katanya semakin canggih, nyatanya tak lebih baik dari barang produksi “pertama” alias sebelum tahun 2000. Dan itu artinya… Timbunan sampah plus bangkai teknologi semakin menggunung. Tak bermaksud boros, nyatanya mutu barang hanya bisa dikasih nilai 3 dari 10.

Ya sudahlah, kali ini junk post benar-benar efek penasaran tak berkesudahan. Haish.

Have a nice weekend!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s