Patah Hati Itu Seperti Jatuh Cinta : Biasa Saja

Bangun pagi hari ini, perasaan seperti sedikit terusik. Entah mengapa. Tetapi perasaan saya seperti kosong. Pikiran entah melayang ke mana.

Ritual pagi bersama anak-anak berkaki dua dan berkaki empat berbulu (ha, ini menyenangkan lho!)

Cuaca mendung. Tetapi hawanya hangat. Saya merasa hari ini akan dilalui dengan perasaan tenang dan pikiran lapang. Apalagi, ada surel balasan dari seorang calon klien yang menawarkan fee SANGAT MURAH untuk sebuah artikel. Saya menolaknya. Bukan, bukan hanya karena nilainya yang terlalu ‘kurang ajar’ menurut saya, tetapi secara hitungan, gak akan balik modal juga jika mengerjakan tugasnya. Saya tersenyum dan berterima kasih.

Berterima kasih pada Allah, meski saya diberikan klien bawel, rewel, dan agak pelit, tetapi darinya saya belajar arti menghargai waktu, disiplin pada diri sendiri, menambah pengalaman menulis di beberapa tema yang belum pernah saya colek sebelumnya, plus berkenalan dengan banyak orang hanya melalui internet.

Kemudian, saya bersiap bekerja seperti biasa. Saya membuka laptop dan melihat komentar yang masuk melalui blog. Hey, hari ini kan HARI BLOGGER NASIONAL! YAY! *penting banget buat saiyah!

Kemudian, saya membuka WhatsApp karena membaca komentar blog. Serbuan beberapa notif WA yang dua minggu tak dibuka itu perlahan saya baca semua. Hingga terpaku di satu notif. Seketika membuat pagi menjadi lebih mendung dari warna langit sebenarnya.

“Gimana?” tanya seseorang itu di WA. Saya terpana.

Dulu, saya terbiasa emosi jika mendapatkan pertanyaan senada. Kini, saya membiarkannya mengendap. Sehari. Dua hari. Hingga tenang dan bisa berpikir jernih. Hati boleh panas, kepala harus tetap dingin.

Bukan sekali ini, dia bertanya hal begini. Sebelumnya dia pernah memperlihatkan foto seseorang dan berbisik, “Calon gue nih. Doain ya?” As a good friend and as lovely sister, saya tersenyum dan menyahut, “Terbaik untuk lu, gue doain semoga Allah beri jawaban yang pas untuk lu.”

Pun hari ini. Ketika doa-doa tahajjud menyebut namanya dengan tulus, dijawab lagi oleh-Nya, sebuah berita (yang sebenarnya biasa saja).

Saya mencintainya. Dia sahabat saya. Saya mengenalnya sejak dia bukan siapa-siapa. Bagaimana dia berjuang menemukan passion yang pas, jungkir balik melakukan hal yang menurutnya benar, dan akhirnya hingga bisa seterkenal sekarang.

Saya sayang padanya. Tawanya adalah kebahagiaan saya. Dukanya menjadi kepiluan saya juga. Ketika ayahnya wafat, saya mendoakan dari jauh dan mohon maaf tak bisa ada di sampingnya. Ketika dia memamerkan paspor pertamanya, saya mendukungnya. “Gue sumpahin lu jadi Ibnu Battuta modern!” Ketika dia marah pada seseorang karena tersinggung, saya diam tak berkomentar. Cukup menjadi telinga baginya.

Dua minggu lalu, saya menonton lagi film Kuch Kuch Hota Hai setelah kelar kerja. Film berdurasi 3 jam itu selalu sukses membuat bokong saya panas dan leher pegal. Tapi tak pernah bosan untuk memutarnya kembali. Dan… Saya teringat Rahul berkata, “Cinta adalah persahabatan. Jika dia tak bisa menjadi sahabatku, maka aku tak mungkin mencintai dia.”

Tahukah kamu? Ibunya Rahul pun berkata menjelang film itu berakhir, “Laki-laki sangatlah rapuh. Mereka membuat prinsip. Tetapi mereka lupa, jika cinta tak punya prinsip.”

Sahabat saya itu juga yang selalu menanyakan kabar entah via WA, telepon, inbox FB. Bahkan dia pernah menelepon sangat lama hanya untuk meyakinkan saya baik-baik saja dan batal bunuh diri. Hahahaha! Tapi akhir-akhir ini dia sedang super sibuk sehingga saya memakluminya. Aktivitasnya semakin padat. Tapi saya yakin dia baik-baik saja. Dia orang yang sangat peduli kesehatan.

Saya selalu berusaha memisahkan persahabatan dan perasaan pribadi yang (sialnya) kadang berkembang seiring waktu. Makanya, saya selalu berusaha mencari cinta di luar, makin jauh makin bagus. Minim rasa patah hati, gak ada ruginya, dan berakhir pertanyaan dari Fira, “Itu cowok yang mana lagi, An?” Saya terkekeh.

Teman saya yang lain bertanya, “Mbak, ngapain nyari yang jauh kalo ada yang dekat?” Saya tersenyum tipis. Saya tau siapa yang dia maksud. Tetapi saya diam. Saya tahu, saya dan sahabat yang satu ini tak akan pernah bisa berjodoh. Bedanya seperti minyak dan air. Mana bisa bersatu? Eh, teman saya yang lain lagi malah berseloroh, “Bisa aja, di kuah sup ayam. Bikin sehat. Enak, kenyang, jadi daging!” Dodol!

Saya yang slebor dan berantakan hendak disatukan dengan dia yang agendanya saja dibuat per hari, per minggu, dan per bulan? Bisa stres dia ngadepin saya yang tak pernah punya agenda. Hiahahahaha!

Kembali pada permasalahan pagi ini yang membuat saya sakit kepala. Saya menatap foto perempuan itu lama. Berulang kali. Hingga akhirnya saya bertanya retorik, “Mampukah gadis ini mendampingi sahabat saya?”

Apapun keputusannya, saya mendukung. Karena saya sahabatnya. Saya mencintainya seperti saudaranya sendiri. Saya patah hati, karena akan ada yang merebut perhatiannya. Saya cemburu. Saya tak mau melihatnya sedih dan kecewa. Jika hal itu terjadi, saya akan omeli perempuan mana pun yang merasa sudah memenangkan hatinya.

Karena saya mencintainya.

Selamat Hari Blogger Nasional! (isi blog hari ini kenapa begini ya?)

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s