Pertanyaan Mengejutkan Selepas Maghrib

Saya menerima sebuah surel. Lagi.

Akhir-akhir ini, beberapa orang mengirimkan surel hanya untuk curhat. Sebagian hanya untuk melegakan perasaan dan pikirannya, sebagian lagi membutuhkan solusi.

Saya membacanya sambil berusaha menempatkan posisi menggantikan si pengirim surel.

Entah bagaimana, saya merasa dingin menusuk setiap membaca surel yang masuk, karena seolah sayalah yang mengalami masalah itu. Jadi, surel terbaru ini saya baca saat ada dua orang juga yang bercerita mirip.

mom and daughter
mom and daughter

Teh An,

Kemaren tuh, aku ke pengajian. Trus, kenalan sama beberapa orang baru. Ada bapak-bapak, mas-mas, mbak-mbak, dan ibu-ibu. Iya, lengkap. Rame.

Trus, tau-tau ngomongin jodoh. Duh, sebel deh. Si ibu bilang, ‘ Ini lho, Sinta. Single fighter dia sekarang. Anak baru satu.’ Eh, diceletukin ama satu bapak. ‘Wah, apakah sudah siap berjuang kembali?’ Aku kan langsung nyengir salting, Teh. Tau dong maksudnya berjuang kembali itu apa?

Nah, pas mau pulang ba’da maghrib, si bapak yang nyeletuk tadi nanya, ‘Pulang ke mana, Sinta?’ Kujawab aja Petojo. Si bapak tampak kaget dan kayak merasa kasihan sama aku. Iya, jauh. Emang. Tau-tau dia ngasih uang sama Ina, anakku. ‘Jadi anak shalihat ya, Nak?’

Iya, ini ngalor-ngidul jadinya, Teh. Sedih dan malu. Ina tampak sumringah dapat uang, kaget karena jumlahnya besar. Akunya malu karena itu baru pertama kali ketemu. Oh ya, wajah si bapak itu (duh, lupa namanya) mirip sama ustaz yang dulu sering ketemu itu lho, Teh. Ustaz Ilham dari Parung itu lho.

Aku kepikiran sama pertanyaan itu, Teh. Berjuang kembali. Menikah lagi. Ditanya begitu pas mukaku lagi kusut kusam dan butek banget. Yah, kesannya kesepian amat ya? Padahal capek abis jalan jauh. Eh, nyambung gak, Teh?

Teteh tau lah ya, maksudku gimana.

Udah ya, Teh. Terima kasih udah mau baca. Cuman mau ngeluarin unek-unek aja. Gak usah kasih solusi. Ini bukan masalah berat. Hahahaha.

Dari Petojo.

Sinta.

Saya terpana membacanya. Mungkin keliatannya biasa bagi pembaca lain. Gak bagi dia. Sinta selalu serba salah ditanya suaminya mana, bapaknya Ina mana, atau langsung tembak siap nikah atau gak. Kenyamanan tujuh tahun tanpa suami membuatnya menjadi lebih mandiri. Benar-benar berjuang sendiri.

Saya yakin, Sinta masih kepikiran pertanyaan itu. Berjuang kembali artinya menikah yang tak sekadar ijab qabul. Pertanyaan itu datang dari seorang bapak asing yang entah kenapa mengusik hatinya.

Selepas surel itu, Sinta mengirim WA hanya untuk bertanya retorik, “Teh , harusnya si bapak nanya sambil kasih solusi ya? Kenalin kek sama cowok shalih gitu. Ya gak sih?”

Saya membalasnya dengan emotikon nyengir.

Surel ringan tapi bagi Sinta gak begitu.

Saya menutup aplikasi surel dengan rasa penasaran. Apakah Sinta akan bercerita kelanjutannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s