Sinyal Bos Gen Y Akan Memecatmu 

… Dan caranya melakukan tanpa sempat kamu bertanya mengapa.

Lebay? Drama? Apapun. Nyatanya dunia dipenuhi dengan aneka tipe bos Gen Y yang sebenarnya bisa kita pilih, mau berurusan dengannya atau tidak. Akhirnya, sinyal bos akan memecatmu pun dirasakan.

Ibarat mencari jodoh, saat mencari pekerjaan pasti sepaket dengan bos dan semua aturan mengikat di belakangnya. Kamu suka pekerjaannya, tapi ternyata ada hal yang membuatmu serba salah. Jarak rumah ke kantor yang super jauh, aturan dan job desc gak jelas, gaji gak sesuai harapan (dan ini dirasakan jutaan karyawan di luar sana), hingga…

gen y boss
bos gen y

Bos yang menyebalkan. Sangat.

Ini salah satu penyumbang masalah turn over tinggi di perusahaan. “Lu gak suka kerja di sini? Gih deh, sana keluar! Masih banyak yang butuh kerjaan.” Merasa punya kuasa, bos mengangkat alis dan menyeringai puas.

Kamu puas gak?

Dulu banget, sekitar tahun 2007, nemu artikel T&J di internet tentang mengapa sebuah perusahaan memiliki tingkat turn over karyawan sangat tinggi, padahal termasuk perusahaan bagus. Entah, bagus diukur dari mana.

Beberapa penyebab turn over karyawan tinggi misalnya:

  • Tidak ada tantangan lagi. Ya, jelas. Kreativitas akan kepentok dan karyawan menjadi bosan. Si karyawan bisa mencapai level yang ditargetkan bos. Kemudian apa lagi? Gak ada? Mending angkat kaki deh.
  • Gaji. Wah, ini lumayan klasik. Kapan terakhir gaji kamu dinaikkan bos?
  • Fasilitas. Minimal, tunjangan kesehatan dan hari raya. Segitu aja, udah seneng banget. Wi-Fi di kantor kuenceng kayak shinkansen? Makin suka, karena kerja bisa lebih efisien. Bener, kan?
  • Budaya organisasi. Struktur dan garis komandonya gimana, nih? Aturan di kantor dibuat seketat apa? Sesuai dengan UU No. 13 / 2003 gak, nih?
  • Penghargaan. Jika setelah si karyawan bisa mencapai achievement tertentu tapi gak ditanggepin sama bos, ya… Mending cari di luar deh, pihak yang bisa menghargai.
  • Karakter pemimpin. Nah! Ini! Apakah si bos memahami bahwa dia membawahi beberapa orang berbeda? Satu kepala, satu karakter. Ada 20 orang di bawah dia, berarti ada 20 ide, pendapat, kritik, protes, dan lainnya. Belum ditambah bahwa tingkat speed si bos dan karyawan bisa lumayan beda.

Itu kira-kira.

Gen Y terlahir dalam keadaan yang serba tersedia. Karakteristik gen Y antara lain: cepat bosan, penggunaan saluran komunikasi baru yang tinggi, level kepercayaan diri yang tinggi, open-minded dan bermental positif, dan mengusung self empowerment sebagai motivasi kerja. Gen Y mudah berpindah-pindah pekerjaan karena cepat bosan dan rentan terhadap tantangan yang tak disukainya.

Gen Y yang lahir tahun 1980-an hingga 1990-an tidak terlalu ambisius karena uang bukan satu-satunya motivator utama, tetapi tantangan yang sesuai dengan minatnya. Banyak Gen Y yang tidak cocok dengan situasi kompetisi di kantor. Gen Y juga suka menghabiskan waktu luang dengan teman dan keluarga. Mereka gusar jika waktu privatnya diganggu pekerjaan kantor. ~ Satya Radjasa ~

Masalahnya, bagaimana kalau ternyata bosmu sama-sama Gen Y? *kejengkang

Try to adapt  to the fact that your boss is still in their mid career. There is a lot of talent and drive that your Gen-Y boss holds and you can learn the same. Being flexible will help you easily understand the mindset.

What boss do you prefer?

Gitu, katanya.

gen y boss
deal with gen y boss

Gen Y begitu percaya diri ketika menjadi seorang pemimpi sekaligus pemimpin. Di antara mereka ada yang menjadi bos dengan bayang-bayang Gen X sehingga gaya bekerja pun 11-12 dengan pendahulunya, hanya bedanya teknologi membuat mereka lebih canggih.

Ada juga tipe, “Gue punya duit. Gue punya kerjaan buat siapa aja yang mau. Kalo gak suka gaya gue ngatur, jauh-jauh dari kantor gue.” Ada.

Gampang-gampang susah beradaptasi dengan bos dari Gen Y karena penuh kejutan. Beda dengan Gen X yang terstruktur, teratur, kaku, birokrasi sana-sini.

Nah, kembali ke tujuan penulisan post  ini. Seandainya bos mau pecat karyawan, gimana caranya?

Dulu, zaman Gen X (sampai sekarang, masih tersisa juga kayaknya) memimpin, jika hendak memecat karyawannya, kirim SP (surat peringatan) 1, 2, dan 3. Bertahap.

gen y boss
who’s your boss?

Sekarang? Bukan dikasih surat, tapi kode. Iya kali si karyawan bisa langsung ngeh dikasih kode bahwa dia dipecat. Misalnya begini :

“Eh, di kantor temen gue ada lowongan jadi desain grafis. Lu coba deh ngelamar ke sana.” <– pusing gak sih, kalo dikasih tawaran begini. Maksudnya apa? Sebelum kamu sadar, sekitar seminggu kemudian dia akan bilang, “Gaji bulan ini gak ditransfer bagian payroll. Lu ambil langsung pake amplop sama finance ya. Good luck di tempat kerja baru.” Bengong? Takjub? Shock? Pernah mengalami hal mirip begini?

Atau,

Tanpa ada angin, petir, badai, atau banjir bandang, tetiba bos mengeluarkanmu dari grup Whatsapp, Skype, forum diskusi internal lainnya. Tak ada ba-bi-bu dan tanpa alasan jelas. Tanpa ada kata maaf sama sekali. Akhirnya terpaksa kamu tanya pada rekan satu tim, “Bos kenapa ngeluarin gue dari grup? Gue ditendang?” Udah yakin temenmu pasti bingung jawabnya gimana dan hanya bersuara, “Kayaknya iya.”

Atau,

“Mulai besok kamu kerjanya dari rumah aja. Remote. Urusan desain kan bisa ya, via e-mail aja nanti laporannya.” Seminggu kemudian, alih-alih memanggil ke kantor, disuruh baca surat perpanjangan kontrak mendadak. Padahal belum waktunya.

Atau,

“Hendra, mulai minggu depan, kamu dirumahkan.” Tapi tak ada penjelasan lain. Hanya kalimat singkat yang mudah diprotes, di-kick balik, dan artinya masih mendapatkan gaji. Sebulan, dua bulan, tiga bulan… Tak ada kabar. Kamu dipecat seperti kucing buduk yang dibuang ke TPA.

Cukup lah segitu aja contohnya. Masih banyak contoh lain, perlakuan bos semena-mena, menganggap karyawannya salah tapi tak diberitahu di mana letak kesalahannya.

Bos yang berpikir, “Gue masih bisa cari karyawan yang lebih baik dari lu,” dan ketika kamu mencari tahu lebih jauh, ternyata turn over karyawan di sana terhitung tinggi. Salah satunya karena si bos merasa speed dia gak bisa diimbangi oleh si karyawan. Tapi justru tak memberi kesempatan si karyawan untuk membuktikan bahwa dia mampu.

Bos yang merasa bahwa jika dia menemukan satu karyawan kesayangan, maka dia bisa berharap sisa karyawan yang lain bisa sama menyenangkan dan gaya kerjanya bisa seragam semua. Ngarep jadi robot semua, kayaknya.

Jika bosmu si Gen Y adalah temanmu sendiri, mungkin dia harus membaca cara memecat teman tanpa mengorbankan pertemanan.

Kamu sudah siap dipecat? Siapa tahu, di kantor baru nanti lebih beruntung atau… Ini jalan menuju dunia wirausaha?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s