Antara Idealisme, Realita, Dan Tuntutan Hidup Era Digital

Semua bisa menjadi lebih mudah dengan teknologi. Namun, semua juga bisa menjadi kiamat kecil. Saya, terkadang menyebutnya kutukan.

hidup era digital
digital life

Perkembangan zaman selalu meminta korban. Tampak mengerikan? Ya. Minimal bagi saya. Di balik setiap kemudahan teknologi, ada frasa “gaptek” yang menghantui.

Gagap teknologi yang kemudian disingkat menjadi “gaptek” ini berlaku bagi generasi yang sebelumnya tak tersentuh kecanggihan aneka alat baru di masa setelahnya.  Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan perangkat teknologi modern. Biasanya, frasa ini berlaku untuk perangkat komputer. Meski sekarang bisa meluas lagi kepada pengunaan gawai semacam ponsel pintar (yang ironisnya masih tidak bisa digunakan secara maksimal oleh beberapa pengguna), tablet, dan phablet. Oh ya, dulu urusan menggunakan mesin faksimili juga sempat menjadi masalah bagi saya. 😁 

Sebelum penggunaan ponsel menjadi jamak seperti sekarang (saking mahal harganya dan berat bobotnya), dulu ada pager yang digunakan hanya untuk mengirimkan dan menerima pesan melalui bantuan operator. Kini, mengirim pesan semakin mudah.

Dulu, jam malam berlaku hampir di semua rumah. Tidak menerima telepon di atas pukul 9 malam atau harus matikan komputer pukul 8 malam. Kini? Pukul 2 dini hari pun kamu masih bisa cekikikan sendirian. Iya, sendirian. Soalnya yang diajak ketawa ketiwi bisa berjarak 500 kilometer entah di mana. Ye kan?

Bukannya itu enak? Untuk saya, awalnya iya enak. Lama-lama kok merasa terjajah dengan kecanggihan teknologi? 10 tahun terakhir, saya bisa begadang demi paket data melimpah dan super cepat dari beberapa provider telko dan tidur setelah subuh. Efeknya? Perlahan tapi pasti, pencernaan saya sakit. Sekarang, saya mematikan laptop maksimal pukul 10 malam dan dibuka lagi paling awal pukul 7 pagi. Ponsel saya matikan pukul 11 malam paling lambat. Bolehlah dikepoin pada pukul 3 pagi saat bangun untuk tahajjud. Itu juga kalau gak ketiduran.😅

Saya ingin mengembalikan kesehatan tubuh meski mungkin tidak bisa 100% seperti semula. Setidaknya, ogah untuk terus bergantung pada ponsel dan laptop.

Pernah membaca twit menghebohkan, “Internet cepat untuk apa?” Sometimes saya jengkel ketika mengingat pertanyaan ini. Saya meringis dan menjawab dalam hati, “Untuk bekerja, Pak. Pekerjaan saya saat ini 100% lewat internet, Pak.”😶

digital work
digital work

Ngobrolin soal pekerjaan era digital, tentunya beberapa orang sudah paham mengapa ada lowongan semacam content writer, online marketer, website illustrator, social media admin, dan digital researcher. Tampaknya keren, tapi persaingan di dunia maya tampak lebih sadis tinimbang perebutan kursi PNS. Eh, saya lebay, ya?😛

Ditambah lagi, pekerjaan semacam di atas itu bisa dikerjakan secara lepasan alias para pekerjanya adalah freelancer. Sebuah profesi anti kemapanan. *tsaaaaahhh *dikepruk

Karena pekerjaan digital sedikit banyak berbeda dengan pekerjaan macam clerk (white-collar worker) 15-20 tahun lalu.😎

Idealnya sih, kerja di zaman sekarang, dari kamar tidur atau dari meja makan di kafe juga jadi. Santai. Bahkan, workspace / co-working space saat ini sudah menjamur di beberapa kota besar semacam Jakarta, Bandung, dan juga di pulau Bali.

Realitanya, untuk bisa duduk manis di workspace / co-working space pada jam kerja (yang bisa disewa per bulan atau per tahun, sendirian atau patungan dengan beberapa teman), tentunya mengeluarkan cost yang bisa jadi lebih mahal daripada kerja kantoran biasa. You know, harga makanan dan minuman a la cafe itu gak semurah makan di warteg sebelah kantor karyawan, kan?

Tuntutan hidup di era 4G? Banyak! Kata siapa? Kata orang yang gak mau ketinggalan zaman, tentu saja. Contoh, saat spek ponsel hanya 512MB, semua orang tampak biasa saja. Merasa cukup dan puas. Ketika ditawarkan spek 1GB, kok tetiba merasa butuh ya? Itu benar butuh atau hanya ingin? Nah, sekarang ada spek 6GB. *hening sampai Imlek 2060. 😶

Tengok sedikit ke perkampungan, rasanya hidup dengan TV tabung itu sudah cukup. Tapi, lagi-lagi, teknologi nirkabel sekarang bisa menjangkau jaringan internet hingga ke pelosok. Ponsel semakin jamak digunakan oleh petani. Pernah lho, saya melihat dari keretaapi, seorang petani sedang tertawa sambil menggenggam ponsel kala istirahat di pinggir sawah.

Pasti berguna, misal kecepatan informasi mengenai harga gabah dan pupuk di pasar itu berapa? Tetapi, apakah mereka mengakses Snapchat, Periscope, atau Reddit? Someday, mungkin. Canggih ya? Iya.

Pernah menonton film The Internship, tentang magang di kantornya Google? Bagaimana tugas akhir para peserta magang adalah mengenalkan fasilitas Google kepada masyarakat. Hingga akhirnya, seorang pemilik kedai pizza, yang tadinya enggan melebarkan sayapnya, justru mengembangkan sistem franchise setelah melihat kecanggihan Google dalam membantu bisnisnya.

Tetapi selalu ada yang harus dikorbankan…

Pengeluaran tambahan untuk pulsa, paket data, tagihan listrik merambat naik, dan beberapa penyakit mengintai. Syaraf dan otot mudah lelah, mata mendapati minus atau plus, dan terutama – bagi saya yes, gatau Mas Anang- selalu merasa diburu waktu.

Rasanya bekerja 5 hari seminggu belum cukup. Bagi para freelancer, Sabtu dan Minggu adalah hari kerja. Bahkan, klien tak segan untuk menghubungi di waktu pacaran saat antri tiket di bioskop. Ehe.😌

Oh ya, kembali soal gaptek. Saat ini pun saya harus, mau gak mau, belajar tentang Google Analytic. Hal-hal yang berkaitan dengan data, merupakan titik kelemahan saya. Menyerah? Gak dong, kan demi meningkatkan kapabilitas. Tsah! Meski hanya sebatas bagian basic, ini adalah modal. Entah kapan, suatu saat, rasanya akan berguna.

Jadi, menurutmu, teknologi itu setan atau malaikat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s