Teknologi, Mematikan Dan Menghidupkan

Saya merasa semakin gelisah dengan teknologi nan semakin canggih. Entah karena tren pekerjaan daring yang bisa diakses 24 jam atau karena semakin minimnya pertemuan dengan orang-orang (plus semakin sedikit bergerak) membuat kejenuhan itu bagai gunung es.

Baru saja membaca artikel “3 Days Weekend and 4 Days Work Week” membuat saya mengamini jika aturan ini diterapkan di Indonesia. Meski, hal ini tentu saja tidak berlaku bagi freelancer macam saya yang bekerja tergantung pada proyek. Hahahaha…. *kemudian hening sampai lebaran 2050.

Pekerjaan zaman sekarang banyak yang bisa dikerjakan 100% secara daring, persis apa yang saya lakukan. Hal ini bagus untuk kondisi single fighter yang sulit berjauhan dengan anak, apalagi jauh pula dari sanak saudara dan sahabat. Akhirnya, kebutuhan sosial saya seimbangkan dengan ikut beberapa komunitas, demi menjaga kewarasan.

Turun langsung menjadi relawan komunitas membuat saya seperti ketika internet belum menguasai kehidupan dan bahkan saldo rekening saya. Bertemu muka, berpegangan tangan, berpelukan, berbagi cerita, menggerakkan seluruh anggota tubuh benar-benar mengasyikkan.

Internet memang memudahkan. Teknologi menghidupkan segala ketidakmungkinan yang pernah terlintas atau bahkan mungkin tak pernah terpikirkan. Membayar tagihan listrik hanya dengan jempol menekan angka pada token. Memesan tiket kereta api tak perlu lagi sampai menginap di stasiun. Bahkan, berhubungan dengan para pejabat, semudah berkomunikasi dengan teman. Ada media sosial, yang memang ditujukan untuk berinteraksi secara maya.

Tapi… Bagi saya, teknologi pun mematikan. Saya tenggelam dalam pekerjaan depan layar sampai kelelahan hingga untuk pergi keluar rumah pun sudah malas rasanya. Oh, mungkin saya sedang denial karena masih banyak yang tidak seperti saya.

digital generation
digital generation

Ketika dulu bersosialisasi bisa dibela-belain dengan, “Gue pasti dateng!” dan pertemuan tanpa ponsel atau gawai lain membuatnya penuh arti. Kini, rasanya sudah amat sangat beruntung bila bisa bertemu. “Akhirnya bisa ketemuan yaaaaa…” Padahal jarak antara Klender dan Gambir bisa diakali dengan teknologi macam Go-Jek, Uber, Grab, dan entah apa lagi. Tapi, lagi-lagi, atas nama kesibukan, sulitnya merencanakan pertemuan itu luar biasa melelahkan.

Apakah ini ada kaitannya juga dengan income yang tak seberapa? Kebutuhan hidup semakin mahal harganya. Padahal mungkin apa yang dikonsumsi di rumah selama berpuluh-puluh tahun itu sama : mi instan, telor ceplok, nasi goreng, sayur asem, martabak manis… Tapi harganya sudah selangit untuk saat ini. Akhirnya, alokasi dana untuk nongki-nongki bareng teman pun terasa sulit diadakan. Itu masih belum ditambah, ada pengeluaran lain saat ini : BIAYA PULSA + DATA INTERNET. Apapun bentuknya : paket modem, router, sampai wifi. Menjadi kebutuhan yang terkadang melebihi pentingnya membeli beras.

Dulu, bekerja hanya Senin – Jumat. Kalau ada pekerjaan tambahan, bos akan bilang di hari Jumat sore, “Ya sudah, hari Senin kerjakan.” Sekarang? “Sabtu siang saya butuh laporan.” Bahkan ada prasyarat lowongan kerja begini : Standby on-call for emergency issue, 7 days a week <— matilah!

Seolah, meningkatnya kebutuhan di era serba digital begini harus dipenuhi 24 jam tanpa henti. Hingga, penyakit modern pun bermunculan. Dulu kala, chicken pox atau cacar air sudah sangat mematikan dan dilabeli wabah luar biasa. Sekarang? Diabetes dan jantung koroner seperti sudah jamak menghantui pekerja digital.

Kecepatan informasi membuat banyak orang menjadi merasa tergesa. Perubahan perilaku pun dirasakan tak lagi bisa santai. Akhirnya, kemacetan di jalan bisa membuat stres meningkat. “Di mana?” “Sudah sampai mana?” “Berapa lama sampai lokasi?” <— ini semacam teror untuk saya (dan ironisnya juga sometimes saya lakukan kepada orang lain saat janjian). Dulu janjian sehari sebelumnya via telepon juga sudah beres. Jalan ke lokasi pertemuan pun tak senewen meski terjebak macet.

Teknologi sudah mematikan sebagian impian saya kala kecil dulu. Saya pikir, dengan kemudahan segala kecanggihan teknologi, saya bisa menjadi lebih santai dan manusiawi. Nyatanya? Gak juga. Ternyata, kecanggihan teknologi membuat saya ingin berbuat lebih banyak. Padahal, manusia diciptakan terbatas kekuatannya. Saya bukan Wonder Woman  atau Superwoman yang bisa melakukan segala hal dalam satu waktu.

Bahkan, sahabat saya, Herry, juga pernah menulis, “Multitasking sebenarnya berbahaya, bukannya terlihat keren, An.” Sekarang saya menyadarinya. Kelemahan saya jika terdistraksi pun memperparah kebiasaan multitasking itu.

Sekarang, saya merasa ingin hidup di zamannya Robin Hood. Tenang, damai, dan segala kebutuhan hidup pun dipenuhi dari bertani dan berdagang di pasar. Hidup duniawi hanya dari selepas subuh hingga maghrib. Isya sampai subuh waktunya untuk Tuhan. Selesai. Iya, saya lagi lebay. Abaikan.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s