Jangan Melihat Masa Lalu Seseorang

… Karena manusia berubah. Terus berubah. Selalu berubah.

“Kamu gak berubah. Tetap seperti dulu.” Bagi saya, ini kalimat basa basi.

“Weits, berubah lu sekarang! Kok bisa? Cerita dong!” Ini komentar tulus. Meski diselingi dengan canda, tetapi kalimatnya jujur dan lebih menyenangkan di telinga.

Saya menyadarinya ketika bertemu teman-teman lama. Teman saat sama-sama berjuang belajar di sekolah menengah di Cirebon.

Beberapa teman berubah drastis, sisanya hanya mengalami sedikit perubahan. At least, physically. Tetapi secara psikis, saya tidak tahu. Entah perubahan macam apa yang mereka alami hingga bisa seperti seperti sekarang. 

Ada yang menjadi pejabat, tentara, arsitek, pengusaha, kontraktor. Well, secara kasat mata, perubahan ini menarik. Terutama yang terjadi pada beberapa orang. 

Di sekolah, ada teman saya yang selalu dipandang sebelah mata dan tampak madesu (masa depan suram). Nyatanya, saat ini dia sukses berdiri di atas kaki sendiri, bukan jadi karyawan. Ini keren. 

Teman saya yang lain, saat sekolah sebagai cowok keren. Saya pikir dia akan sukses dalam bidang yang dia suka. Nyatanya, nope. Saya terdiam. 

Hidup ini keras. Kisah-kisah yang terlontar dari mereka atau teman yang tahu mereka, membuat saya tercenung. Ke mana saya selama ini? 

Salah satu teman baik saya sejak SMP, Upay, berkata, “Jangan melihat seseorang dari masa lalunya, An. Lihat dia sekarang seperti apa. Kalo lu liat gue sekarang kayak bayangan lu terhadap gue zaman sekolah, lu salah. Orang pasti berubah.”

Teman saya yang lain, Ridwan, menyambar,”Iya, kita haruslah jadi manusia dewasa.”

Saya mengamini. Manusia pasti menjadi tua dan melemah secara fisik. Tapi pengalaman hidup akan memberi pilihan padanya, menjadi bijaksana atau semakin kekanakan? 

Ketika Upay berkata, “An, coba lu ubah deh gaya judes dan galak lu. Gimana cowok mau deketin elu? Ya elunya galak begitu. Jangankan cowok, cewek aja segan deket ama elu.” Saya protes. Ya gak bisa, dong! Itu udah alamiah. Mau diubah gimana? Bawaan lahir. Kecuali diminta mencoba lebih sabar, itu bisa. 

Tampaknya, teman-teman sekolah masih melihat saya yang mereka kenal dulu sebagai cewek kaku, kuper, cuek, galak, dan kesepian. (Oh, untuk kesepian masih sama sih. 😅) Ah, karakter ekstrovert ternyata tak banyak membantu. Suram,  no? Meski saya banyak tertawa, sejatinya ada yang basah di hati. 

Masa lalu seseorang menentukan akan jadi apa di masa depan. Bukan masa lalunya, tetapi prosesnya. Di tengah jalan, bisa jadi dia bertemu jurang dalam, jalan berliku, jembatan putus, dan bahkan tersesat. 

Saya termasuk orang yang menutup diri dari masa lalu. Apa yang terjadi di sana, tinggalkan di sana. Jangan pernah dibawa karena akan menjadi beban. Saya pelupa. Di saat tertentu, kelemahan sebagai pelupa dan ingatan pendek ini berguna. Saya tak perlu repot mengingat sebuah kejadian atau peristiwa. 

Saya tak bisa menyalahkan mereka yang tak rindu bahkan tak ingat pada saya. “Diana mana ya? An-an yang mana sih?” Because I was nothing and always be nothing. Saya masih bisa merasakan keengganan mereka untuk lebih santai menghadapi saya. 

Besides, mereka gak tahu saya bipolar. Dulu pun saya tak tahu. Sekarang saya tahu dan mereka tetap tidak tahu. Saya juga ogah memberi tahu mereka. Kenapa? Saya membiarkan mereka mengenang saya yang “normal tapi ngeselin”. Bukan saya yang punya masalah dengan kepribadian.🙂

Saya berubah. Teman-teman juga berubah. Bagaimana pun, saya beruntung telah menjalani skenario Allah dengan baik dan banyak angka merah pada rapor kehidupan. 

Am blessed. Am happy. That’s all I need. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s